Jumat, 5 Juni 2026

Salam

Kesigapan yang Dinanti Penyintas

Hujan deras yang disertai angin kencang pada awal Juni 2026 merusak sedikitnya 58 unit hunian sementara (huntara)

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI KAMIS 20260604 

Musibah kembali menyapa warga Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Ketika mereka perlahan mulai menata kehidupan setelah diterjang banjir besar pada November 2025, cobaan lain datang tanpa diduga. 

Hujan deras yang disertai angin kencang pada awal Juni 2026 merusak sedikitnya 58 unit hunian sementara (huntara) yang selama ini menjadi tempat berlindung para penyintas banjir.

Bagi sebagian orang, kerusakan huntara mungkin hanya dipandang sebagai rusaknya bangunan sementara. Namun bagi warga yang menghuninya, peristiwa itu jauh lebih dari sekadar kerusakan fisik. 

Huntara merupakan simbol harapan, tempat mereka memulai kembali kehidupan setelah kehilangan rumah, harta benda, dan berbagai kenangan akibat bencana banjir yang melanda beberapa bulan lalu.

Karena itu, rusaknya puluhan huntara akibat angin kencang sesungguhnya merupakan pukulan psikologis yang tidak ringan. Saat mereka mulai merasakan sedikit ketenangan dan kepastian, musibah kembali datang dan memaksa sebagian warga menghadapi ketidaknyamanan bahkan kemungkinan mengungsi lagi.

Kita tentu bersyukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerusakan yang terjadi tetap harus dipandang sebagai keadaan darurat yang membutuhkan respons cepat dan serius dari pemerintah. 

Perlu dipahami bahwa para penyintas banjir di Langkahan bukanlah masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi memadai untuk segera memperbaiki sendiri kerusakan huntara yang mereka tempati. Sebagian besar dari mereka bahkan masih berusaha bangkit dari kehilangan yang ditimbulkan banjir sebelumnya. 

Dalam kondisi seperti itu, sangat tidak realistis jika beban pemulihan kembali diletakkan di pundak masyarakat. Mereka membutuhkan kehadiran negara melalui pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat. 

Kita mengapresiasi langkah BPBD Aceh Utara yang segera melakukan pendataan dan koordinasi pascabencana. Namun pendataan saja tentu tidak cukup. Yang lebih penting adalah tindak lanjut yang cepat, terukur, dan menyentuh kebutuhan nyata warga. 

Penyediaan tempat tinggal darurat bagi korban yang huntaranya rusak berat, bantuan logistik, hingga percepatan rehabilitasi harus segera diwujudkan. Lebih jauh lagi, peristiwa ini semestinya menjadi pengingat bahwa pembangunan hunian tetap bagi para penyintas perlu mendapat perhatian lebih serius. 

Selama masyarakat masih tinggal di huntara, tingkat kerentanan mereka terhadap berbagai ancaman bencana akan tetap tinggi. Karena itu, percepatan pembangunan hunian permanen harus menjadi prioritas agar warga memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

Kehadiran pemerintah yang sigap akan memberikan rasa aman sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa negara benar-benar hadir di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

Warga Langkahan telah terlalu banyak menanggung beban dalam beberapa bulan terakhir. Mereka kehilangan rumah akibat banjir, lalu berusaha bangkit di hunian sementara, dan kini kembali menghadapi kerusakan akibat angin kencang. Sudah sepatutnya mereka memperoleh perhatian dan dukungan yang lebih besar.

Untuk itu, sekali lagi, kita mengingatkan bahwa Pemerintah harus hadir lebih cepat, lebih nyata, dan lebih berpihak kepada mereka yang paling membutuhkan. Semoga!

POJOK

Pejabat Bea Cukai pakai uang suap beli cerutu

Memang, cerutu itu bisa mengangkat dan menjatuhkan pejabat, tahu?

Diduga korupsi MBG, Kejagung jemput paksa Dadan Hindayana Cs

Nah, apa kata Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, kan?

KPIA mulai hapus konten medsos yang bertentangan dengan syariat

Tapi kasus penangguhan pelanggaran syariat jangan dihapus ya?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved