Drone Kombatan Karya Anak Bangsa, Elang Hitam Pengawal Natuna
BANGSA Indonesia boleh berbangga karena tak lama lagi akan menghasilkan karya teknologi unggulan, Pesawat Udara Nir Awak
BANGSA Indonesia boleh berbangga karena tak lama lagi akan menghasilkan karya teknologi unggulan, Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) MALE Elang Hitam. Drone yang memiliki dimensi 8,3 meter, tinggi 2,6 meter, dengan bentang sayap 16 meter ini ditargertkan berpatroli di Natuna, Kepulauan Riau pada 2021.
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengatakan, pembangunan Elang Hitam sebagai pesawat tanpa awak dengan kemampuan kombatan akan dikebut. "Presiden RI Joko Widodo, bersama Menko Polhukam, Menteri Pertahanan, Kepala KSP (Kantor Staf Presiden) juga telah melihat langsung Drone Elang Hitam buatan anak bangsa itu," kata Hammam, di Kantor BPPT, Jakarta Pusat, Selasa (4/2) lalu.
Selain berpatroli di Natuna, drone yang dibekali dengan 4-stroke engine berkekuatan 110-150 tenaga kuda dan dilengkapi dua buah baling-baling, serta memiliki kecepatan terbang maksimum 235 km per jam tersebut, akan terbang mengintai di kawasan pulau terluar, terdepan, dan tertinggal.
Menurut Muhammad Nainar, selaku Project Manager PTTA MALE PT Dirgantara Indonesia, pesawat nir awak ini memang dirancang untuk melaksanakan berbagai kepentingan misi intellegence, survillance, dan reconnaissance (ISR) di seluruh wilayah teritori Indonesia.
Tentu saja, drone mempunyai kepentingan demi menjaga kedaulatan negara dari penyusupan pihak asing seperti yang sering terjadi di kawasan Natuna akhir-akhir ini.
"Dalam pengembangannya, tujuan di produksinya PTTA MALE ini, sebenarnya untuk menjalankan misi ISR. Namun karena potensi kebutuhan dalam meningkatkan kekuatan alutsista TNI AU maka tahun 2022-2024 nanti kami akan mulai mengembangkan perlengkapan persenjataan untuk mengakomodir kebutuhan kombatan," ujar Nainar saat ditemui Tribun Jabar, di Kantor PT. DI, Kamis (30/1/2020).
Dalam rapat terbatas membahas hilirisasi industri bersama sejumlah kementerian dan lembaga di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis, (6/2) kemarin, Presiden Jokowi menyinggung soal kemampuan industri nasional dalam membuat inovasi produk-produk unggulan, mulai dari drone, konversi CPO, teknologi kapal plat datar, serta teknologi stem cell ortopedi.
Jokowi menekankan, pengembangan produk-produk tersebut tidak bisa berdiri sendiri dan harus mendapatkan dukungan pendanaan riset yang memadai.
Bukan untuk membunuh jenderal
Menurut Muhammad Nainar, produksi pesawat pengintai tanpa awak ini dimulai pada tahun 2015-2016. Saat itu, lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan, memiliki anggaran untuk membuat pesawat tanpa awak dengan menggandeng PT DI sebagai mitranya.
Hal itu tidak terlepas dari keberhasilan PT DI membuat pesawat tanpa awak berukuran kecil yang diberi nama Wulung pada tahun 2014. "Karenanya, Balitbang Kemhan ingin mengembangkannya dalam wujud yang lebih besar," ujarnya.
Ditanya tentang anggapan bahwa drone produk PTTA MALE mirip dengan yang digunakan Amerika Serikat dalam membunuh salah seorang jendral di Iran beberapa waktu lalu, Nainar mengatakan, kemiripan itu bukan sesuatu yang salah.
"Mungkin saja terjadi, karena untuk drone dengan tipe sejenis ini memang memiliki ciri fisik yang serupa, dengan rentang sayap yang tipis memanjang dan punuk di bagian depan drone yang terkoneksi dengan satelit komunikasi. Akan tetapi itu bukan sesuatu yang salah, apalagi kami memang mengadopsi dari desain rancangan yang telah disetujui kelayakan terbangnya," katanya.
Meskipun ada kemiripan, katanya, dari sistem operasional dan kemampuan teknologi yang dimiliki dari setiap pesawat tentunya memiliki perbedaan masing-masing. Karena disesuaikan dengan fungsi dan tujuan dari produksi pesawat itu sendiri.
"Begitu juga halnya PTTA MALE ini, yang meskipun nanti dipersenjatai untuk kombatan, tapi bukan difungsikan untuk killer robot seperti halnya yang dilakukan oleh Amerika kepada jenderal Iran," ujar Nainar. (fitri Wulandari/cipta lesmana/Tribunnetwork/cep)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/drone-elang-hitam.jpg)