Viral! Sebuah Buku Terbitan Tahun 1981 Prediksi Kemunculan Virus Corona di Wuhan Tahun 2020
Sylvia Browne memprediksi merebaknya penyakit yang berhubungan dengan pernapasan yang akan mendatangkan malapetaka di seluruh dunia.
Sementara itu, selain Sylvia, ada pula penulis thriller, Dean Koontz yang memiliki karya luar biasa yang diduga telah memprediksi corona melalui bukunya.
Dikutip dari World of Buzz, penulis Amerika, Dean Koontz, menulis tentang seorang ibu yang melakukan perjalanan.
Ibu tersebut, Christina Evans, dalam perjalanan untuk mencari tahu apakah putranya Danny masih hidup atau sudah meninggal dalam perjalanan berkemah.
Christina kemudian diceritakan berhasil melacak anaknya ke sebuah fasilitas militer, di mana ia ditahan setelah secara tidak sengaja terinfeksi mikroorganisme buatan manusia yang dibuat di pusat penelitian di Wuhan.
Berikut ini kutipan buku tersebut yang berisi percapakan tokoh Christina dan seorang pria di lab tempat putranya ditahan:
"Saya tidak tertarik dengan filosofi atau moralitas perang biologis," ucap tokoh Christina.
"Saat ini aku hanya ingin tahu bagaimana Danny bisa berada di tempat ini," bunyi buku itu.
"Untuk memahami itu," kata Dombey.
"Anda harus kembali dua puluh bulan. Saat itulah seorang ilmuwan Cina bernama Li Chen membelot ke Amerika Serikat, membawa rekaman disket tentang senjata biologis baru paling penting dan berbahaya dari Tiongkok pada dekade terakhir,"
"Mereka menyebut barang-barang itu 'Wuhan-400' karena dikembangkan di laboratorium RDNA mereka di luar kota Wuhan, dan itu adalah strain mikroorganisme buatan empat ratus yang dibuat di pusat penelitian, ”
• Seorang Pejabat Korea Utara Ditembak Mati karena Langgar Masa Karantina Virus Corona
Teori Konspirasi tentang Corona Virus
Masih dikutip dari World of Buzz, pusat penelitian yang dibicarakan buku ini bisa merujuk ke Institur Virologi Wuhan.
Tempat itu merupakan satu-satunya laboratorium biosafety level empat China.
Laboratorium itu memiliki klasifikasi tingkat tertinggi yang mempelajari virus paling mematikan.
Letak laboratorium itu berada 32 kilometer dari tempat Covid-19 pertama kali pecah.