Kisah Gadis Pedagang Jamur Sawit, Berburu ke Perkebunan dan Jualan di Pinggir Jalan

Jika Anda melakukan perjalanan menuju ke Kota Singkil, ibu kota Aceh Aceh Singkil, saat sampai di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara

Kisah Gadis Pedagang Jamur Sawit, Berburu ke Perkebunan dan Jualan di Pinggir Jalan
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Warga membeli jamur sawit di pinggir jalan menuju Singkil, di kawasan Kampung Baru, Singkil Utara, Aceh Singkil, Minggu (9/2/2020) 

Jika Anda melakukan perjalanan menuju ke Kota Singkil, ibu kota Aceh Aceh Singkil, saat sampai di kawasan Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara, Anda akan melihat lapak kecil berjejer di pinggir jalan. Lapak sederhana itu adalah tempat warga setempat berjualan jamur sawit. Disebut jamur sawit karena tumbuhan itu tumbuh dan dipetik dari kebun sawit.

Uniknya, penjaga lapak jualan jamur sawit itu umumnya para gadis berkerudung. Mereka menjadi pedagang jamur setelah tamat sekolah menengah atas (SMA). Jamur yang dijual para gadis ini bukanlah hasil budidaya. Melainkan dicari dari perkebunan kelapa sawit milik perusahaan yang ada di kawasan tersebut.

Sudah sekitar delapan tahun, gadis asal Desa Kampung Baru berjualan jamur sawit. Jamur tersebut tumbuh di janjang kosong (jangkos) tandan kelapa sawit. "Jamur kami cari dari kebun sawit. Jamur ini tumbuh di janjang kosong sawit yang ditaruh di dekat pohon sawit," kata Yuni, seorang penjual jamur sawit kepada Serambi, Minggu (9/2/2020).

Dalam sehari, Yuni mengaku, bisa mendapatkan uang sekitar Rp 100 ribu, dari menjual jamur sawit tersebut. Jamur yang dipetik dari kebun sawit sesudah dibersihkan lalu ditaruh dalam mangkuk plastik. "Satu mangkuk dijual Rp 5 ribu," sebutnya. Pendapatan sebesar itu, menurut Yuni, lebih dari lumayan. “Ketimbang nganggur setamat dari bangku sekolah menengah umum,” ucap sang gadis.

Pada masa awal, cerita Yuni, jamur sawit dicari warga di areal perkebunan milik PT Perkebunan Lebah Bhakti, yang berbatasan langsung dengan Desa Kampung Baru. Pedagang jamur pun kala itu tidak lebih dari tiga lapak. Seiring lakunya jamur, para pedagang kini harus mencari tumbuhan tersebut hingga ke perkebunan PT Delima Makmur, dengan jarak tempuh lebih satu jam.

Para pedagang termasuk Yuni, harus mencari sendiri jamur di areal perkebunan kelapa sawit. Setelah itu barulah dijual di pinggir jalan. Pelanggan jamur umumnya pengendara yang melintas. Warga memasak jamur dengan cara ditumis. Ada juga yang dimasak sebagai campuran mi instan. Pencinta kuliner jika berkunjung ke Aceh Singkil, mampirlah di Kampung Baru untuk mendapatkan jamur sawit. Jamur sawit memiliki cita rasa khas yang berbeda dari jamur pada umumnya.(dede rosadi)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved