Amalan, Alumni UIN Ar-Raniry yang Memilih Mengabdi untuk Anak-anak Mualaf di Pedalaman Aceh Tengah
Di dusun tersebut, tercatat dihuni sebanyak 87 kepala keluarga. Mayoritas di antaranya merupakan petani kebun serta pengungsi dari Sumatera Utara
Amalan, Alumni UIN Ar-Raniry yang Memilih Mengabdi untuk Anak-anak Mualaf di Pedalam Aceh Tengah
Laporan Yocerizal | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Pria muda itu bernama lengkap Amalan Shalihan. Dia merupakan alumni dari Fakultas Tarbiyah Bimbingan Konseling UIN Ar-Raniry angkatan 2006.
Jika para alumni lain beramai-ramai berkantor di daerah perkotaan, Amalan demikian ia biasa disapa, justru sebaliknya.
Ia lebih memilih mengabdi di Dusun Kala Wih Ilang, Desa Wih Ilang, Kecamatan Pegasing. Sebuah daerah terpencil di pedalaman Aceh Tengah.
Amalan telah mengabdi di daerah terpendil itu sejak tahun 2012 sebagai guru bakti di Ibtidaiyah Swasta (MIS) Wih Ilang. Tahun 2017 ia menjadi tenaga honorer penyuluh agama, masih di desa yang sama.
Desa Wih Ilang sendiri berjarak sekitar 25 menit perjalanan dari pusat Takengon, yang merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah.
Kemudian dari desa ke Dusun Kala Wih Ilang tempat Amalan mengabdi butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan.
• Komunikasi Dua Sahabat Aceh - India Terkait Kondisi Terkini Kerusuhan di India
• Sebelum Virus Corona Harga Masker di Bireuen Rp 500 Sekarang Rp 3.000/ Lembar, Begini Persediaannya
• Setelah Cedera Rahang Usai Lawan Bhayangkara FC, Bek Persiraja Mitter Tetap Siap Hadapi Madura FC
“Jalannya terjal dan tidak bisa ditempuh dengan mobil biasa, harus double cabin,” kata Amalan kepada Serambinews.com, Senin (2/3/2020)
“Kalau hujan, jalan berlumpur. Kalau sedang terik, bongkaran tanah dari tebing dan jalan sering amblas,” tambahnya.
Teman Amalan, Tgk Hambali, mengungkapkan, berdasarkan data dari Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Tengah, Dusun Kala Wih Ilang merupakan daerah pelosok yang memang perlu perhatian dari semua pihak.
Di dusun tersebut, tercatat dihuni sebanyak 87 kepala keluarga. Mayoritas di antaranya merupakan petani kebun serta pengungsi dari Sumatera Utara pascameletusnya gunung Sinabung beberapa waktu lalu.
“Saat awal-awal mengungsi, mayoritas adalah nonmuslim. Tetapi sejak 2017 lalu ada yang menjadi mualaf sebanyak 11 orang,”.
“Kemudian menyusul 7 orang lainnya di 2018, dimana termasuk saya yang mensyahadatkan mereka,” ungkap Tgk Hambali, alumni Timur Tengah yang kini bertugas di Kemenag Aceh Tengah ini.
• Viral, Bus Disulap Jadi Musalla Portable, Dilengkapi Tangki Air, Pipa Wuduk, AC, Sandal, dan Sajadah
• Warga Diimbau Waspada Terhadap Penipuan Mengatasnamakan Lelang Indonesia
• Jika Masker Habis di Pasaran, Ketua IDI Aceh Imbau Warga jangan Khawatir, Begini Solusinya
Amalan juga membenarkan apa yang disampaikan Tgk Hambali. Amalan selama ini bertugas membimbing anak-anak mualaf dari para petani miskin di Dusun Kala Wih Ilang.
“Saya tak ingin mereka terlantar hanya karena tinggal di pelosok. Tugas saya adalah untuk memastikan anak-anak ini, kaum mualaf dari ibu-ibu untuk mendapat pendidikan yang layak,” ujarnya.
Di Dusun Kala Wih Ilang, sebut Amalan, tak semua penduduknya beragama Islam. Ada sekitar 14 kepala keluarga masih berstatus nonmuslim.
“Makanya yang sudah mualaf benar-benar saya jaga agar tak kembali ke agama semula,” ungkapnya.
Beruntung kabar tentang Dusun Kala Wih Ilang sampai ke jajaran Kemenag Aceh pada 2017 lalu. Jajaran itupun kemudian turut ke lokasi untuk melihat kondisi di sana.
“Selain saya, di sana ada juga ibu Sulastri yang mengajar di MIS Wih Ilang. Kondisi MIS masih jauh dari kata layak. Jadi kondisinya komplet,” ujar pria muda itu.
Berkat perjuangan Amalan dan beberapa guru lainnya di MIS Wih Ilang, sebanyak 5 anak di sekolah tersebut, termasuk di antaranya anak mualaf, mendapat beasiswa dari Kemenag Aceh untuk dapat melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah modern hafalan Alquran di Banda Aceh.
“Tiga dari lima anak itu adalah mualaf. Ini yang membuat saya sangat senang. Mereka memperoleh beasiswa hingga selesai Aliyah. Mudah-mudahan suatu saat bisa pulang ke Wih Ilang dan membumikan Alquran,” harap Amalan.
Jalan yang terjal dan jauh, sarana pendidikan yang minim, dan ekonomi masyarakat yang rata-rata di bawah kemiskinan menjadi tanggung jawab dari Amalan Shalihan serta beberapa guru yang mengabdi di Wih Ilang. Belum lagi kondisi fasilitas kesehatan yang masih minim.
“Saya harus bertahan demi keluarga mualaf di sana. Doakan saya sehat dan dapat terus mengabdi,” ujar pria yang berstatus ayah dari satu anak ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/amalan-bersama-anak-anak-mualaf.jpg)