Wawancara Eksklusif

‘Pak Pratikno Telepon Saya Jelang Isya’  

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Mardiono, terus menebarkan senyum saat menghadiri Musyawarah Kerja Nasional

‘Pak Pratikno Telepon Saya Jelang Isya’   
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc.
MARDIONO, Anggota Wantimpres

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Mardiono, terus menebarkan senyum saat menghadiri Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) V Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (14/12/2019). Mardiono mendapat ucapan selamat dari puluhan kader PPP. Ia bahkan menjadi objek buruan foto kader partai berlambang Ka'bah itu.

"Selamat Pak Mardiono," ucap para kader PPP di arena Mukernas V PPP. Ia yang mengenakan jas berwarna hijau terus menjadi buruan swafoto. Tak sedikit kader PPP yang menyebutnya sebagai Ketua Umum PPP mendatang. Di sela-sela Mukernas V PPP, Mardiono menyempatkan waktu untuk wawancara khusus dengan Tribun Network. Kepada Tribun Network, Wakil Ketua Umum PPP ini membagikan kisah awal penunjukannya sebagai anggota Wantimpres Periode 2019-2024.

Ia mengatakan keputusannya menerima tawaran sebagai anggota Watimpres karena ingin berkontribusi lebih banyak untuk bangsa. Ia ingin memberikan saran dan masukan kepada Presiden Joko Widodo terkait pendistribusian kebutuhan pokok masyarakat. Bos PT Buana Centra Swakarsa (BCS) itu menilai selama ini harga-harga kebutuhan masyarakat terbilang mahal karena kendala pendistribusian barang. Berikut petikan wawancara wartawan Tribun Network, Fransiskus Adhiyuda, dengan Anggota Wantimpres, Mardiono.

Saat ditunjuk sebagai anggota Watimpres, kapan Anda ditelepon oleh Pak Pratikno (Menteri Sekretaris Negara)?

Sore ya, mungkin menjelang Isya kali ya.

Apa yang disampaikan Pak Pratikno saat menelepon?

Ya, beliau minta melihat apa perjalanan karier saya di dunia usaha. Lebih menggali lebih dalam lagi sampai saya ada sembilan perusahaan itu ditanya semuanya. Sejak kapan juga saya, saya sampaikan sudah 37 tahun saya menggeluti dunia usaha itu. Jadi fokusnya itu dalam menggali tentang pengalaman karier saya di dunia usaha.

Saat itu Anda langsung menyatakan iya atau seperti apa saat diminta menjadi anggota Wantimpres? Mungkin ada pertimbangan atau pikir-pikir dulu setelah ditelepon Pak Pratikno?

Ya, karena ini negara yang membutuhkan dalam rangka untuk membangun perekonomian bangsa ini dan ternyata mungkin saya dianggap bagian dari pelaku usaha yang dalam 'untuk golongan saya' cukup berhasil. Tapi bukan saya seperti konglomerat, tidak, karena saya berangkatnya betul-berul dari pengusaha yang sangat kecil dan saya bangun selama 37 tahun.

Setelah menjadi anggota Wantimpres, masukan apa yang ingin Anda sampaikan kepada Presiden?

Oh, tentu sesuai dengan bidang usaha yang saya geluti selama ini adalah bagaimana kita untuk membangun agar masyarakat kita tidak terbebani dengan biaya yang tinggi. Biaya yang tinggi itu semuanya itu lahir dari banyak hal, mulai dari logistik, kenapa barang-barang menjadi mahal karena angkutannya mahal. Bagaimana barang-barang mahal karena jalannya macet. Mungkin isu-isu ekonomi seperti itu yang mungkin bidang saya untuk bisa bergabung dengan para ahli yang lain untuk memberi masukan-masukan itu kepada presiden.

Respons keluarga saat Anda ditunjuk sebagai anggota Wantimpres seperti apa?

Ya keluarga saya Alhamdulillah, Sami'na Wa Atha'na, itu kalau yang dianggap baik dan bermanfaat kemudian sepanjang saya tujuannya untuk mengabdikan diri saya kepada bangsa dan negara, Insyaallah keluarga tentu mendukung saya.

Anda lebih memilih sebagai anggota Wantimpres ketimbang aktif di PPP, otomatis harus keluar dari partai. Ini bagaimana?

Ya, saya tentu juga minta izin dari partai dan itukan konsekuensi dari seorang kader di dalam satu organisasi apapun. Ketika ini kita adalah sebagai prajurit anak bangsa, kalau negara memanggil, apapun, ya kita harus siap karena ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved