Jumat, 5 Juni 2026

Kisah Wanita Indonesia Korban Pengantin Pesanan Pria China, Disiksa hingga Pelecehan Seksual

Walau diduga merupakan kejahatan transnasional yang melibatkan kartel perdagangan orang, belum satu pun pelaku yang dijatuhi hukuman di Indonesia.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Net
Ilustrasi pelecehan seksual 

SERAMBINEWS.COM, PONTIANAK - Puluhan perempuan Indonesia sepanjang 2019 dipulangkan pemerintah dan lembaga advokasi migran dari China setelah mereka terperangkap perdagangan manusia berkedok pernikahan.

Tidak ada data resmi tentang jumlah korban kasus ini, tapi sejumlah perempuan Indonesia lainnya, yang sebagian besar berasal dari Kalimantan Barat, diduga masih berupaya melarikan diri dari rumah 'suami atau mertua' mereka di China.

Walau diduga merupakan kejahatan transnasional yang melibatkan kartel perdagangan orang, belum satu pun pelaku yang dijatuhi hukuman di Indonesia.

BBC Indonesia bertemu dengan beberapa perempuan yang kerap disebut pengantin pesanan itu, baik yang berhasil kembali maupun yang masih berusaha mencari jalan pulang ke Indonesia.

"Mereka bilang tidak akan ada KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), ternyata yang saya alami lebih parah. Kalau saya mengingat pengalaman itu, rasanya mengerikan." Pernyataan itu diutarakan Merry, perempuan asal Kalimantan Barat.

Saya menjumpai Merry di rumah semipermanen milik orang tuanya, November lalu, tujuh bulan setelah ia pulang dari China.

Merry tak menyangka kehidupan remajanya yang sempat jatuh ke titik nadir akan semakin tenggelam saat ia terbang ke China tahun 2018.

Kala itu Merry setuju menikah dengan laki-laki asal China.

Ia bertemu lelaki itu setelah menerima tawaran dari Nurlela, sepupu perempuannya.

Merry bersedia menjalin rumah tangga dan diboyong laki-laki yang tak dikenalnya ke China.

Ia berkata, pertimbangannya adalah iming-iming kesejahteraan yang lebih baik.

 "Coba kakak ikut saya nikah ke Tiongkok. Tunangan dulu, nanti bisa dapat uang 20 juta," ujar Merry mengulang tawaran Nurlela, sepupunya yang juga pernah menjadi pengantin pesanan.

"Saya kaget. Kalau saya kerja di warung kopi, butuh berapa tahun kumpulkan uang sebanyak itu," tuturnya.

Saat menerima tawaran tersebut, Merry berusia 27 tahun.

Saat itu ia belum lama memulai pekerjaan sebagai pelayan di sebuah warung kopi setelah bercerai dengan suami pertamanya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved