Breaking News:

Salam

Dokter Ingatkan Potensi Serangan Corona Fase II  

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh mengingatkan kemungkinan adanya potensi serangan Covid‑19 tahap II di Aceh

SERAMBINEWS/NASIR NURDIN
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, Dr dr Safrizal Rahman MKes SpOT 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Aceh mengingatkan kemungkinan adanya potensi serangan Covid‑19 tahap II di Aceh, yang bisa jadi eskalasinya lebih besar dari sebelumnya. Ancaman terbesar datang dari provinsi tetangga Sumatera Utara dan negeri jiran Malaysia, ditambah lagi adanya anggapan masyarakat bahwa Aceh sudah aman dari Covid‑19. Ditegaskan, "warning" ini bukan untuk menakut‑nakuti masyarakat, melainkan mengingatkan masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap virus itu.

Menurut Ketua IDI Wilayah Aceh,  ada sebagian masyarakat saat ini berangapan bahwa Aceh sudah aman dan sudah terbebas dari Covid‑19. Anggapan tersebut muncul setelah sembuhnya empat pasien Covid‑19 dua minggu lalu, dan Aceh sempat mengalami nol kasus positif sebelum kemudian bertambah dua pasien lagi.

Anggapan tersebut membuat masyarakat Aceh menjadi rileks. Anjuran pemerintah agar melakukan social distancing dan physical distancing tidak lagi diindahkan, kedai kopi dan tempat wisata juga kembali ramai. "Padahal sebenarnya sekitar kita masih terus bergejolak, bahkan eskalasinya makin tinggi, seperti di Sumatera Utara (Sumut)," imbuhnya.

Karena itu, mengabaikan anjuran pemerintah tentang social distancing akan menyebabkan kelompok terpapar yang terdeteksi dapat bersosialisasi berada di tengah keramaian dan menyebarkan penyakit ke orang lain. "Harapan kita, Aceh saat ini memang seperti anggapan masyarakat dan mudah‑mudahan tidak ada peningkatan kasus. Tetapi kita juga harus mempersiapkan diri sebaik‑baiknya untuk menghadapi kondisi yang terburuk," tambahnya.

Diperingatkan pula bahwa ancaman berikutnya datang dari Sumatera Utara (Sumut) yang saat ini merupakan epicentrum baru kasus Covid‑19 di Sumatera dengan jumlah kasus pasien positif mencapai lebih dari 90 orang sampai dua hari lalu.

Setiap harinya, ratusan kendaraan keluar masuk Aceh‑Sumut  melalui tiga pintu perbatasan, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Subulussalam. Bila tidak dilakukan pengawasan ketat dan serius, bukan mustahil Aceh akan kembali mendapatkan kasus impor dari Sumut. "Satu kasus positif terbaru yang kita miliki membuktikan bahwa pasien punya riwayat pulang dari Kota Medan (Sumut)."

Terkait dengan Corona, harapan kita tentu Aceh ini tidak seperti api dalam sekam. Akan tetapi para ahli mengatakan, angka penularan Covid‑19 berpotensi bertambah secara eksponensial. Perkembangannya mengikuti deret ukur yang jumlahnya berangsur membesar dan kemudian tak terkendali jika tidak ada upaya segera mengurangi laju penyebaran dengan menghilangkan faktor‑faktor penting yang dapat memperluas wabah penyakit ini.

Pertumbuhan cepat serupa terjadi di Italia, Iran, dan Korea Selatan. Dampaknya, rumah sakit dan petugas kesehatan di sana kewalahan menangani ribuan pasien yang butuh perawatan bersamaan. Jika pemerintah kita, khususnya di Aceh, bersama masyarakat  tidak segera secara serius berusaha memotong laju pertumbuhan virus, potensi penularan virus akan makin meluas sebagaimana dikatakan pihak IDI Aceh.

Karena itu di bulan Ramadhan yang biasanya ada banyak kegiatan buka bersama dan malamnya shalat tarawih di masjid yang melibatkan banyak orang dan kontak dekat antarorang, ini harus hati‑hati. Jika sudah diwajibkan menggunakan masker saat ke masjid atau meunasah, maka itu harus dipatuhi. Begitupula sudah diminta masing‑masing jamaah membawa sendiri sajadah dari rumah, ini juga jangan pura‑pura lupa. Semua harus ingat, semua harus patuh jika ingin semua kita selamat dari ancaman Corona.

Dalam kondisi apapun, sebagai muslim tentu kita tak boleh mengurangi kualitas dan kuantitas ibadah kita di bulan yang agung ini. Akan tetapi, kita memang tak dapat melaksanakan banyak ibadah kita secara leluasa di Ramadhan kali ini. Ada keterbatasan‑keterbatasan yang harus kita patuhi.

Apa boleh buat, demi mencegah sebaran Corona kali ini kita tak memaksa diri untuk menggelar acara buka puasa bersama sebagaimana kebiasaan tahun‑tahun sebelumnya. Tapi, kita punya banyak cara untuk berkenduri, misalnya mengantar langsung bantuan kita ke anak yatim dan fakir miskin lebih baik daripada mengajak mereka berkumpul di satu tempat. Jadi, sedapat mungkin jangan berkumpul, misalnya untuk buka bareng, asmara subuh, ngabuburit, dan lain‑lain. Bila harus berkumpul, maka patuhi anjuran MPU dan protokol kesehatan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved