Breaking News:

Kisah Inspiratif

Mengenal Said Akram, Maestro Kaligrafi Kontemporer Asal Aceh yang Karyanya Mendunia

Ia dikenal sebagai salah satu perupa kaligrafi nasional yang karya-karyanya sudah mendunia, dan tetap konsisten dalam kemegahan percaturan seni lukis

Penulis: Mawaddatul Husna | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HENDRI ABIK
Said Akram di depan salah satu karya kaligrafi kontemporer yang dipajang di ruang tamu rumahnya, Uleekareng, Banda Aceh, Minggu (10/5/2020). 

Terakhir almarhum yang meninggal pada tahun 2015 di Banda Aceh, menjabat sebagai Kepala Pendidikan Guru Agama (PGA) Sigli, yang belakangan berubah menjadi Madrasah Aliah Negeri (MAN) 1 Sigli.

"Kebetulan keluarga kita pemain kaligrafi. Ayah merupakan pelatih di Aceh, almarhum abang saya, Said Rabadian, juga pelatih kaligrafi. Karena terbiasa melihat di rumah, saya menjadi tertarik belajar seni ini," kata Said Akram kepada Serambinews.com, yang ditemui di kediamannya di Lamglumpang, Ulee Kareng, Banda Aceh, Minggu (10/5/2020).

Asrita, Mahasiswi Umuslim yang Jago Kaligrafi

Mahasiswa Aceh di Amerika Bekali Pengungsi Rohingya Kaligrafi Islam Kontemporer

Alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini lebih memilih berkarya di tempat asalnya di Kota Banda Aceh.

Di tempat inilah ia bekerja yang didukung dengan suasana yang lebih kondusif, baik dari keluarga dan lingkungan untuk bisa lebih fokus dan berkontemplasi mewujudkan ide dan gagasan yang nantinya menjadi karya visual.

Sejak lulus dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dan berkiprah sebagai profesional artis, ia sangat dikenal dengan style lukisan-lukisan kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek tetesan air dan akar yang membulat dan mengalir.

Ia berhasil ke luar dari kepungan pakem-pakem kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya.

Pergulatannya dengan lukisan kaligrafi adalah proses penelusuran lebih lanjut, terutama pada aspek estetika seni rupa yang digelutinya.

Tidak sekedar melukiskan kaligrafi, tapi mencari tipologi, representasi konsepsional, karakter dan identitas yang tepat bagi sang pelukis.

Akhirnya tampillah kaligrafi yang "cair", yang berair karena memang konsep tetesan air.

Estetika kaligrafi yang dipilih ini menjadi totalitasnya dalam memahami seni sebagai jalan untuk mencipta dan memperindah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved