Kamis, 21 Mei 2026

Luar Negeri

Perang Sebabkan 19 Juta Anak-anak Ikut Mengungsi

erang dan bencana alam di berbagai belahan dunia telah menyebabkan sekitar 19 juta anak-anak ikut mengungsi bersama orangtuanya.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Saleh Al-OBEIDI
Sejumlah anak-anak duduk di pinggiran sungai saat pekerja Dewan Transisi Selatan (STC) akan menyemprotkan cairan disinfektan untuk mencegah penyebaan virus Corona di kawasan kumuh di Distrik Khor Maksar, Kota Aden, Yaman, Selasa (5/5/2020). 

SERAMBINEWS.COM, NEW YOK – Perang dan bencana alam di berbagai belahan dunia telah menyebabkan sekitar 19 juta anak-anak ikut mengungsi bersama orangtuanya.

Badan anak-anak PBB, Selasa (5/5/2020)  melaporkan sekitar 19 juta anak-anak melarikan diri dari kekerasan dan konflik sepanjang 2019.

Tetapi, mereka tetap di negara asal, dan jutaan lainnya terlantar akibat bencana alam juga perang saudara, seperti di Suriah.

Sebuah laporan UNICEF mengatakan telah terjadi peningkatan tajam dalam jumlah orang terlantar secara internal, atau pengungsi, sebagai akibat dari konflik dan kekerasan.

Dikatakan,  dari 25 juta orang satu dekade lalu menjadi lebih dari 40 juta orang dalam lima tahun terakhir ini.

Dikatakan, tahun lalu lebih dari 40% pengungsi berada di bawah usia 18 tahun, seperti dilansir AP, Selasa (5/5/2020).

Membuat anak-anak tetap terhibur di rumah, dengan ide kreatif Print & Play dari HP Inc.

Saudi Gencarkan Vaksin Anak-anak

Warga Bireuen Sudah Mulai Memburu Baju Lebaran untuk Anak-anaknya

"Jutaan anak terlantar di seluruh dunia tanpa perawatan dan perlindungan yang layak," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore dalam sebuah pernyataan.

"Ketika krisis baru muncul, seperti pandemi COVID-19, anak-anak ini sangat rentan,” tambahnya.

Hampir 33 juta pemindahan baru tercatat pada 2019, sekitar 25 juta karena bencana alam dan 8,5 juta karena konflik dan kekerasan, menurut laporan itu.

Termasuk juga 12 juta anak-anak, 3,8 juta orang terlantar akibat konflik dan kekerasan, dan 8,2 juta anak-anak akibat bencana yang sebagian besar terkait peristiwa banjir dan badai.

UNICEF mengatakan pandemi virus Coronamembuat situasi kritis bagi anak-anak dan keluarga yang kehilangan tempat tinggal menjadi lebih buruk tahun ini.

Laporan tersebut, 'Lost at Home,' mengatakan anak-anak yang kehilangan tempat tinggal tidak memiliki akses layanan dasar dan berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, pelecehan, perdagangan manusia, pekerja anak, pernikahan dini dan perpisahan keluarga.

UNICEF menyerukan investasi strategis dan upaya terpadu dari pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, kelompok kemanusiaan dan anak-anak sendiri untuk mengatasi masalah ini.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved