Jumat, 22 Mei 2026

Menyelisik Beberapa Kosakata Arkais Bahasa Aceh dalam KBBI V

Bahasa Aceh merupakan satu dari sekian bahasa daerah yang ada di Indonesia dan bahasa dengan jumlah penutur terbanyak dari beberapa

Tayang:
Editor: bakri
DOK.SERAMBINEWS.COM
Kain sarung dengan label berbahasa Aceh. 

Oleh : Zainun

Bahasa Aceh merupakan satu dari sekian bahasa daerah yang ada di Indonesia dan bahasa dengan jumlah penutur terbanyak dari beberapa bahasa daerah lainnya yang ada di provinsi Aceh. Bahasa Aceh dituturkan oleh hampir 2/3 penduduk di Provinsi Aceh.

Menurut sensus yang dilakukan pada tahun 2000 jumlah penutur bahasa Aceh sekitar 3,5 juta jiwa. Jika merujuk kepada pendapat Kraus (1992) dalam artikelnya The World’s Language in Crisis tentang gejala kepunahan bahasa, maka bahasa Aceh termasuk dalam kategori aman atau tidak terancam punah. Kraus mengatakan bahwa satu dari dua faktor sebuah bahasa itu bisa bertahan jika penuturnya masih berjumlah lebih dari 100.000 jiwa.

Namun demikian bukan juga berarti bahwa bahasa Aceh (kosakatanya) tidak akan hilang. Buktinya banyak kosakata Aceh khususnya yang arkais atau kosakata yang tidak lazim dipakai lagi, dimengerti oleh penutur bahasa Aceh sendiri . Ini mengindikasikan bahwa banyak dari kosakata itu tidak digunakan lagi atau hanya sebagian kecil masyarakat yang menggunakannya (digunakan oleh kaum tua saja) sehingga persebarannya dalam komunikasi semakin hari semakin sedikit.

Untuk menghidupkan atau merevitalisasi kosakata arkais tersebut, Badan Bahasa melalui Balai Bahasa Aceh telah melakukan upaya identifikasi dan memasukan kosakata tersebut ke dalam daftar lema KBBI (Kamus Besar BahasaIndonesia) terbaru edisi V baik dalam versi daring (online) maupun luring (offline). Ada puluhan kosakata bahasa Aceh yang telah dimasukkan dalam KBBI dan dari sekian kosakata tersebut merupakan kosakata arkais. Beberapa kosakata arkais tersebut diyakini sudah jarang digunakan dalam ragam tulisan dan lisan.

Beberapa kosakata bahasa Aceh yang sudah dimuat dalam KBBI V sebagian besarnya terdiri dari nomina dan verba. Diantara kata-kata tersebut, menurut penulis ada beberapa yang sangat arkais. Misalnya upa : (v) menggosok dengan tangan (misalnya badan atau kepala ketika mandi); menggosok diantara kedua tangan( misalnya daun-daun obat). kata upa tersebut sudah jarang sekali dipakai. Untuk membersihkan rambut dengan sampo, kita acap mengganti kata upa dengan  osok. Untuk menghaluskan obat-obatan kita tidak lagi menggunakan kedua telapak tangan tetapi lebih memilih menggiling dengan batu atau mesin blender, sehingga kata upa sudah asing  idengar di telinga kita. Kata lainnya adalah nuga: (n) palu kecil dari kayu untuk memukul pasak kayu. Kata nuga ini sudah hampir tidak pernah didengar lagi. Hal ini dikarenakan semua pasak untuk mempererat sambungan kayu atau mengencangakan antara sudut kayu sudah memakai atau diganti dengan paku dan baut besi. Dulunya nuga ini dipakai untuk memukul pasak kayu pada tiang rumah atau mengokohkan antara sambungan atau rangkaian kayu pada bangunan atau erabotan.

Contoh lainnya adalah kata ramin: (n) menyembelih hewan dan sebagainya untuk dimakan bersama-sama di alam terbuka. Dulunya kata ramin ini adalah kegiatan pergi bertamasya  ersama- ama baik di pantai, sungai atau tempat lainnya di alam luas dengan membawa makanan dan ada juga yang menyembelih ternak dan memasak untuk dimakan bersama-sama. Kata ramin itu sekarang tergerus dengan istilah piknik. Setiap kegiatan pergi dan membawa bekal makanan untuk disantap bersama-sama di alam terbuka seperti pantai, sungai, dan puncak bukit dipakai istilah piknik. Pemure: (v) memulai suatu pekerjaan dengan maksud agar diikuti oleh orang lain.  

Kata ini juga dianggap sangat arkais karena saat ini kata pemure jarang sekali dipakai dalam ragam lisan biasa. Untuk menyebutkan pengertian yang mirip dengan pemure, kita sering mendengar orang menggunakan peuphon (memulai). Peumure lebih bermakna konotatif sedangkan peuphon bermakna denotatif. Ada banyak lagi kosakata bahasa Aceh arkais yang  udah masuk dalam KBBI; pecicap, sayong, sebon, simprak, talu, tung, alen, dan lain-lain yang sangat menantang untuk diselisik dan mungkin dikaji lebih lanjut seperti mengajukan contoh alimat untuk kata-kata tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved