Jumat, 12 Juni 2026

Citizen Reporter

Xinaliq, Desa Tertinggi di Eropa

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
KUN MISBAHUL MUNAWAR 

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

KUN MISBAHUL MUNAWAR, Mahasiswa MBA Khazar University, Baku-Azerbaijan, Penerima Beasiswa Merit Scholarship dan Fam Foundation Uni Eropa, melaporkan dari Azerbaijan

REPORTASE saya kali ini berkisah tentang sebuah desa tertinggi di dataran Benua Eropa yang menarik wisatawan karena aksesibilitas, bahasa khasnya, arsitektur bangunan, dan budayanya yang unik.

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

Akses menuju ke desa ini lumayan sulit, berjarak sekitar 220 kilometer dari Baku, ibu kota Azerbaijan.

Untuk sampai ke sini butuh waktu sekitar lima jam, melewati kota kecil Xirdalan dan Quba.

Sesampai di Quba kami mengganti kendaraan dengan yang khusus mampu menjajal jalanan curam khas area pegunungan.

Kena OTT KPK dan Jadi Tersangka, Wahyu Setiawan Resmi Mengundurkan Diri dari KPU

Penjambret Tas Pegawai Kejati Aceh,Ternyata Residivis Narkoba, Ini Kasusnya

Personel Reskrim Polresta Banda Aceh Tangkap Buruh Bangunan Asal Medan, Ini Kejahatan Keduanya

Misbahul Munawar bersama tas Kuwah Tuhee di Baku, Azerbaijan.
Misbahul Munawar bersama tas Kuwah Tuhee di Baku, Azerbaijan. (Kun Misbahul Munawar)

Kami menumpangi mobil SUV tipe 4x4 bermerek Lada, buatan Rusia.

Sepanjang perjalanan menuju desa pemandangannya luar biasa.

Dari ketinggian Gunung Kyzylkaya terlihat aliran Sungai Qudiyalcay tampak meliuk-liuk jernih.

Hamparan perbukitan yang tertutup salju menyejukkan pandangan mata.

Sesudah melewati Gunung Kyzylkaya, degupan adrenalin kami lebih berpacu, karena menerobos di antara ngarai yang menjulang hanya beberapa centimeter saja dari jurang, ditambah salju tebal yang menutup badan jalan.

Sensasi indah berbalut extreme ini menambah daya tarik cerita Xinaliq untuk dikunjungi.

Setelah 40 menit, Lada yang kami tumpangi meliuk-liuk di lereng ngarai dan lembah.

Sampailah kami di desa tujuan.

Desau angin gunung berembus kencang menusuk ke dalam tulang, jejeran pergunungan putih mengelilingi tiap sisi arah memandang, panorama indah dan sejuk.

Begitulah mungkin kata selamat datang dari alam kepada kami dan rombongan.

Namanya Khinalug/Xinaliq (baca henaleg). Suatu desa di lereng gunung di pedalaman Azerbaijan dengan ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Desa ini berada persis di tengah di antara jejeran pegunungan Kaukasus Timur.

Dari arah tenggara desa ini diapit oleh Gunung Heydar Aliyev berketinggian 3.751 mdpl , di sisi barat berbatasan dengan Gunung Shahdag setinggi 4.191 mdpl.

Di sisi utara bertatap-tatapan dengan Gunung Tufandag 4.254 mdpl, dan Bazardyuzyu 4.466 mdpl yang merupakan puncak tertinggi Azerbaijan dan masih satu area dengan Pegunungan Kaukasus Tengah berpuncak Elbrus.

Berada di ketinggian membuat iklim di desa ini sangat ekstrem, terlebih di musim dingin.

Suhu udara di siang hari sekitar -9 derajat Celcius dan malam bisa mencapai -19.

Perlu persiapan jaket yang tebal dan kondisi fisik prima agar dapat bertahan di ketinggian ini.

Kaukasia kuno

Desa ini berpopulasi 1.837 jiwa. Pekerjaan utama penduduknya adalah bertani dan beternak domba.

Menurut data World Monuments Fund, penduduk Xinaliq adalah bangsa asli Kaukasia kuno yang telah mendiami kawasan tersebut selama 4.000 tahun silam.

Beda dengan orang Azebaijan umumnya yang berbicara bahasa Azer atau Turki, penduduk Xinaliq masih berbicara bahasa Ketsh yang, menurut Christopher Moseley, adalah bahasa Kaukasus asli dengan tanpa perubahan suku kata sedikit pun.

Tetapi mereka juga fasih bertutur bahasa Azer dan Rusia.

Rumah-rumah dan bangunan di desa ini dibangun dengan gaya arsitektur cascade (atap rumah adalah teras rumah).

Karakter bangunannya juga terlihat unik, dinding rumahnya sangat tebal, kira-kira mencapai 1 meter yang disusun dari batu gunung, atap sekaligus teras rumah adalah susunan batu bata yang dicampur dengan kotoran sapi/domba serta jerami, sehingga terlihat seperti kubus dari kejauhan.

Pengaruh kotoran sapi/domba dalam elemen bangunan ternyata memberikan efek hangat terhadap suhu ruangan.

Karena karakter bangunannya yang unik sehingga UNESCO memasukkannya ke dalam kategori bangunan bersejarah dunia yang penting dan terancam punah.

Secara keagamaan, penduduk di Xinaliq beragama Islam Sunni yang berbeda dengan kawasan Azerbaijan lainnya yang berpaham syiah.

Banyak situs sejarah yang bisa ditemukan di desa kuno ini.

Contohnya, sekitar 5 km sebelah barat desa, di ketinggian 3.300 mdpl terdapat kuil api Zoroaster dengan api alami yang tidak pernah padam.

Kuil ini telah dipugar oleh Organisasi Zoroaster Dunia dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Azerbaijan.

Di sini juga terdapat makam Hidir Nebi, Masjid Sheikh Shalbuz, makam dan Masjid Abu Muslim (penyebar Islam abad 12), dan banyak situs arkeologi yang belum dijelajahi yang tersebar di seluruh desa.

Dalam delapan tahun terakhir banyak wisatawan, peneliti, dan cinematografer dari berbagai belahan dunia menjadikan Xinaliq sebagai salah satu view favorit. 

Pasalnya lanskap panorama alamnya yang menawan, gaya arsitektur bangunan, dan warganya tetap bertutur bahasa kuno yang sudah ribuan tahun usianya.

Pendeknya, banyak hal yang menakjubkan di sini. (misbahulmunawar10@gmail.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved