Berita Banda Aceh

Hermansyah, Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Bahas Tamadun Alam Melayu di Malaysia

Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) mengadakan seminar aksara, naskah dan tamadun alam melayu di Auditorium Aras 2, Anjung Bestari, Malaysia...

Hermansyah, Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Bahas Tamadun Alam Melayu di Malaysia
SERAMBINEWS.COM/MASRIZAL
Hermansyah, Dosen UIN Ar-Raniry. 

Hermansyah, Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Bahas Tamadun Alam Melayu di Malaysia

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBIMEWS.COM, BANDA ACEH - Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) mengadakan seminar aksara, naskah dan tamadun alam melayu di Auditorium Aras 2, Anjung Bestari, Malaysia, selama tiga hari dari tanggal 15-17 Oktober 2019.

Pada acara yang disertai dengan pameran manuskrip dan buku-buku penting itu tampil salah satu pembucara, Hermansyah, Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.

Acara itu dihadiri oleh berbagai ilmuwan dan peneliti dari berbagai negara.  "Seminar ini untuk memperkuat kembali tulisan Jawi atau tulisan-tulisan daerah dan juga naskah kuno sebagai warisan leluhur yang harus dikembangkan dalam berbagai bentuk sesuai dengan zamannya," katanya kepada Serambinews.com.

Kerap Pamer Kemesaraan di Facebook, Wanita Ini Malah Jadi Korban Pembunuhan Sadis Suaminya

Menurut Hermansyah, saat ini lebih dari 300 juta orang berbahasa Melayu, namun tidak sampai 20% dari jumlah tersebut menggunakan tulisan Arab-Jawi. Tulisan Jawi, kata Hermansyah, pernah memajukan bangsa-bangsa di negeri Alam Melayu setara dengan bangsa-bangsa Eropa.

"Perkembangan naskah dan tulisan Jawi di Aceh terjadi pada era kesultanan Aceh abad 16-18. Semua surat-surat Sultan Aceh yang dikirim ke Eropa menggunakan aksara/tulisan Jawi dengan bahasa Melayu, bukan tulisan latin," ujar dia.

Hal tersebut menunjukkan bahasa Melayu adalah bahasa Internasional dan sekaligus membuktikan kerajaan Aceh satu bangsa yang setara dengan bangsa-bangsa Eropa.

Bahkan pada abad ke-18 di Aceh, lanjut dia, bahasa dan tulisan Jawi menjadi salah satu syarat hukum bagi qadhi (hakim) dan jadi pertimbangan hukuman bagi pelanggar.

CPNS 2019 Segera Dibuka: Hati-hati Penipuan yang Beredar, Ini Link Latihan Tes SKD dari BKN

"Sayangnya pada saat ini, semua bangsa dan etnis yang ada di Melayu dan Indonesia tidak lagi menggunakan tulisan Jawi, termasuk di Aceh," kata Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.

Aceh dengan keistimewaannya yang dimiliki belum mengembangkan tulisan Jawi. Padahal, semangat tersebut sudah tercantum dalam semangat kekhususan Aceh, yang kini hanya muncul tulisan Arab-Jawi di pamplet intansi-intansi pemerintah sebagai simbol belaka.

"Seminar ini dilaksanakan untuk mempertahankan tulisan dan bahasa daerah sebagai identitas, dan bahasa Melayu dengan aksara Jawi sebagai bahasa lingua franca dan identitas Islam," pungkasnya.(*)

Disebut-sebut Masuk Bursa Calon Menteri di Kabinet Jokowi, Ini Daftar Kekayaan Fadli Zon

Lagi, Anggota TNI Kena Imbas Karena Ulah Istri, Penusukan Wiranto Dikaitkan dengan Drama Korea

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved