15 Tahun Tsunami Aceh

Selamatkan Gedung Penyelamat

Pada 2015 lalu, seorang mahasiswi Program Studi Magister Teknik Sipil Unsyiah bernama Rita Ofiani membuat penelitian

Selamatkan Gedung Penyelamat
SERAMBI/HENDRI
ESCAPE BUILDING- Kondisi bangunan penyelamat dari Tsunami (escape building) di Banda Aceh, Aceh, Rabu (25/12/2019). SERAMBI/HENDRI 

Pada 2015 lalu, seorang mahasiswi Program Studi Magister Teknik Sipil Unsyiah bernama Rita Ofiani membuat penelitian tentang Optimalisasi Sistem Pemeliharaan Gedung pada Bangunan Penyelamat (Escape Building) di Kota Banda Aceh. Hasil penelitian Rita waktu itu menunjukkan dua gedung dapat dikategorikan dalam kondisi pemeliharaan buruk yaitu di Desa Alue Deah Teungoh dan Deah Glumpang, serta satu gedung dalam kondisi pemeliharaan sedang yaitu di Desa Lambung. Nah, bagaimana kondisi kekinian gedung-gedung yang dibangun dengan spesifikasi khusus tersebut? Tim Wartawan Serambi Indonesia melihat secara langsung kondisi escape building di sejumlah titik di Aceh dilengkapi fakta-fakta visual maupun wawancara dengan sumber berkompeten. Hasil kerja bareng tersebut dirangkum oleh Nasir Nurdin untuk laporan khusus yang diharapkan bisa menjadi `kado' peringatan 15 tahun tsunami Aceh, hari ini.

HINGGA akhir 2019 atau bertepatan dengan peringatan 15 tahun tsunami, Aceh telah memeliki 10 escape building (gedung penyelamatan) yang tersebar di sejumlah titik, empat di antaranya di Kota Banda Aceh, termasuk gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah. Selain itu, Museum Tsunami Aceh juga dirancang untuk tempat penyelamatan warga jika bencana tsunami kembali terjadi.

Di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh ada tiga escape building, yaitu di Gampong Lambung, Deah Geulumpang, dan Alue Deah Teungoh. Tiga gedung ini dibangun oleh Pemerintah Jepang pada 2006. Beberapa hari lalu, Serambi memantau langsung kondisi ketiga gedung raksasa ini. Secara fisik, keberadaan gedung yang dibangun Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) masih kokoh berdiri. Meski tak terlihat kerusakan fisik yang mengkhawatrikan, namun secara kesuluruhan terlihat tak terawat. Sejumlah prasarana gedung yang dibangun dengan dana Rp 15 miliar per unit itu seperti tak terurus.

Escape building Lambung, misalnya, banyak coretan dan tulisan-tulisan dengan cat pilox mengotori dinding gedung. Tembok-tembok penyangga juga dikotori tulisan-tulisan tak jelas, hampir di setiap sudut dinding dipenuhi tulisan berwarna hitam, ada yang menulis nama, nama komunitas, dan tulisan-tulisan lainnya.

Tangga di lantai dasar menuju ke atas gedung juga terlihat kotor. Warna orange terlihat hitam seperti sudah lama tak dibersihkan. Beberapa sudut dinding, catnya juga mulai mengelupas, sebagian plafon juga mulai retak dan lekang. Parahnya lagi, kamar mandi di lantai dasar juga sangat kotor.

Di lantai dua, ruangan hall juga dipenuhi debu. Lantai kemarik masih terlihat bagus meski kurang dibersihkan.

Gedung tersebut memiliki empat lantai. Lantai atas sebagai tempat penyelamatan juga tampak memprihatinkan. Beberapa sudut lantai, semennya ada yang mengelupas dan retak. Ada dua jalur menuju ke atas gedung, dari tangga biasa dan tangga yang diperuntukkan nagi penyandang disabilititas. Tangga disabilitas masih cukup terawat, besi pengaman dengan cat dasar biru terlihat berwarna meski ada yang berkarat di beberapa bagian.

Halaman atau taman bermain di samping gedung juga tak terurus. Ayunan dan beberapa fasilitas bermain anak-anak tak terawat. Rerumputan liar sangat menggangu kenyamanan. Keuchik Lambung, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Yasir yang diwawancarai Serambi membenarkan kondisi escape building di desanya tidak terawat secara maksimal. Gedung tersebut, kata Yasir berada di bawah pengelolaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh.

"Pengelolanya BPBD, kebetulan yang jaga orang kampung kita juga tapi di bawah BPBD. Soal perawatan kita tidak tahu detail, mungkin terkendala anggaran," kata Yasir.

Dikatakan Yasir, sejak dibangun pada 2006, gedung tersebut cukup memberi kenyamanan bagi masyarakat. Masyarakat tidak was-was jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami. "Jika gempa kuat terjadi, seperti tahun 2010, masyarakat langsung naik ke gedung itu. Termasuk saya, hari itu naik ke atas gedung," kata Keuchik Yasir.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved