Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Meraih Keberkahan Harta

Harta menurut ulama: sesuatu yang berwujud dan dapat dipegang dalam penggunaan dan manfaat pada waktu yang diperlukan

Meraih Keberkahan Harta
For Serambinews.com
Tgk H. Masrul Aidi, LC, Pimpinan Pesantren Babul Magh¬rah Cot Keueng Aceh Besar. Da'i, Ulama Muda Aceh.

 Harta menurut ulama: sesuatu yang berwujud dan dapat dipegang dalam penggunaan dan manfaat pada waktu yang diperlukan.

Meraih Keberkahan Harta
Meraih Keberkahan Harta (For Serambinews.com)

SERAMBINEWS.COM, - Seiring perjalanan waktu, asosiasi setiap orang saat disebutkan “harta”, cenderung memaknai sebatas uang saja. De­nisi tentang orang kaya pun bergeser dari orang yang memiliki banyak harta menjadi orang yang memiliki banyak uang. Di masa lalu uang berbentuk logam mulia seperti emas dan perak, nilai uang adalah seharga emas dan perak, berlaku universal dan laku dimana saja, lalu pelan pelan berganti ke uang kertas dengan berbagai variasi nama mata uangnya. 

Bila dulu dinar adalah sebutan untuk uang dari emas dan dirham untuk uang dari perak, sekarang keduanya menjadi nama mata uang kertas untuk Negara tertentu, seperti Kuwait dengan mata uang dinar da am Irak dengan mata uang dirham Al-Qur’an menyebut kata harta (al-mal) tidak kurang dari 86 kali.

Penyebutan berulang-ulang terhadap sesuatu di dalam al-Qur’an menunjukkan adanya perhatian khusus dan penting terhadap sesuatu itu. Harta merupakan bagian penting dari  kehidupan yang tidak dapat dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya.

Islam mengapresiasi orang-orang yang mencari harta, dan memberikan keutamaan dengan sebab menafkahI, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. An-Nisâ : 34

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah Ketika menafsirkan ayat dia atas berkata, “(Dengan sebab harta yang mereka belanjakan) berupa mahar, nafkah dan tanggungan yang Allâh Azza wa Jalla wajibkan atas mereka, seperti tersebut dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya, maka, pria lebih utama daripada wanita serta memiliki kelebihan dan keunggulan di atas wanita, sehingga pantas menjadi pemimpin bagi wanita.”

Demikian pula halnya Rasulullah saw, beliau juga memotivasi umat untuk giat mencari harta dan menjadikan akti­tas tersebut sebagai bagian dari ibadah yang bersifat wajib, sebagaimana sabda beliau, “Mencari (harta) yang halal adalah wajib bagi setiap Muslim.” (HR ath-Thabarani)Abdullah bin Mas’ud ra menuturkan, Rasul Saw. bersabda:

“Mencari (rezeki) yang halal adalah kewajiban setelah salat fardhu” (HR ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabîr,  al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Imân, Di bulan Ramadan yang mulia ini, akti­tas apapun yang bernuansa ibadah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, istimewanya lagi, bila dilakukan oleh seorang yang dermawan dengan niat berbagi dengan hamba Allah yang lainnya (Al-Baqarah):261 – Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.

Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sebagaimana Allâh mengancam orang-orang yang pelit, harta yang dicari hanya untuk ditimbun tanpa berinvestasi, sehingga manfaat harta tersebut terhenti, tidak bermanfaat untuk orang lain bahkan tidak pula untuk dirinya At-Tawbah : 34 - ...

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.

Menafkahkan harta di jalan Allah bisa berarti zakat, sedekah, hadiah, hibah, wakaf dan lainnya, bisa pula makna infak di ayat tersebut mempergunakan harta melalui jalur investasi, karena kata orang bijak, memberi kail lebih baik daripada memberi ikan.

Menafkahkan harta melalui investasi lebih menjaga martabat penerima manfaat, karena pemberi dan penerima berada pada posisi yang sama. Masalahnya adalah banyak orang kaya yang enggan berinvestasi, bukan karena malas atau pelit, melainkan karena tidak amanahnya penerima manfaat.

Tidak jarang niat baik orang-orang kaya disalahgunakan untuk hal yang tidak baik. Oleh karena itu diperlukan instrument yang akuntabel yang dapat menampung kekayaan para aghniya dan memberikan ketenangan batin untuk mereka, karena hartanya berada di tangan orang-orang yang amanah untuk disalurkan kepada pihak yang membutuhkan modal usaha sesuai dengan kelayakan.

Disinilah peran pihak bank sebagai mediator antara pemilik modal dengan pengusaha. Bank yang dapat mengakomodirkepercayaan pemilik modal dan kebutuhan pengusaha dalam batasan nilai nilai syariah yang universal. (*)

Editor: iklan@serambinews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved