Breaking News:

Said Akram dan Karya yang Mendunia    

Lelaki kelahiran Pidie, Aceh, 3 November 1967 ini bernama lengkap Said Akram SSn. Ia dikenal sebagai salah satu perupa kaligrafi nasional

SERAMBI/HENDRI
Said Akram mununjukan lukisan hasil karyanya yang dipanjangkan di dalam rumahnya di Kawasan Ule kareng, Banda Aceh, Minggu (10/5/2020). SERAMBI/HENDRI 

BANDA ACEH - Lelaki kelahiran Pidie, Aceh, 3 November 1967 ini bernama lengkap Said Akram SSn. Ia dikenal sebagai salah satu perupa kaligrafi nasional yang karya sudah mendunia, dan tetap konsisten dalam kemegahan percaturan seni lukis kontemporer dewasa ini.

Said Akram mulai terjun secara profesional ke dunia kaligrafi sejak 1992, dan sudah mengikuti lebih dari 50 pameran yang diadakan secara nasional maupun internasional.

Darah seni kaligrafi ternyata sudah mengalir dalam diri Said Akram yang diturunkan dari sang ayah. "Kebetulan keluarga kita pemain kaligrafi. Ayah merupakan pelatih di Aceh, almarhum abang saya juga. Karena terbiasa melihat di rumah terus jadinya tertarik," kata Said Akram kepada Serambi yang ditemui dikediamannya di Lamglumpang, Ulee Kareng, Banda Aceh, Minggu (10/5).

Alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia, Yogyakarta ini lebih memilih berkarya di tempat asalnya di kota Banda Aceh. Di tempat inilah ia bekerja yang didukung dengan suasana yang lebih kondusif, baik dari keluarga dan lingkungan untuk bisa lebih fokus dan berkontemplasi mewujudkan ide, dan gagasan yang nantinya menjadi karya visual.

Sejak lulus dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dan berkiprah sebagai profesional artis, ia sangat dikenal dengan style lukisan kaligrafi yang menonjolkan, dan mengambil efek lelehan air serta akar yang membulat dan mengalir. Ia berhasil keluar dari kepungan pakem kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya.

Pergulatannya dengan lukisan kaligrafi adalah proses penelusuran lebih lanjut, terutama pada aspek estetika seni rupa yang digelutinya. Tidak sekedar melukiskan kaligrafi, tapi mencari tipologi, representasi konsepsional, karakter dan identitas yang tepat bagi sang pelukis. Akhirnya tampillah kaligrafi yang "cair", yang berair karena memang konsep air.

Estetika kaligrafi yang dipilih ini menjadi totalitasnya dalam memahami seni sebagai jalan untuk mencipta dan memperindah. Misi profetis tentu dipahami oleh Said Akram bukan semata jalan mencipta keindahan hedonis, tetapi mencari jalur yang lebih sulit dan jarang ditapaki.

"Yaitu keindahan spiritual. Ini pulalah yang menjadi prinsip utama ide tentang estetika yang sudah kita kenal sejak Aristoteles yaitu menghadirkan ciptaan Tuhan dengan campur tangan seniman menjadi lebih indah, alamiah, nikmat sekaligus lebih spiritualis," sebut Dewan Pembina Dewan Kesenian Banda Aceh ini.

Di Aceh, keindahan seni kaligrafi karyanya dapat dinikmati pada Masjid Agung Babussalam Kota Sabang. Beberapa tahun lalu di Gedung Pusat Kebudayaan Qasr El Tsaqafa, El Imama, Kota Tlemcem, Aljazair berlangsung  festival budaya yang diikuti oleh 29 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) maupun sejumlah negara non OKI, seperti Cina, India, Perancis, dan Amerika Serikat.

Kehadiran Indonesia pada festival budaya Tlemcen sebagai ibukota kebudayaan islam dunia saat itu diwakili oleh galeri nasional yang mengirimkan karya pilihan dari para pelukis Indonesia, antaranya Said Akram, Affand, Ahmad Sadali, Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono, Widayat, Amang Rahman, Ad Pirous, dan beberapa karya lainnya yang semuanya itu adalah karya para pelukis papan atas Indonesia.

Aktif Mengikuti Pameran

Said Akram aktif mengikuti berbagai pameran sejak 1989 baik secara nasional maupun internasional. Antaranya, ekshibisi Kaligrafi Islami di Yogyakarta, pameran seni lukis islami pada MTQ Nasional di Pekanbaru, pameran seni rupa kontemporer di Museum Istiqlal Jakarta, pameran bersama lima pelukis Aceh di Banda Aceh, pameran melacak garis waktu dan peristiwa dari 150 seni rupawan Indonesia sejak zaman raden Shaleh 1807 di Galeri Nasional Indonesia, ekshibisi pada Konferensi Dunia Islam Dunia Melayu Sedunia, di Malaka, Malaysia, pameran Horizon of Light, Islamic Collection of The Indonesia National Gallery di Tlencem, Aljazair.

Di samping itu juga, salah satu karya lukisan kaligrafinya (kaligrafi kontemporer) menjadi pilihan untuk koleksi negara di Koleksi Galeri Nasional Republik Indonesia bersama delapan karya kaligrafer Indonesia lainnya.

Said Akram aktif sebagai dewan hakim dalam berbagai even seperti pada MTQ provinsi Aceh 2017 dan 2019, serta MTQ nasional di Medan, Sumatera Utara pada 2018.(una)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved