Berita Aceh Utara
Teliti Batu Nisan Kerajaan Samudera Pase, MAA Aceh Utara Terbitkan Buku Pedoman Ornamen
Hasil penelitian terhadap batu nisam di Makam Kerajaan Samudera Pase yang berada di empat desa dalam Kecamatan Samudera, Aceh Utara
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Hasil penelitian terhadap batu nisam di Makam Kerajaan Samudera Pase yang berada di empat desa dalam Kecamatan Samudera, Aceh Utara
Laporan Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Utara sudah berhasil menerbitkan buku pedoman ornamen (hiasan dalam arsitektur) dari hasil penelitian terhadap batu nisam di Makam Kerajaan Samudera Pase yang berada di empat desa dalam Kecamatan Samudera, Aceh Utara.
Masing-masing, di Desa Beuringen, Kuta Krueng, Desa Meucat dan batu nisan makam 44. “Jadi yang diteliti pada nisan tersebut ciri khas ornamen Samudra Pase, kemudian perbedaan ornamen Samudra Pase dengan ornamen lain dan bagaimana pengembangan,” ujar penyunting buku tersebut Hamdani MH kepada Serambinews.com, Senin (28/10/2019).
• Kenakan Kupiah Meukeutop, Plt Gubernur Aceh Jadi Inspektur Upacara Hari Sumpah Pemuda
• Video - Antarkan Sejumlah Bantuan, Dewan Minta Dinas Sosial Dampingi Korban Kebakaran di Aceh Utara
• Dengar Tangisan di Makam, Warga Histeris Lihat Pria Berwajah Pucat Keluar dari Kuburan
Disebutkan, Tekhnik pengumpulan data penelitian dengan cara melihat, mengamati dan membaca secara langsung dan teliti terhadap bentuk, ukiran dan pembacaan tulisan yang terdapat pada batu nisan.
“Dari hasil penelitian tahap pertama ini ditemukan empat ornamen khas Aceh Utara sebagaimana yang dimiliki oleh batu nisan di ketiga komplek makam tersebut,” ujar Hamdani.
Diantaranya kata Hamdani, ditemukan simbol kande yang melambangkan sebagai ulama atau da’i penerang dalam kegelapan, yaitu suluh yang diberikan oleh para ulama kepada rakyat.
Kemudian pada tahap Kedua kata Hamdani, ditemukan bungong kalimah, yaitu tulisan-tulisan kaligrafi dalam bahasa Arab yang melambangkan ketauhidan dan tasauf.
Lalu tahap ketiga simbol geometrik, yaitu likuk-likuk rangkaian gambar seperti segitiga, segi empat dan sebagainya. Tahap ke empat simbol bungong, yaitu ukiran-ukiran yang terdapat di batu nisan menggambarkan sebuah pohon yang utuh.
“Saat ini hasil penilitian tim MAA Aceh Utara tersebut sudah kita bukukan dengan judul ‘Buku Pedoman Ornamen Aceh Utara” sebagai peninggalan indatu,” ujar Hamdani.
Buku ini pertama sekali diterbitkan pada tahun 2017, selanjutnya pada tahun 2019 ini buku tersebut dicetak untuk kedua kalinya.
Pencetakan dan penggadaan buku ini terselenggara atas kerjasama MAA Kabupaten Aceh Utara dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dan Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Keuangan Aceh (LPEKA). Pada cetakan kedua ini sudah dilakukan revisi dan penyempurnaan sehingga ada penambahan dan perbaikannya.
Diharapkan dengan kehadiran buku ini dapat memberikan ispirasi bagi para pengrajin ukiran di Aceh Utara khususnya, dan Aceh pada umumnya, untuk terus mengembangkan penggunaan khazanah ornamen samudera pase dalam ukiran-ukiran kayu yang mereka buat.
Selanjutnya bagi dunia pendidikan lanjut Hamdani, dapat menjadikan buku tersebut i sabagai bahan referensi dalam mata pelajaran sejarah dan kebudayaan Islam yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Selain itu menjadi pedoman bagi pemerintah daerah, BUMN, BUMD, Pemkim, lembaga lainnya dan masyarakat dalam membangun bangunan di Aceh Utara khususnya supaya menjadikan buku ini sebagai rujukan penting.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/buku-hasil-penelitian-maa-aceh-utara.jpg)