Salman Yoga, Menulis Puisi Corona, Memilih Lockdown di Kebun Kopi
Akhir -akhir ini jagad sastra Indonesia dipenuhi dengan tema Corona. Penyair dari berbagai daerah menuliskan puisi atau prosa bertema Corona..
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah
SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Akhir -akhir ini, jagad sastra Indonesia dipenuhi dengan tema Corona. Penyair dari berbagai daerah menuliskan puisi atau prosa bertema Corona, wabah yang merebak mila dari Wuhan China. Lalu menyebar ke hampir seluruh negara di dunia. Termasuk Indonesia.
Kalangan seniman merespon wabah ini dalam bentuk karya, baik puisi, cerita pendek, novel, musik, seni rupa dan sebagainya. Karya-karya tersebut dipresentasikan secara khas, dari rumah masing-masing dengan memanfaatkan jaringan internet.
Tak terkecuali Salman Yoga S. Penyair berdarah Gayo, bermukim di Kampung Asir-Asir Atas, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Ia juga tergerak menulis puisi tentang wabah. Ada tiga karya yang lahir dari pandemi Corona Virus Desease (Covid) 19, dua puisi berbahasa Indonesia dan satu karya berbahasa lokal, Gayo. Puisi tersebut adalah:
PAKANLAYA 18 COVID 19
Di Gayo
Abad 18 sebuah wabah pernah menyerang warga
Ibu kota Kerajaan Linge digemparkan oleh virus sejenis amuba
Buntul Linge yang ramai tiba-tiba tidak berdaya
Sebab musuh datang tidak diketahui dari mana
Tidak tampak juga tidak dapat diraba
Ia menyerang tanpa senjata
Tetapi dengan tubuhnya yang bersenyawa
Wabah itu bernama Pakanlaya
Wargapun dengan berat hati harus rela
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/salman-yoga-di-panggung-puisi.jpg)