Suara Parlemen
Muslim: Bantu Petani, Pemerintah dan BUMN Agar Borong Kopi Gayo
Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta turun tangan mengatasi anjloknya harga kopi Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah...
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diminta turun tangan mengatasi anjloknya harga kopi Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua kabupaten penghasil kopi Arabika terpenting di Indonesia.
Caranya, Perusahaan BUMN memborong seluruh kopi petani, untuk kemudian dijua kembali setelah pandemi Covid mereda.
Usulan ini disampaikan wakil rakyat Aceh di Komisi IV DPR RI, Muslim SHI MM menanggapi anjloknya harga kopi pada level terendah.
"Saya mendapat keluhan soal ini. Saya sudah sampaikan dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, agar Pemerintah dan BUMN memborong seluruh kopi masyarakat. Sebab sementara ini tidak ada lagi pembeli kopi, akibat Pandemi Covid -19 melanda dunia," ujar Muslim di Jakarta, Kamis (7/5/2020).
Politis Demokrat dari daerah pemilihan Aceh 2 ini, antara lain meliputi Aceh Tengah dan Bener Meriah, mengatakan, sangat prihatin dan sedih mendapat kabar nasib petani kopi Gayo yang tidak ada pembeli.
"Tidak ada jalan lain, Pemerintah harus secepatnya turun tangan. Itu tadi, borong semua kopi petani," tukasnya.
Ia mengatakan, menghadapi lebaran, masyarakat membutuhkan biaya banyak. Karenanya dibutuhkan langkah tepat dan cepat mengatasi keadaan sulit ini.
"Harus ada kebijakan untuk menyelamatkan petani kita, bukan hanya kopi melainkan petani seluruhnya," lanjut Muslim.
Ia menyadari pandemi Covid berlangsung secara global, para pembeli kopi dari luar negeri menghentikan sementara akibat pandemi Covid-19di negara tujuan.
Harga kopi Gayo di tingkat petani benar benar-benar jatuh pada titik terendah akibat pandemi Covid-19. Kopi gelondong (chary) dihargai Rp 6.000 per bambu setara 1,3 Kg, dari Rp 12.000 sebelum pandemi.
Hal ini dikabarkan dua petani kopi Gayo di Aceh Tengah, Zam Zam Mubarak dan Win Nata Gayo.
Keduanya mengatakan, sementara ongkos panen mencapai Rp 25.000 per kaleng atau 10 bambu setara 13,3 Kg.
Harga green bean (biji hijau) saat ini dibawah Rp 65.000 per Kg. Sebelumnya selalu di atas Rp 65.000 untuk jenis kopi asalan.
"Harga sangat jatuh sekarang. Dipotong ongkos panen (ngutip), praktis petani tidak bisa bawa pulang apa-apa," kata Win Nata yang berdomisili di Pegasing Aceh Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muslim-shi-bantu-petani-kopi-saat-covid-19.jpg)