Cerita Dibalik Rimbun Batang Kopi
Petani Kopi di Dataran Tinggi Gayo Sedang Bersukacita
Para petani kopi di Dataran Tinggi Gayo sedang bersuka cita. Mereka mulai memasuki masa panen kopi arabika Gayo
Para petani kopi di Dataran Tinggi Gayo sedang bersuka cita. Mereka mulai memasuki masa panen kopi arabika Gayo. Tak hanya petani dan pemilik lahan yang diuntungkan, merahnya buah kopi pertanda terbukanya lapangan kerja. Ketika panen raya tiba, para pengusaha, serta eksportir kopi juga membutuhkan tenaga tambahan.
Pagi itu, cuaca pagi Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, cukup cerah. Cahaya matahari yang menembus pepohonan rindang membentuk rol hingga sinarnya menerpa rerumputan. Embun pagi yang menempel di rindangnya daun kopi perlahan menguap ke udara.
Cahaya matahari yang semakin meninggi, mengiringi langkah sosok perempuan tua melintas di antara rimbunan batang kopi di kawasan Kampung Bur Biah, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah. Cuitan burung liar yang terbang diantara pohon, seakan menjadi musik penghibur di pagi hari.
Sosok perempuan itu, tidak muda lagi. Wajahnya telah dibalut keriput, namun langkahnya tak gontai melintasi rerumputan yang baru saja kering dari embun pagi. Di bahunya, tersandang tas yang terbuat dari karung bekas. Sejak pagi, ia telah berputar-putar di antara rimbunnya batang kopi.
Kurang satu jam, tas yang disandangnya telah penuh dengan buah merah. Untuk mengurangi beban, tas yang telah terisi biji kopi, ia pindahkan ke dalam karung lain yang disiapkan di pojok kebun kopi. Setelah tas yang disandangnya kosong, ia kembali melanjutkan aktifitasnya.
Perempuan tua ini, adalah Sakdiah, warga Kampung Bur Biah, Kecamatan Bebesen. Sudah lebih 10 tahun, ia berprofesi sebagai buruh mengutip kopi. Bukannya tidak punya kebun sendiri, tetapi Sakdiah mencari tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Meski jari jemarinya tampak tak kokoh lagi, namun masih lincah memetik buah-buah merah yang ada di ranting-ranting batang kopi. Sesekali, Sakdiah menyibak rimbunan daun kopi untuk mencari buah merah.
Rambutnya yang sudah berwarna perak mengintip dari balik jilbab, menandakan bahwa Sakdiah sudah tidak muda lagi. Meski disambangi ketika sedang bekerja, Sakdiah, menerima kehadiran Serambinews.com, dengan sikap serta kata-kata yang penuh keramahan.
Seperti kebanyakan orang Gayo, ramah atau open dengan siapapun yang datang, meskipun baru dikenal. “Dari mana kita Win (Win adalah sebutan untuk anak laki-laki di Gayo),” tanya Sakdiah kepada Serambinews.com yang menyambanginya di salah satu kebun kopi warga di Kampung Bur Biah, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Rabu (6/11/2019).
Sembari bekerja, Sakdiah meladeni pertanyaan yang dilontarkan kepadanya seputar profesinya sebagai buruh kutip kopi. Dari hasil buruh kutip kopi, cukup membantu kehidupan Sakdiah dan keluarga. “Inno !!! Win, saya sudah lama bekerja mengutip kopi. Dari kerja ini, saya pakai untuk beli beras, dan untuk biaya sekolah anak,” tutur Sakdiah.
Biasa, Sakdiah ditemani sekitar empat orang rekannya untuk mangan ongkosen (cari upahan) memetik kopi di kebun-kebun warga. Namun pada hari itu, Sakdiah hanya ditemani oleh seorang anak laki-lakinya karena pekerjaan mengutip kopi sudah hampir rampung. “Sudah beberapa hari kami mengutip di sini. Tapi hari ini, sudah hampir selesai. Makanya tinggal berdua saja,” ungkapnya.
Sakdiah menceritakan, pada saat panen raya, untuk satu kebun warga bisa menghasilkan kutipan sekittar 30 hingga 40 kaleng. Bahkan, jika kondisi buah kopi banyak hasil yang didapat bisa lebih. “Untuk upah mengutip kopi seperti ini, biasa satu kaleng kami dibayar Rp 25 ribu. Kalikan saja, kalau dapat 40 kaleng satu kebun sekali musim,” akunya.
Sosok Sakdiah, merupakan gambaran dari rezeki yang ditimbulkan oleh panen raya kopi arabika Gayo. Keberadaan panen buah kopi, memberikan dampak positif bagi warga lain yang tidak memiliki kebun kopi. Itu, artinya panen kopi memberikan peluang lapangan kerja bagi mereka yang tidak memiliki lahan kebun kopi.
Di sudut lain, puluhan perempuan duduk berjajar di dalam ruangan yang tampak seperti gudang. Di hadapan mereka, membumbung tumpukan kopi arabika yang telah digiling menjadi kopi hijau. Sembari bercengkrama membahas hal penting hingga tak penting, jari jemari mereka terlihat lincah menari-menari diantara tumpukan kopi.
Sesekali, terdengar suara tawa dan canda. Meski begitu, para perempuan ini, harus tetap fokus memilah dan memilih biji kopi. Memisahkan biji cacat untuk menghasilkan kopi arabika berkualitas baik. Sembari mata fokus ke tumpukan biji kopi, beberapa wanita ini, sesekali menoleh ke arah luar ruangan yang hanya dibatasi jaring-jaring kawat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/para-pekerja-di-salah-satu-koperasi-di-kota-takengon.jpg)