Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh

Melawan Lupa, Membangun Siaga

Nova Iriansyah menyebutkan, tahun berganti tahun, peristiwa Tsunami pada 26 Desember akan terus dikenang

Melawan Lupa, Membangun Siaga
Serambinews.com
Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh, Melawan Lupa Membangun Siaga, Pidie Convention Center, Sigli, Kamis 26 Desember 2019. 

KAMIS, 26 Desember 2019 atau tepatnya 29 Rabiul Akhir 1441 H akan menjadi tahun ke-15 peristiwa kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi pada abad modern ini, yaitu gempa berkekuatan 9.2 Skala Richter dan gelombang Tsunami yang pernah melanda kawasan pesisir pantai Aceh dan beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang telah menimbulkan jumlah korban jiwa yang relatif besar, kehilangan harta benda dan kehancuran sarana prasarana yang bersifat masif serta trauma masyarakat yang sungguh mendalam.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menyebutkan, tahun berganti tahun, peristiwa Tsunami pada 26 Desember akan terus dikenang dalam bentuk peringatan dengan berbagai aktivitas yang bersifat tafakur dan tasyakur, tidak hanya melibatkan Pemerintah dan masyarakat, tapi juga mereka yang langsung mengalami bencana tersebut, khususnya korban Tsunami.

“Tentu saja, peringatan yang dilakukan pada setiap 26 Desember tidaklah hanya mengenang kejadian bencana gempa dan Tsunami yang pernah terjadi pada tanggal tersebut saja, melainkan juga menjadi media penting untuk selalu mengenang kembali setiap kejadian bencana lainnya yang pernah menimpa Aceh, seperti gempa dataran tinggi Gayo Selasa 2 Juli 2013, gempa di Pidie Jaya Rabu 7 Desember 2016, dan bencana-bencana mematikan lainnya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita, baik yang terjadi di tanah air, maupun di luar negeri, termasuk juga konflik Aceh yang juga menimbulkan kehilangan, trauma dan korban jiwa. Sehingga kita bisa hidup lebih baik dan damai serta tangguh menghadapi bencana masa akan datang, ” ungkap Nova.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin menambahkan bahwa puncak Peringatan 15 tahun gempa dan Tsunami Aceh dengan mengusung tema “Melawan Lupa, Bangun Siaga” akan diperingati kali ini di Halaman Pidie Convention Center (PCC), Kabupaten Pidie dengan jumlah undangan diperkirakan mencapai 7.000 orang.

 “Pemilihan Kabupaten Pidie, sebagai lokasi utama penyelenggaraan Peringatan 15 tahun gempa dan Tsunami Aceh ini didasarkan pada kejadian masa lalu, di mana Kabupaten Pidie juga mengalami dampak serius akibat gempa dan gelombang Tsunami yang mengakibatkan kehancuran harta benda, dan korban nyawa masyarakat setempat. Serangkaian kegiatan pendukung lainnya akan mewarnai puncak Peringatan 15 Tahun Kejadian Gempa dan Tsunami Aceh, ” sebut Jamal.

VIDEO - Siswa-siswi Disabilitas Ikut Simulasi Tsunami di Banda Aceh

Reli Sepeda Jelajah Situs Tsunami, Kerja Sama BPBA-Serambi Indonesia

 “Melawan Lupa, Membangun Siaga”

Pemilihan tema dalam rangka Peringatan 15 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh diharapkan kepada seluruh masyarakat dan Pemerintah Aceh, khususnya generasi muda Aceh untuk tidak pernah melupakan kejadian bencana masa lalu, yang tidak hanya menimbukan kehancuran dan kerusakan, tapi juga telah menghilangkan orang-orang yang sungguh dicintai dan selalu membangun kesadaran masyarakat menuju budaya siaga terhadap berbagai bencana yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja.

Jamal lebih lanjut menyebutkan bahwa melalui peringatan tersebut akan menjadi penyemangat bagi kita semua untuk selalu merawat berbagai peninggalan Tsunami (Tsunami heritage) sebagai daya tarik wisata bencana yang tentunya selama ini telah memberikan berbagai manfaat, baik secara ekonomi, maupun sosial budaya.

Duo Musisi Asal Kobe Jepang Korban Selamat Tsunami akan Tampil di Banda Aceh, Catat Jadwalnya

Ini Urutan Waktu Kejadian Gerhana Matahari Cincin di Aceh Saat Peringatan Tsunami 26 Desember

“Tidak hanya bagi para pelaku industri pariwisata dalam berbagi pengalaman kebencanaan dengan wisatawan, tapi juga bagi wisatawan yang ingin belajar tentang bagaimana gempa dan Tsunami terjadi dan mendera Aceh, bagaimana masyarakat Aceh menyelamatkan diri, bagaimana masyarakat Aceh membangun dirinya pascabencana, dan bagaimana masyarakat internasional mendukung pembangunan Aceh kembali. Semua kebaikan tersebut perlu dilihat dalam berbagai perspektif positif dari kejadian bencana masa lalu, sebagai sebuah hikmah “blessing in disguise”, ” tutup Jamal.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, menyebutkan, semoga peristiwa gempa dan Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 silam, akan selalu diperingati oleh seluruh masyarakat dan Pemerintah Aceh dalam upaya membangun kesadaran masyarakat menuju budaya siaga bencana, sampai kapan pun sebagai penyambung pesan dan harapan antara para syuhada Tsunami, masyarakat yang merasakan langsung kejadian bencana masa lalu dan generasi muda Aceh yang perlu terus membangun Aceh melalui semangat “Pembangunan Aceh Lebih Baik” menuju “Aceh Hebat” dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Aceh.

“Mari terus melakukan peringatan Tsunami sampai kapan pun dan oleh siapa pun dengan selalu menebar pesan-pesan kebencanaan global. Teruslah berbagi pengalaman kebencanaan masa lalu dengan siapa pun dan kapan pun sebagai bagian utama membangun budaya siaga bencana masyarakat, meskipun jumlah korban Tsunami Aceh yang saat ini masih menjadi saksi hidup, pada akhirnya nanti akan hilang akibat ditelan zaman, ”sebut Rahmadhani.

Tsunami Reflection
Tsunami Reflection - Melawan Lupa, Membangun Siaga (serambinews.com)
Editor: iklan@serambinews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved