Tak Lockdown, Ini yang Dilakukan Korea Selatan untuk Tekan Penyebaran Virus Corona
Hebatnya Korea Selatan bisa menahan pertumbuhan wabah mematikan asal China ini tanpa lockdown sama sekali.
Keberhasilan Korea Selatan menahan angka infeksi tidak jauh dari proses tes yang masif di sana.
Bahkan Korea Selatan dikatakan sebagai negara dengan progam pengujian paling luas dan terorganisir di dunia.
Kebijakan ini lantas dikombinasikan dengan upaya isolasi untuk mereka yang terinfeksi corona.
Selain itu juga melacak dan mengarantina siapapun yang pernah melakukan kontak dengan pasien.
Korea Selatan setidaknya telah menguji lebih dari 270.000 orang.
Ini adalah angka pengujian paling besar di antara negara terinfeksi Covid-19 lainnya.
Di bawahnya ada Bahrain yakni sebesar 5.200 tes, dinobatkan sebagai negara paling banyak melakukan tes corona juga.
Bahkan negara adidaya, Amerika Serikat hanya melakukan 74 tes per 1 juta penduduk.
"Kapasitas diagnostik pada skala adalah kunci mengendalikan epidemi," ujar Sarjana Penyakit Menular Universitas New South Wales Sydney, Raina Maclyntre.

Lee Man Hee, pimpinan sekte di Gereja Shincheonji Yesus di Daegu meminta maaf pada publik Senin, (2/3/2020). Permintaan maaf tersebut karena lebih dari separuh pengikut sektenya menjadi satu dari sumber penyebaran virus corona yang kini mewabah di Korea Selatan. Dianggap sesat dan kontroversional, sumbangan 12 Miliar Won dari sekte Shincheonji dikembalikan. (AFP/POOL)
Inilah yang sudah dilakukan dan dibuktikan Korea Selatan, setelah sempat terpuruk dalam kubangan kasus Covid-19.
"Pelacakan kontak juga sangat berpengaruh dalam pengendalian epidemi, seperti halnya isolasi khusus," tambahnya.
Kendati demikian, tidak ada jaminan bahwa keberhasilan Korea Selatan menahan infeksi bisa bertahan lama.
Sebab jumlah kasus baru bisa menurun sebagian besar karena pemerintah menguji anggota Gereja Shincheonji Yesus.
Dimana sang pemimpin gereja ini bersimpuh di depan awak pers karena tidak mengetahui perjalanan rohani mereka mengundang wabah corona yang besar.