Jurnalisme Warga
Mengapa Nanggroe Peusangan di Kala Itu Maju?
SEBAGAI akademisi yang berkecimpung dalam kegiatan paradiplomasi, saya mencintai ilmu sejarah. Saya coba mengupas secara singkat sejarah lokal
OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Umuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen,melaporkan dari Bireuen
SEBAGAI akademisi yang berkecimpung dalam kegiatan paradiplomasi, saya mencintai ilmu sejarah. Saya coba mengupas secara singkat sejarah lokal di tempat saya bertempat tinggal, yaitu di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kecamatan yang beribu kota di Matangglumpang Dua ini, dahulunya dikenal sebagai Nanggroe Peusangan. Negeri yang diperintah Teuku Chik Peusangan, mulai dari uleebalang (hulubalang) keturunan Po Njak Djat hingga Teuku Muhammad Hasan Alamsyah (1946).
Hampir semua uleebalang Peusangan lahir di Pulo Iboh yang menjadi kediaman awal para raja Peusangan. Pulo Iboh adalah nama salah satu gampong yang berada di Kecamatan Jangka.
Nanggroe Peusangan dianugerahi tanah yang subur dan luas, di samping letak geografis yang strategis di lintas jalur Banda Aceh-Medan. Tidak berlebihan jika kita mengatakan, posisinya berada di lokus segitiga emas ekonomi Bireuen. Lanskap kebudayaan masyarakatnya menggambarkan tiga model relasi, yaitu “sawah-laut-gampong”, “bukit-sawah-gampong”, dan “hutan-sawah-gampong.” Lanskap ini memengaruhi varian mata pencaharian masyarakat, yaitu bertani, berkebun, menjadi petani tambak, dan nelayan.
Wilayah otoritas Uleebalang Peusangan cukup luas hingga ke Peudada (sebelah barat) dan ke Kuala Meuraksa, Gampong Punteuet, dan Gle Meunaleueng (di sebelah timur). Jauh lebih luas dibandingkan dengan luas wilayah Kecamatan Peusangan saat ini, setelah Indonesia merdeka.
Sebelum tahun 2001 Kecamatan Peusangan merupakan kecamatan yang terluas di Provinsi Aceh. Baru pada 2001 (mengikuti pemekaran Bireuen tahun 2000, menjadi kabupaten baru yang terpisah dari Aceh Utara) dan setelahnya kecamatan ini dimekarkan hingga menjadi empat, yaitu Kecamatan Peusangan (sering disebut Peusangan Induk), Kecamatan Jangka, Kecamatan Siblah Krueng, dan Kecamatan Peusangan Selatan.
Dari keturunan Po Njak Djat, ada dua uleebalang yang begitu menonjol namanya dalam kancah politik, ekonomi, dan pemerintahan di Nanggroe Peusangan. Yang pertama adalah Teuku Chik Syamaun (1873-1900), anak dari Uleebalang Teuku Chik Muhammad Hasan. Yang kedua adalah Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah (1912-1942), anak pertama dari Teuku Syamaun, dari istri yang bernama Pocut Unggah, keturunan ninggrat dari Meureudu. Kecamatan Meureudu saat ini adalah ibu kota Kabupaten Pidie Jaya.
Teuku Syamaun berkarakter keras dan tegas. Ia seorang patriotik. Era kepemimpinannya adalah periode bergejolak Perang Kolonial Belanda di Aceh. Beberapa kali diminta menemui Gubernur Sipil dan Militer Belanda untuk mengakui kekuasaan Belanda di Nanggroe Peusangan, ia tidak sudi untuk datang. Ia tidak mau tunduk kepada penjajah Belanda. Ia lebih memilih melawan melalui perang dengan bergerilya di hutan yang berada di dekat hulu Sungai Peusangan. Mengetahui sikapnya yang tak mau berpihak kepada Belanda, gubernur menjadi murka.
Teuku Chik Syamaun bersumpah di hadapan pasukannya bahwa ia tidak akan sudi berjumpa dengan kafir Belanda. Di dalam hutan, bersama pasukan, ia menyusun strategi gerilya menghadapi serangan pasukan Jenderal van Heutz yang legendaris tersebut. Setelah berperang selama dua tahun, ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Ia dimakamkan di tengah hutan di markas komandonya (dalam tulisan Teuku Muhammad Isa).
Betapa terharu bercampur bangganya kita saat mengetahui betapa kuat prinsip yang dimiliki Teuku Chik Syamaun. Dengan kemauan keras menegakkan kebenaran dan tidak mau dijajah oleh Kolonial Belanda, akhirnya Allah Swt mengabulkan sumpahnya. Di tengah perang gerilya, ia tak pernah bertemu kafir Belanda hingga akhir hayatnya.
Semangat patriotik seperti yang dimiliki Teuku Chik Syamaun adalah gambaran yang juga dimiliki oleh para pejuang Aceh pada umumnya. Tidak hanya pemimpinnya, tapi juga rakyatnya. Laki-laki dan perempuan rela mengobarkan jiwa dan raga, serta berperang tiada henti demi mempertahankan negerinya. Banyak dari mereka yang jarang “disanjung” dan dikenal melalui tulisan-tulisan sejarah. Berbeda, salah satu contohnya, dengan perjuangan Pangeran Diponegoro yang berperang selama lima tahun (1825-1830), yang akhirnya bersedia menyerahkan diri. Tapi sejarah mencatat dengan menyanjungnya, bahkan banyak tulisan maupun berita bahkan mengultuskannya. Di Aceh, jika seorang pemimpin ditawan maka perang tidak akan berakhir karena akan terus muncul pemimpin-pemimpin baru yang akan melanjutkan perjuangan.
Sepeninggalan Teuku Chik Syamaun, Nanggroe Peusangan memasuki era baru di bawah kepemimpinan Teuku Chik Muhammad Johan Alamsyah (dengan panggilan Ampon Chik Peusangan). Ekonomi nanggroe yang krisis karena terpengaruh perang melawan Belanda di masa Teuku Chik Syamaun, menjadi tantangan tersendiri bagi Ampon Chik Peusangan untuk menata kembali ekonomi negerinya.
Ampon Chik Peusangan dikukuhkan sebagai Uleebalang Peusangan oleh Sultan Aceh, Tuanku Muhammad Daud Syah pada usia 10 tahun. Pengukuhan ini dilakukan secara diam-diam di sela kunjungan Sultan Aceh ke Matangglumpang Dua, ibu kota Nanggroe Peusangan. Setelah mendapat berita dari utusan Teuku Chik Syamaun bahwa uleebalang yang sedang berada di hutan sedang mengalami sakit berat, maka dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ampon Chik langsung dilantik tanpa sepengetahuan Belanda.
Jiwa kepemimpinan dan diplomasi mengalir dalam diri Ampon Chik Peusangan. Pendekatan yang dilakukan berbeda dengan apa yang telah dilakukan orang tuanya. Ia tidak memilih konflik secara frontal dengan Belanda yang justru akan menjadi korban dan menderita adalah rakyatnya sendiri. Ia lebih fokus membangun ekonomi negerinya dan memulai memajukan dunia pendidikan. Di tengah suasana tenang, ia lakukan inisiasi, pemindahan makam orang tuanya, Teuku Chik Syamaun, dari dalam hutan ke Gle Sabe di Matangglumpang Dua. Di samping bukit tersebut terdatang pasar tradisional Matang.
Ampon Chik bersama kalangan ulama, yaitu Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku Ibrahim Meunasah Barat, Teungku Abbas Bardan, Teungku Abed Idham, Habib Muhammad, Teungku Ridwan, dan ulama serta tokoh lainnya, menginisiasi pembentukan perhimpunan Jami’ah Almuslim pada 24 November 1929 (21 Jumadil akhir 1348 H). Melalui perhimpunan ini, Ampon Chik mewakafkan sejumlah bidang tanah untuk didirikan yayasan dan sekolah. Diawali dengan mendirikan sekolah berdinding kayu dengan dua lokal (lokasinya di SMP Negeri Peusangan). Dua tahun kemudian, 28 Mei 1931 dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Madrasah Almuslim. Ulama dan umara sepemahaman, hanya melalui pendidikan, transformasi sosial untuk menggapai kemerdekaan, terbebas dari belenggu penjajah dapat diraih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teuku-cut-mahmud-aziz-fil-ma-dosen-prodi-hubungan-internasional-fisip-universitas-almuslim.jpg)