Invest in Aceh

Zaratex Eksploitasi Migas di Aceh  

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Miniral (ESDM) Aceh Mahdinur melalui Kabid Migas, Budi Darma mengatakan, jumlah perusahaan migas..

FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Dinas ESDM Aceh, Ir Mahdinur MM 

BANDA ACEH - Kepala Dinas Energi Sumber Daya Miniral (ESDM) Aceh Mahdinur melalui Kabid Migas, Budi Darma mengatakan, jumlah perusahaan migas yang akan berproduksi di Aceh tahun depan akan bertambah seiring rencana Zaratex NV melakukan eksploitasi migas di perairan Aceh.

“Saat ini sudah ada tiga perusahaan yang melakukan kegiatan epsloitasi migas di Aceh, yaitu Pertamina Hulu Energi di Blok B, PT Medco E&P Malaka di Blok A, dan Triangle Pase Inc di Blok Pase Aceh Utara,” jelas Budi kepada Serambi, Jumat (6/12), di ruang kerjanya.

Kecuali tiga perusahaan itu, tahun depan eksploitasi migas di Aceh akan diramaikan dengana hadirnya Zaratex NV. Dengan lokasi eksplorasi di kawasan Pantai Lhokseumawe, Talisman Andaman BV, lepas pantai Andaman III, dan Renco Elang Energy, lokasi South Blok A.

Dikatakan Budi, Zaratex NV sudah mendapatkan lokasi titik sumber migasnya dan pada tahun depan akan melakukan pengeboran. Saat ini, perusahaan itu sedang melakukan persiapan untuk kegiatan eksploitasi produksi migasnya.

“Masih ada empat perusahaan migas lagi yang sedang melakukan joint studi area migas di wilayah Aceh. Yaitu PT Aceh Anergi, lokasinya Kawasan Blok Bireuen – Sigli, Repsol & Pertamina, lokasinya Blok Arakundo, Conrad Petroleum, berlokasi Blok Singkil, dan Frontier Point Limited di Kawasan Blok Meulaboh, Aceh Barat,” ujar Budi.

Produksi migas yang dihasilkan dari tiga perusahaan migas di atas, kata Budi Darma, sebagian besar sudah diolah dan dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan migas untuk pemenuhan kebutuhan gas industri dan rumah tangga. Ada empat perusahaan, yang telah memonitisasi pemanfaatan gas untuk pemenuhan kebutuhan gas domestic. Diantaranya produksi gas dari PT Medco dan Triangle Pase, sudah dimanfaatkan oleh PLN dan Pertamina untuk membangkitkan mesin listrik tenaga gasnya di Lhokseumawe, PT Perusahaan Gas Negara, memanfaatkan produksi gas untuk penyaluran gas industri dan rumah tangga, seperti penyaluran gas industri ke Kawasan Industri Medan, Belawan di Sumut, dan gas rumah tangga di Belawan dan Lhoksukon, Muara Batu, Aceh Utara  dan Lhokseumawe.

PT PIM juga akan memanfaatkan produksi gas dari Medco dan Triangle, untuk pengembangan pabrik pupuk NPK, yang kini sedang dibangun. Jadi, produksi migas yang dihasilkan tiga perusahaan migas tersebut di atas, sudah dilakukan monetisasi, yaitu pemanfataan untuk mencari uang dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Asisten II Setda Aceh, HT Ahmad Dadek  mengatakan, penambahan perusahaan migas yang berproduksi di Aceh akan memberikan dampak ekonomis, tidak hanya akan menambah penerimaan dana bagi hasil migas untuk Aceh, tapi lebih dari itu, akan menyerap tenaga kerja, dan membantu PDRB daerah dan nasional jadi meningkat.

Pasca-konflik dan tsunami, kata Ahmad Dadek, Aceh pernah menerima dan bagi hasil migas diatas Rp 1 triliun, yaitu pada tahun 2008 dan 2009 masing-masing sebesar Rp 1,3 triliun. Setelah itu menurun, menerima antara Rp 800-Rp 500 miliar, bahkan pernah menerima Rp 89 miliar pada tahun 2018, dan tahun 2019 naik kembali hamper mencapai 600 persen menjadi Rp 481 miliar.

Tahun 2020, menurut daftar lifting migas yang diterbitkan Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan Aceh, dana bagi hasil migas yang akan kita terima Aceh, menurut perkiraan kedua Kementerian tersebut akan menurun kembali dan angkanya sekitar Rp 349 miliar.

Aceh, kata Dadek, masih membutuhkan dana pembangunan yang besar. Alasannya, akibat konflik dan tsunami telah membuat angka kemiskinan di Aceh dari 15,20 naik menjadi 32,60 persen. Dana BRR totalnya Rp 71 triliun, hanya mampu menurunkan angka kemiskinan 4,2 persen.

Sejak tahun 2008 sampai 2019, katanya, Aceh sudah menerima dana otsus Rp 65 triliun, ditambah dana desa yag diterima selama 4 tahun nilainya Rp 19,7 triliun, telah menurunkan angka kemiskinan sebesar 8,18 persen menjadi 15,23 persen.

Namun begitu, karena posisi angka kemiskinan masih sama dengan tahun 2000 sebesar 15,20 persen. “Untuk menurunkannya masih butuh dana tambahan yang besar, terutama dari dana otsus dan bagi hasil migas serta dana transfer lainnya dana pusat, seperti dana DID, DAU, DAK dan lainnya” tuturnya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved