Rabu, 3 Juni 2026

Luar Negeri

Ada Lowongan Pekerjaan di Austria, Ini Dia Kriterianya

Para petani Austria membutuhkan para pekerja asing dalam jumlah banyak, seusai seluruh Eropa memberlakukan lockdown.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/ALEX HALADA
Gabriela Schreiber mengatur bibit sayur-sayuran di dalam rumah kaca, kawasan pertanian organik Steinebrunn, Austria, dekat perbatasan Ceko pada 16 April 2020. 

SERAMBNEWS.COM, WINA - Para petani Austria membutuhkan para pekerja asing dalam jumlah banyak, seusai seluruh Eropa memberlakukan lockdown.

Seperti satu pertanian keluarga Schreiber di Desa Steinebrunn di hilir Austria, hanya satu lemparan batu dari perbatasan Ceko, biasanya bergantung pada aliran bebas pekerja dari negara Eropa Timur itu.

“Saat perbatasan itu ditutup karena virus Corona baru menyebar ke seluruh Eropa, kami tidak berdaya lagi," kata pemilik pertanian, Gabriela Schreiber, seperti dilansir AFP, Jumat (24/4/2020).

"Kita tidak bisa membuatnya sendiri tanpa bantuan," katanya, seraya menambahkan mereka takut gagal panen tahun ini.

Sedangkan beberapa peternak Austria menerbangkan pekerja dari Eropa timur, sebuah pola yang diulang di bagian benua lainnya.

Pertanian yang lebih kecil beralih ke skema yang dibuat oleh kementerian pertanian dengan orang-orang tidak bekerja karena dampak lockdown.

Sekitar 20.000 orang mencari pekerjaan melalui portal, yang disebut dielebensmittelhelfer.at ("penolong makanan").

Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 pelamar, kebanyakan dengan pengalaman sebelumnya dan bersedia bekerja penuh sedang dalam proses.

Sekitar 450 peternakan terutama kecil dan menengah mencari sekitar 4.000 pekerja telah mendaftar sejauh ini.

Menurut Asosiasi Petani Austria, sektor ini ditandai dengan struktur kecil yang telah membantu menghadapi krisis.

Negara itu tampaknya juga lebih berhasil menarik generasi muda ke pertanian: menurut Komisi Eropa.

Austria memiliki proporsi tertinggi petani di bawah 40 di UE, yaitu 22 persen.

Schreiber mengatakan skema kementerian pertanian berjalan lancar untuknya.

Setelah mendaftar, dia dihubungi dalam beberapa hari untuk bertemu dua pelamar yang sekarang sibuk di pertanian untuk menanam sayuran, bunga, dan rempah-rempah..

Salah satunya adalah penjual grosir makanan Jan Simka, yang memiliki lebih banyak waktu sejak jam kerja dikurangi.

"Saya ingin menggunakan waktu ini dengan bijaksana dan membantu petani kami," kata pria berusia 43 tahun itu kepada AFP.

Dia mengakui pekerjaan itu lebih sulit dan lebih monoton daripada yang diduga.

Dia dan Kerstin Krueckl (23) mulai pukul 08.00 pagi dan bekerja sampai malam, tetapi tetap menjaga jarak.

Krueckl berasal dari keluarga petani dan studinya di bidang agronomi.

"Pekerjaan tampaknya sulit pada hari pertama," akunya.

"Anda harus belajar untuk mengatasi rasa lelah."

Keduanya mengatakan ingin memastikan rantai pasokan makanan Austria terus berjalan.

Beberapa petani lainnya berharap akan mendapatkan pekerja.

Seperti pemilik kebun stroberi Alexandra Ramhofer di wilayah Burgenland berharap banyak dari orang Austria sendiri.

Tersisa 15 Negara yang Masih Bebas dari Virus Corona, Berikut Daftarnya

Awal Ramadhan, Dua Orang Positif Corona di Aceh, Satu Lagi dari Abdya

Menaker Ida Fauziyah Sebut Sudah 1,5 Juta Orang di PHK dan Dirumahkan Dampak Covid-19

Pekerja juga dapat menegosiasikan upah atau gaji bulanan minimum, seperti panen ditetapkan sekitar 1.600 dolar AS atau sekitar Rp 25 juta sebelum dipotong pajak.

Rata-rata pendapatan per kapita disesuaikan dengan neto rumah tangga Austria adalah sekitar 2.500 euro atau sekitar Rp 42 juta, menurut data OECD.

Ramhofer juga sedang mencari 10 pekerja untuk menggantikan mereka yang biasanya datang dari Kroasia dan Polandia untuk panen mulai pertengahan Mei hingga Juni 2020.

Meskipun tidak mengharapkan peningkatan yang ingin bekerja, dia berharap orang-orang dapat menghargai pekerjaan pertanian dengan lebih baik.

"Apa yang disadari orang adalah kita membutuhkan pekerja, sehingga semakin banyak orang membeli dari petani secara langsung," kata Ramhofer kepada AFP

Adapun Schreiber, juga berpikir skema tidak mungkin bertahan pasca-krisis dan sangat ingin pekerja Ceko yang berpengalaman yang telah menjadi seperti keluarga sendiriuntuk kembali bekerja.

Negara Alpine, dengan hampir sembilan juta orang, telah terhindar dari krisis kesehatan sejauh ini, dengan sekitar 15.000 infeksi dilaporkan dan lebih dari 500 kematian.

Krueckl berencana berhenti bekerja dengan Schreibers di musim panas untuk kembali fokus pada studinya.

Sedangkan Simka juga mengatakan akan kembali ke pekerjaan penuh begitu jam-jam kerja ditingkatkan lagi, yang bisa terjadi bulan depan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved