Kamis, 7 Mei 2026

Kontroversi Ganja, Profesor dari Aceh Sebut Ganja Bisa Obati 30 Penyakit, Dari Virus hingga Kanker

Musri mengatakan senyawa yang ada dalam tanaman ganja berpotensi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Channel YouTube KompasTV dan SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Di Tengah Kontoversi, Profesor dari Aceh Sebut Ganja bisa Obati 30 Penyakit dari Virus hingga Kanker - Kolase Tribunnews.com 

SERAMBINEWS.COM - Tanaman ganja kembali menjadi bahan perbincangan, setelah seorang anggota DPR Komisi VI, Rafly Kande dari Fraksi PKS melontarkan usulan agar ganja jadi komoditas ekspor.

Usulan itu disampaikan Rafly dalam rapat bersama Menteri Perdagangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/1/2020) lalu.

Dia berpendapat ada peluang tanaman ganja bisa diatur dalam regulasi khusus, seperti bahan baku industri obat atau farmasi.

Peneliti Ganja dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Profesor Musri Musman menjelaskan dari hasil studi literatur yang ada, ganja memiliki sejumlah manfaat terutama dalam dunia farmasi.

Musri mengatakan senyawa yang ada dalam tanaman ganja berpotensi untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

"Di ganja telah ditemukan 1263 senyawa, dan 144 diantaranya berpotensi sebagai obat-obatan"

"Obat-obat tersebut dalam konteks anti virus, anti bakteri, hingga anti kanker," ujarnya seperti dikutip dari channel YouTube KompasTV, Minggu (2/2/2020).

Musri Usman
Musri Usman

Musri menegaskan setidaknya ada 30 jenis penyakit yang dapat diobati dengan senyawa-senyawa dalam ganja tersebut.

"Dapat ditanggulangi oleh penggunakan ganja, terutama kadar minyaknya," tegasnya.

Minyak ganja disebut dengan cannabidiol atau sering disingkat CBD yang merupakan hasil dari ekstrak alami tanaman cannabis sativa alias ganja.

Peneliti Ganja dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Profesor Musri Musman

Musri menilai pernyataan yang dikeluarkan Rafly Kande merupakan sebuah langkah awal untuk menggali potensi yang ada di taman ganja.

"Sangat dibutuhkan di dalam pengobatan dalam bahan obat-obatan. Pak Rafly menangkap peluang tersebut, Makanya dijadiakan komoditas ekspor," imbuhnya.

Musri melanjutkan saat ini permintaan akan ketersediaan CBD meningkat di pasar dunia.

Di pasaran 1 gram CBD dihargai paling murah 60 Dollar AS atau Rp 826.332,00.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved