Breaking News:

Antivirus Corona Made In Indonesia Siap Diproduksi, Terbuat dari Pohon Atsiri

Antivirus ini dibagi menjadi lima jenis produk, yakni roll on, inhaler, balsam, kalung, serta aroma terapi tetes. Tiga di antaranya telah dipatenkan.

Humas Kementan
Kementerian Pertanian (Kementan) melaunching inovasi antivirus berbasis eucalyptus di ruang utama Agriculture War Room (AWR), Jakarta, Jumat(8/5/2020). 

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19) yang masih mewabah di Indonesia. Satu di antaranya dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang berhasil menemukan formula yang disebut mampu mencegah virus ini.

Kepala Balitbangtan Kementan Fadjry Djufry mengatakan bahwa pihaknya telah memproduksi antivirus corona, namun masih sebatas sampel atau prototype. Formula ini dibuat dari bahan kandungan minyak tanaman atsiri (eucalyptus).

Antivirus ini dibagi menjadi lima jenis produk, yakni roll on, inhaler, balsam, kalung, serta aroma terapi tetes. Tiga di antaranya telah dipatenkan, termasuk antivirus jenis aroma terapi.

Kementan Luncurkan Antivirus Corona Berbahan Eucalyptus, Ini 7 Manfaat Eucalyptus untuk Kesehatan

Ada Efek Sampingnya, Obat Antivirus Corona Remdesivir Gagal dalam Percobaan Pertama pada Manusia

Obat Corona Dijual Bebas Bulan Agustus

"Balitbangtan sudah berhasil memproduksi antivirus Eucalyptus, namun masih prototype. Produk yang sudah berhasil dipatenkan ada 3 jenis, yang aroma terapi, inhaler dan sebuk (kalung)," ujar Fadjry, dalam keterangannya kepada Tribun, Selasa (19/5/2020) siang.

Ia kemudian menjelaskan, proses penelitian terhadap potensi yang dimiliki tumbuhan herbal telah dilakukan sejak 3 bulan lalu, tepatnya sejak Februari 2020. Namun dari banyaknya tumbuhan herbal yang diteliti, hanya pohon atsiri, dengan spesies Eucalyptus Citriodora dan Eucalyptus Globulus yang memiliki kandungan terbaik dan dianggap efektif digunakan sebagai antivirus.

"Balitbangtan sudah 3 bulan ini meneliti potensi beberapa tumbuhan herbal, dan yang paling ampuh adalah dari pohon Atsiri," kata Fadjry.

Dalam upayanya memproduksi antivirus eucalyptus ini secara massal, Balitbangtan Kementan pun menggandeng PT Eagle Indo Pharma yang memproduksi produk minyak Cap Lang. "Balitbangtan sudah menggandeng PT Eagle Indo Pharma (Cap lang) untuk memproduksi secara massal dan secepatnya akan dilakukan," papar Fadjry.

Ilmuwan Australia Temukan Obat Corona, Ivermectin Bisa Hentikan Pertumbuhan Virus dalam 48 Jam

Iran Umumkan Telah Uji Obat Corona Buatan Dalam Negeri, Begini Kondisi Pasien Dalam 48 Jam

Tumbuh Subur di Jabar, Tanaman Kina Berpotensi Jadi Obat Corona, Kandungannya Mirip Penawar di Wuhan

Terkait penelitian dan pengembangan (R&D), Fadjry mengakui bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa pihaknya akan melakukan komunikasi dengan berbagai lembaga riset, baik yang berada di bawah naungan pemerintah maupun swasta. Sedangkan saat ini, pihaknya telah bersinergi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terkait izin edar dari produk antivirus ini jika kelak diproduksi massal.

"Balitbangtan ke depan akan komunikasi dengan lembaga riset lainnya. Lebih tepatnya sekarang Balitbangtan sedang bekerja sama dengan BPOM untuk izin edar," pungkas Fadjry.

Perlu diketahui, saat ini banyak K/L yang melakukan R&D terkait bagaimana cara menangani virus corona. Seperti pengembangan inovasi dan teknologi untuk memproduksi alat rapid test hingga ventilator.

Berdasarkan hasil pengujian Balitbangtan terhadap berbagai tumbuhan yang berpotensi sebagai antivirus korona, disimpulkan bahwa yang paling efektif ditemukan adalah pada tanaman eucalyptus yang memiliki kandungan senyawa aktif 1,8-cineole (eucalyptol). Eucalyptus disebut mampu membunuh virus influenza, virus Beta dan Gamma Corona dalam skala 80-100%.

"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, apalagi ini kan secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan, meskipun masih perlu uji lanjutan, tapi paling tidak ini kan bukan obat oral dan minyak eucalyptus ini sudah dari turun menurun digunakan orang dan toh sampai sekarang tiada masalah juga, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus itu kan minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya satu famili beda genus di taksonomi," paparnya.(tribun network/fit/wly)

Editor: Said Kamaruzzaman
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved