Konservasi
Imum Mukim Lutueng Lestarikan Pohon Meudang Jeumpa, Bahan Konstruksi Rumah Aceh yang Kini Langka
Dulu, kayu Meudang Jeumpa sangat dikenal masyarakat Aceh, karena merupakan bahan konstruksi yang wajib dalam membangun rumah adat Aceh.
Penulis: Taufik Hidayat | Editor: Taufik Hidayat
SERAMBINEWS.COM, Pidie - Mukim Lutueng Kecamatan Mane termasuk dalam kawasan Hutan Ulumasen, di mana 70% wilayah kemukiman Lutueng merupakan kawasan hutan lindung yang kaya keanekaragaman hayati dan habitat satwa dan tumbuhan langka.
Di dalam kawasan hutan, tidak hanya tempat satwa liar yang langka akibat perburuan liar, akan tetapi beberapa jenis pohon juga menjadi langka, akibat penebangan liar.
Salah satu tumbuhan yang mulai langka adalah pohon Meudang Jeumpa, yang memiliki nilai historis di Aceh dengan kualitas kayu yang sangat baik.
Dulu, kayu Meudang Jeumpa (Mognallia Montana) sangat dikenal di kalangan masyarakat Aceh, karena kayu meudang jeumpa merupakan bahan konstruksi untuk pembuatan rumah adat Aceh, yang digunakan sebagai Peulangan, yaitu tempat bertumpunya dinding bagian dalam pada rumah adat Aceh.
Seorang tukang bangunan pembuat rumah adat Aceh, Syarbani (53) warga Turue Cut, Mukim Lutueng, Kabupaten Pidie mengungkapkan, kayu meudang jeumpa pada konstruksi rumah adat Aceh biasa digunakan di bagian peulangan.
“Lebar Peulangan kayu dari meudang jeumpa ini kira-kira sekitar 45 Cm dan tebal 6 Cm. Sedangkan panjangnya tergantung dari ukuran rumah tersebut. Di bagian kiri dan kanan rumah adat Aceh ada tiang raja dan tiang Putri yang di atasnya ditempatkan bendera Merah-Putih,” katanya.
Syarbaini mengisahkan, sekitar tahun 1977, pohon meudang jeumpa masih tumbuh di perkampungan dan kebun warga.
Namun sekarang pohon meudang jeumpa sudah jarang ditemukan. “Jika pun ada, lokasinya jauh di dalam kawasan hutan,” ujar Syarbaini.
Karena sadar pohon Meudang Jeumpa mulai langka, Imum Mukim Lutueng, Sulaiman SE berinisiatif mengembangkan kembali tanaman itu dengan melakukan pembudidayaan di nursery/ tempat pembibitan tanaman miliknya di Desa Tureu Cut, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie.
Saat ini, di nursery miliknya terdapat sekitar 1.500 bibit tanaman pohon meudang jeumpa.
Rencananya, bibit tanaman meudang jeumpa ini nantinya akan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam di kebun atau di sekitar rumah warga.
Sulaiman mengatakan, ia sempat kesulitan membibitkan kembali pohon meudang jeumpa ini karena pohon tersebut sudah langka.
Ia pun terpaksa mencari bibit pohon meudang jeumpa ini ke dalam hutan, dibantu oleh para Ranger.
Sulaiman meminta kepada para Ranger, jika menemukan pohon meudang jeumpa saat melakukan patroli ke hutan, agar dibawa pulang untuk dibudidayakan.
Setelah tiga kali patroli di kawasan hutan dalam Kemukiman Lutueng, akhirnya Ranger menemukan pohon meudang jeumpa dan mengambil bibitnya untuk dibibitkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/meudangjeumpa.jpg)