Rabu, 20 Mei 2026

Pantai Tamiang Rawan Penyelundupan

Geografi laut Aceh Tamiang yang terhubung langsung dengan sejumlah negara memberikan celah masuk bagi pelaku

Tayang:
Editor: hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
Bea Cukai berhasil gagalkan penyelundupan 13 ton bawang merah ilegal di Perairan Air Masin, Aceh Tamiang, Kamis (30/4/2020). 

* Polres Masih Kekurangan Fasilitas Pendukung

KUALASIMPANG - Geografi laut Aceh Tamiang yang terhubung langsung dengan sejumlah negara memberikan celah masuk bagi pelaku penyelundupan barang haram. Mirisnya, Polres Aceh Tamiang belum dibekali fasilitas memadai untuk melakukan pengawasan berkala di sepanjang jalur pantai.

Kapolres Aceh Tamiang AKBP Zulhir Destrian mengakui pesisir timur Aceh menjadi primadona bagi pelaku penyelundupan untuk memasok barangnya ke Indonesia. Kondisi ini pula yang perlahan merubah Aceh yang awalnya hanya sebagai pemasok ganja meningkat menjadi “distributor” sabu-sabu.

Stigma surga narkoba yang terlanjur melekat di Aceh ini kata dia dipertegas dengan jumlah yang tidak pernah sedikit. Dari data sejumlah kasus yang ditangani, barang bukti yang ke luar dari Aceh tidak pernah di bawah satu kilogram. “Pasti puluhan kilogram , kalau dulu hanya ganja, sekarang ini sudah sabu-sabu,” kata Zulhir saat menerima penghargaan dari Gubernur Aceh di Aula Setdakab Aceh Tamiang, Selasa (5/5).

Dalam pemetaan yang sudah dilakukannya, di Aceh Tamiang surga penyelundupan ini berada di perairan yang ada di Kecamatan Bendahara dan Seruway. Zulhir mengakui pengawasan di dua kawasan ini akan sulit maksimal bila hanya mengandalkan fasilitas.

Secara terbuka dia mengungkapkan luasnya peredaran narkoba saat ini, tidak sebanding dengan peralatan teknologi yang dimiliki Polres Aceh Tamiang. Selama ini pihaknya hanya mengandalkan informasi dan fasilitas yang diberdayakan dari instansi lain.

“Tapi keterbatasan ini tidak menyurutkan semangat dari kawan-kawan (anggota), termasuk TNI juga. Berbekal informasi dari masyarakat akan kita tindak lanjuti,” ujarnya. Menurutnya, benteng utama pemberantasan narkoba dari masyarakat yang berani dan peduli, termasuk kepedulian camat beserta perangakat datok penghulu untuk memberi informasi peredaran narkoba. Kerja sama inilah yang kemudian diakui Zulhir sebagai salah satu faktor keberhasilan pihaknya mengungkap penyelundupan sabu-sabu 35 kilogram dan 3.000 butir pil ekstasi.

Keberhasilan ini pula yang kemudian membuat Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengganjar Kasat Resnarkoba Polres Aceh Tamiang Iptu Delyan Putra dan Kapolsek Bendahara AKP Asrul Rinaldi karena dinilai berhasil menyelamatkan ribuan anak bangsa dari ancaman bahaya narkoba.

“Penghargaan yang kami terima ini bagian dari tugas Polri dari penegakkan Kamtibmas dalam konteks pemberantasan peredaran narkoba di tengah masyarakat. Karena efek narkoba jahat, tidak ada baik-baiknya, membahayakan kesehatan tubuh dan yang parahnya lagi bisa menyebkan kematian,” kata Zulhir.

Bupati Aceh Tamiang H Mursil mewakil Plt Gubernur Aceh memahami beratnya tugas Polri dalam memberantas narkoba, terlebih saat ini fasilitas yang dimiliki bandar narkoba terbilang lebih canggih. Dia pun menilai deklarasi perang melawan narkoba perlu digaungkan lagi agar sampai ke seluruh elemen masyarakat.

“Masyarakat harus curiga kalau ada tetangganya tiba-tiba kaya mendadak, punya rumah besar dan mobil mewah tapi tidak ada kegiatan. Bisa jadi ini berkaitan dengan narkoba,” smbungnya.

Saat ini kata dia kesadaran masyarakat juga patut dipertanyakan, karena dalam pemberantasan narkoba tidak cukup dengan kekuatan polisi dan BNNK. “Kita akan kiamat dengan narkoba ini. Buktinya 90 persen penghuni LP kasus narkoba. Padahal ada LP khusus narkoba di Kota Langsa dan Banda Aceh tapi semua penuh,” tukasnya.(mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved