Jumat, 12 Juni 2026

Luar Negeri

Dua Drama Ramadhan Jaringan TV Arab Saudi Picu Kontrovesi

Dua drama Ramadhan di jaringan TV Arab Saudi telah menimbulkan kontroversi besar. Drama itu menguji persepsi publik tentang hubungan diam-diam antara

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/Middle East Broadcasting Center
Salah satu adegan syuting drama Ramadhan, antara warga Arab Saudi dengan seorang Yahudi pada 4 Januari 2020 

SERAMBINEWS,COM RIYADH - Dua drama Ramadhan di jaringan TV Arab Saudi telah menimbulkan kontroversi besar.

Drama  itu menguji persepsi publik tentang hubungan diam-diam antara kerajaan Teluk dan negara Yahudi, Israel.

Sebagian besar negara-negara Arab termasuk Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Zionis.

Namun kedua drama itu mengejar yang disebut sebagai "tarian hangat" untuk secara diam-diam membangun hubungan atas dasar permusuhan bersama terhadap Iran.

Tetapi, dua seri dinilai tabu selama bulan puasa suci, musim puncak televisi telah memicu spekulasi.

Yakni, ada adegan pembicaraan, Riyadh berusaha menormalisasi hubungan yang lebih dekat dengan negara Yahudi yang terus mencaplok tanah Palestina.

Seorang karakter muda dalam "Exit 7", yang menggambarkan perjalanan keluarga kelas menengah melalui Arab Saudi yang mengalami modernisasi cepat, mengangkat alis.

Dia berteman dengan seorang anak laki-laki Israel melalui sebuah video game online.

Dalam adegan kontroversial lain, satu karakter Saudi berpendapat untuk membangun hubungan dagang dengan Israel.

Dia  mengatakan Palestina adalah musuh nyata untuk menghina kerajaan siang dan malam, meskipun ada dukungan keuangan.

Pertunjukan lain yang disebut "Umm Haroun", ("ibu Haroun"), menggambarkan komunitas Yahudi di sebuah desa di Kuwait pada tahun 1940-an.

Media sosial terus mengkritik pedas di acara itu, dengan beberapa pengguna Twitter mengatakan tujuan mereka untuk mempromosikan "normalisasi dengan Israel".

Adegan syuting drama Ramadhan karakter muda dalam
Adegan syuting drama Ramadhan karakter muda dalam "Exit 7", yang menggambarkan perjalanan keluarga kelas menengah Arab Saudi yang mengalami modernisasi cepat pada 6 Maret 2020. (AFP/Middle East Broadcasting Center)

Drama ini diproduksi oleh MBC jaringan satelit Arab yang berpengaruh, secara efektif di bawah kendali Saudi.

Pendirinya, maestro media, Waleed al-Ibrahim ditahan bersama pengusaha elit lainnya di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh dalam kampanye anti-korupsi tahun 2017.

Mereka bertolak belakang dengan "The End", sebuah drama fiksi ilmiah Mesir populer yang memancing kemarahan di Israel setelah meramalkan runtuhnya negara Yahudi.

MBC mengatakan pertunjukannya adalah yang paling populer selama Ramadhan, meraih peringkat teratas di wilayah tersebut.

"Timur Tengah telah distereotipkan selama beberapa dekade sebagai wilayah ketakutan, pertumpahan darah, kebencian, ekstremisme," kata juru bicara MBC Mazen Hayek kepada AFP.

Israel Paksa Bank Palestina Tutup Rekening Para Tahanan

Israel Robohkan Rumah Keluarga Palestina, Hanya Karena Tuduhan Serang Gadis Yahudi

VIDEO - Suasana Shalat Tarawih Umat Muslim Israel di Tempat Parkir

Adegan syuting drama Ramadhan tentang hubungan dengan Israel pada 7 Maret 2020.
Adegan syuting drama Ramadhan tentang hubungan dengan Israel pada 7 Maret 2020. (AFP/Middle East Broadcasting Center)

"Pertunjukan itu berusaha memproyeksikan citra lain dari wilayah yang mewujudkan harapan, toleransi, dialog antar-agama,” katanya.  

“Tuduhan 'normalisasi' sedikit ketinggalan zaman dalam konteks globalisasi dan konektivitas yang berlebihan,” ulasnya.

Tetapi para pengamat mengatakan drama itu mungkin untuk menormalkan perdebatan mengenai normalisasi.

"Pertunjukan ini bermanfaat bagi negara Saudi untuk memahami di mana orang berdiri di pihak Israel dan Palestina," kata Aziz Alghashian, seorang dosen di Universitas Essex yang berspesialisasi dalam kebijakan luar negeri kerajaan terhadap Israel.

"Pertunjukan ini berfungsi sebagai alat pengukur dan merasakan reaksi orang-orang," tambahnya.

Awal tahun ini, kerajaan mengumumkan pemutaran film bertema Holocaust untuk pertama kalinya di sebuah festival film, sebelum dibatalkan karena pandemi virus Corona.

Banyak kolumnis media Saudi telah mengabaikan kontroversi MBC, menegaskan kembali sikap resmi kerajaan bahwa penyelesaian konflik Israel-Palestina adalah prasyarat utama normalisasi hubungan.

Tetapi hubungan tampaknya menjadi panas tanpa mempedulikan, dalam pergeseran dipelopori oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Kerja sama itu melihat Riyadh menyambut rencana perdamaian Timur Tengah Presiden AS Donald Trump yang condong mendukung Israel , bahkan banyak orang lain di dunia Arab menolaknya.

Arab Saudi diam-diam membuka wilayah udaranya pada tahun 2018 untuk pertama kalinya bagi pesawat penumpang yang menuju Israel.

Negara-negara Teluk lainnya tampaknya mengadopsi pendekatan yang serupa, dengan Oman menjadi tuan rumah Netanyahu pada Oktober 2018 dalam kunjungan pertama serupa dalam dua dekade lebih.

Adegan syuting Ibu Harun yang ditayangkan oleh televisi Arab Saudi selama bulan Ramadhan 1411 H
Adegan syuting Ibu Harun yang ditayangkan oleh televisi Arab Saudi selama bulan Ramadhan 1411 H (AFP/Middle East Broadcasting Center)

Uni Emirat Arab menerbangkan penerbangan pertama ke Israel pada Selasa (19/5/2020), ketika Etihad Airways mengangkut pasokan medis ke Palestina.

Analis mengatakan acara televisi bermanfaat untuk mengukur pandangan publik Saudi tentang normalisasi hubungan dengan Israel

Gelombang ketegangan antara Teheran dan Riyadh dan upaya Saudi untuk menarik investasi asing untuk mendanai Visi 2030, reformasi ekonomi tampaknya mendorong kerajaan lebih dekat ke Israel daripada sebelumnya.

"Saudi mengakui peran penting yang dimainkan Israel di kawasan itu," kata Marc Schneier, seorang rabi Amerika yang memiliki hubungan dekat dengan kerajaan dan Teluk.

"Hanya beberapa tahun yang lalu, (Pangeran) Khalid bin Salman mengatakan kepada saya bahwa kerajaan tahu bahwa Israel adalah bagian integral dari mereka mencapai rencana ekonomi 2030,” ujarnya.

“Itu adalah pernyataan utama dan benar-benar menunjukkan baiknya ikatan," kata Schneier kepada AFP, Kamis (21/5/2020).

Pemerintah Saudi tidak menanggapi permintaan wawancara dengan Pangeran Khalid, adik dari putra mahkota.

Seorang pejabat Saudi mengatakan posisi kerajaan mencari perjanjian Israel-Palestina yang komprehensif berdasarkan solusi dua negara belum berubah.

"Setelah itu tercapai, kerajaan tidak melihat halangan untuk membangun hubungan normal yang akan menguntungkan di kawasan itu, termasuk Visi kerajaan 2030," kata pejabat itu kepada AFP.

Namun, hal itu masih jauh, walau Arab Saudi telah melakukan langkah berani kepada tokoh-tokoh Yahudi dalam beberapa tahun terakhir ini, bahkan ketika tampaknya waspada terhadap reaksi publik.

Pada Februari 2020, Raja Salman menjamu seorang rabi yang berbasis di Yerusalem di Riyadh untuk pertama kalinya dalam sejarah modern.

Media Israel menerbitkan foto rabbi David Rosen dengan Raja Salman, menyebutnya sebagai "momen revolusioner".

Tetapi Badan Pers Saudi resmi menghilangkan nama Rosen dari pengirimannya dan foto yang diterbitkan di situs webnya membuat rabbi marah.

"Ini adalah wilayah dunia di mana perubahan seperti ini membutuhkan waktu," kata Schneier.

"Kami melihat tanda-tanda evolusi pemanasan, tetapi mungkin perlu waktu lebih lama sebelum kita melihat gerakan diplomatik yang lebih dramatis,” tambahnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved