Masalah Utang Diduga Jadi Pemicu
Melansir AFP, menurut Perdana Menteri Kerajaan, sebelum ditembak mati, Jackraphanth Thomma terlibat dalam pertikaian terkait utang
Melansir AFP, menurut Perdana Menteri Kerajaan, sebelum ditembak mati, Jackraphanth Thomma terlibat dalam pertikaian terkait utang. Ia disebut melakukan aksinya karena masalah jual beli rumah. Pernyataan ini menjadi spekulasi pertama atas motif dari penembakan yang belum pernah terjadi sebelumnya tersebut.
Menurut Perdana Menteri Kerajaan, Prayut Chan-O-Cha, pertikaian itu melibatkan kerabat dari komandan Jackraphanth. Prayut yang memantau kasus itu dengan serius, juga menyampaikan belasungkawa kepada korban yang tewas.
Melansir CNN, otoritas Thailand mengatakan bahwa pelaku memiliki kemampuan menembak yang tinggi. "Secara umum, perwira militer manapun memiliki kemampuan yang baik dalam menembak, tetapi laki-laki ini tentu memiliki kemampuan yang lebih," kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Letnan Jenderal Kongcheep Tantravanich.
Menurut Kepala Penindakan Kriminal, Mayor Jenderal Jirapob Puridet, penembak memiliki kemampuan tinggi dan telah memenangkan sejumlah kompetisi kecil menembak. Jirapob memimpin tim yang masuk ke dalam bangunan untuk melakukan perlawanan terhadap pelaku. "Kejadiannya hampir seperti adegan film aksi Hollywood," tuturnya.
Penyerangan yang dilakukan Jackraphant ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Tagar #PrayForThailand menjadi salah satu trending topic di Twitter, Minggu (9/2/2020). Hingga sore kemarin sekitar pukul 17.46 WIB, lebih dari 25 ribu tweet dengan tanda pagar atau tagar tersebut.
Informasi lain, tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penembakan tersebut. Pelaksana tugas (Plt) Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Teuku Faizasyah, mengatakan lokasi penembakan itu berada cukup jauh dari Bangkok yang menjadi pusat konsentrasi WNI di Thailand. "Tidak ada WNI yang menjadi korban. Lokasi kejadian sekitar 250 km dari Bangkok," kata Faizasyah. (tribun network/rin/kps/bbc/cnn/reuters/afp/wly/kompas.com)