Pin Anggota DPRA Dua Mayam Emas, Anggarannya Capai Rp 582 Juta  

Sebanyak 81 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2019-2024 akan mendapat pin emas (emblem lambang Aceh)

Pin Anggota DPRA Dua Mayam Emas, Anggarannya Capai Rp 582 Juta   
IST
Suhaimi SH MH

BANDA ACEH – Sebanyak 81 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) periode 2019-2024 akan mendapat pin emas (emblem lambang Aceh) seberat 6,6 gram atau setara dua mayam emas 22 karat sebagai tanda pengenal anggota dewan.

Sekretaris Dewan (Sekwan), Suhaimi SH MH kepada Serambi, Senin (4/11) mengatakan pihaknya saat ini sedang melakukan pengadaan emblem anggota dan pimpinan DPRA. Total anggaran yang dikucurkan untuk emblem itu Rp 582.090.300 dari APBA 2019.

Saat ini pengadaan 81 pin emas yang penggunaannya disematkan pada baju di bagian didada tersebut sedang dalam proses pelelangan melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Aceh.

Dari informasi yang ditayang di website LPSE Provinsi Aceh, ada 53 perususahaan yang mengikuti lelang tersebut. Nama barang yang dilelang adalah 'pengadaan emblem lambang Aceh pimpinan dan anggota DPRA'.

Sekwan, Suhaimi mengatakan anggaran untuk pengadaan pin emas anggota dan pimpinan DPRA tersebut tidaklah besar. Dia menjelaskan, setiap anggota DPRA akan mendapat satu pin emas dengan berat 6,6 gram atau setara dua mayam emas.

"Itu sudah diatur dalam Pergub Nomor 75 tahun 2017 tentang pelaksanaan hak keuangan dan administratif pimpinan DPRA dan anggota bahwa emblem itu 6,6 gram (untuk satu anggota DPRA)," jelasnya menjawab Serambi.

Pengadaan tersebut, kata Suhaimi, hanya dilakukan sekali dalam satu periodesasi DPRA. "Pengadaannya untuk satu periode, berarti untuk lima tahun sekali pengadaan emblem," jelas Sekwan, Suhaimi.

Koordinator Gerakan Antikorupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani menilai, pengalokasian anggaran sebesar Rp 582 juta untuk pengadaan pin emas anggota dan pimpinan DPRA tersebut terlalu besar dan tidak rasional.

Askhalani menyebutkan, saat ini harga emas murni Rp 2.150.000 permayam (3,3 gram). Jika dua mayam harganya Rp.4.300.000 dan saat dikalikan dengan 81 anggota DPRA, maka dana yang harus dikeluarkan hanya Rp 348.300.000.

“Kalau ini sudah di luar batas anggaran. Dapat diduga pengadaan ini melanggar Pergub atau jangan-jangan memang Pergub untuk pembelian emblem anggota DPRA yang sangat tinggi angkanya,” kata Askhalani menjawab Serambi.

Menurut Askhalani, harga pengadaan emblem itu terlalu tinggi dan tidak rasional. Kalaupun masing-masing anggota DPRA mendapat dua emblem atau pin emas di luar baju dinas, maka anggaran yang harus dikeluarkan juga tidak sebesar itu.

“Kalau memang pengadaan ini bermasalah, maka program ini harus di stop dan tidak boleh dilanjutkan, ini berhubungan dengan etika anggaran karena saat ini masih tinggi kebutuhan untuk pembangunan rumah duafa dan lain-lain,” ujar dia.

Dia berharap, anggota DPRA baru memiliki naluri kemanusiaan yang tinggi. Emblem itu, kata dia, tidak penting-penting sekali dan dia memastikan anggota DPRA tidak selalu memakainya saat berada di luar gedung parlemen.(mas) 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved