Lockdown, Perbanyak Baca Quran, Zikir, Hingga Doa Tolak Bala

Hadis menjadi dasar bagi kalangan dayah (pesantren tradisional) di Aceh untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19)

Lockdown, Perbanyak Baca Quran, Zikir, Hingga Doa Tolak Bala
DOK TGK FAISAL ALI
Santri Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh, Aceh Besar membaca Alquran, berzikir, shalawat, dan doa tolak bala secara berjamaah di dayah tersebut dengan harapan wabah virus corona bisa segera berakhir, Senin (16/3/2020). 

* Cara Dayah Cegah Virus Corona

"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu". (hadis riwayat Bukhari dan Muslim) 

Hadis tersebut menjadi dasar bagi kalangan dayah (pesantren tradisional) di Aceh untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19) yang kini menjalar ke Indonesia. Karenanya, ketika pemerintah mengeluarkan instruksi meliburkan aktivitas belajar mengajar di sekolah  dan pesantren, sejumlah dayah memilih jalan mengisolasi diri dari dunia luar.

Data diperoleh Serambi Senin (16/3), sejumlah dayah di Aceh memutuskan tetap melanjutkan proses belajar mengajar. Namun, dayah-dayah ini melakukan lockdown atau mengarantina seluruh santrinya dari dunia luar.

Selama 14 hari, sesuai anjuran pemerintah, para santri dayah ini tidak dibenarkan ke luar. Dayah-dayah tersebut juga mengeluarkan aturan melarang kunjungan tamu, termasuk orang tua atau wali santri.

Para santri akan fokus belajar, memperbanyak baca Alquran, berzikir, shalawat, dan membaca doa tolak bala setiap selesai shalat fardhu. Memohon kepada Allah agar menjauhkan wabah virus corona di Nanggroe Aceh Darussalam.

Informasi dihimpun Serambi, di antara dayah yang mengambil jalan tersebut adalah, Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Sibreh dan Darul Ihsan Abu Krueng Kale (Aceh Besar), MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen, Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan, dan banyak dayah lainnya di seluruh Aceh.

Aturan lockdown tersebut sebenarnya sudah diterapkan pada zaman sahabat Rasullullah sekitar tahun 18 Hijriah. Kala itu, Khalifah Umar bin Khattab ra bersama para sahabatnya berjalan dari Madinah menuju negeri Syam.

Saat hendak memasuki negeri Syam, mereka berhenti di daerah perbatasan karena mendengar ada wabah Tha'un Amwas (penyakit menular berupa benjolan yang berakibat pendarahan) yang melanda negeri tersebut.

Ketika itu, terjadi dialog apakah mereka harus tetap masuk dan pulang. Perdebatan itu berakhir setelah Abdurrahman bin Auf ra. mengucapkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

"Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu."

Jangan takut berlebihan

Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Tgk H Faisal Ali kepada Serambi Senin (16/3) mengatakan, dalam menyikapi virus corona tidak mesti harus meliburkan kegiatan belajar mengajar. "Kegiatan santri dalam satu bulan terakhir ini diprioritaskan dengan baca Alquran, istiqfar, zikir, shalawat, dan doa tolak bala," kata Tgk Faisal yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh ini.

Kegiatan itu, lanjut Tgk Faisal, dilakukan setiap waktu shalat fardhu, dan secara khusus dilaksanakan secara berjamaah setiap hari dimulai dari pukul 14.30 WIB sampai dengan masuknya jadwal shalat Ashar.

Tgk Faisal meminta masyarakat untuk tetap tenang dalam menghadapi wabah virus yang berasal dari Wuhan, Cina tersebut. "Tetap tenang dengan penuh kewaspadaan tetapi tidak boleh berlebihan," ujarnya.

Dalam agama, sambung ia, setiap orang wajib berusaha dengan sengenap upaya. Usaha juga harus diiringi dengan istiqfar, membaca Alquran, berzikir, shalawat dan berdoa tolak bala dengan maksimal. "Jangan sekali dua kali saja. Tapi berdoa hingga wabah virus ini hilang. Juga dianjurkan untuk memperbanyak sadaqah. Tapi jangan takut berlebihan, seperti takut beraktivitas dan lain-lain," ungkapnya.

Di Darul Ihsan Abu Krueng Kale mengeluarkan maklumat yang berisi 13 aturan. Salah satu dewan guru dayah itu, Tgk Mustafa Husen Woyla mengatakan salah satu alasan dayah tidak meliburkan santri karena santri akan lebih terjaga dari kontak pihak luar ketika dikarantina. "Dengan kata lain, jika kegiatan belajar diliburkan, seluruh santri akan menyebar pulang ke kampungnya masing-masing, maka akan lebih besar mudharat ketimbang manfaatnya," kata Tgk Mustafa.  

Selain itu, pintu gerbang dayah digembok selama 14 hari mulai dari tanggal 16-29 Maret 2020 atau selama sekolah diliburkan berdasarkan imbauan pemerintah. Selama itu, wali santri dan tamu dilarang berkunjung ke dayah. 

"Jika terpaksa menerima tamu, maka dayah akan melakukan disterilisasi dengan hand sanitizer atau disinfektan terhadap tamu, termasuk guru domisili luar. Petugas belanja dayah dan awak kantin serta laundry juga akan disterilkan secara ketat," ungkap Mustafa.(mas)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved