Berita Subulussalam
Merah Sakti dan Asmauddin Ikut Pertemuan Tokoh Pemekaran Kota Subulussalam, Begini Komentar Keduanya
Pertemuan kedua tokoh pemekaran menjadi pembahasan menarik warga maupun para netizen khususnya di media sosial facebook.
Penulis: Khalidin | Editor: Mursal Ismail
Pertemuan kedua tokoh pemekaran menjadi pembahasan menarik warga maupun para netizen khususnya di media sosial facebook.
Laporan Khalidin I Subulussalam
SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Jagat maya Subulussalam diramaikan pertemuan dua tokoh pemekaran Kota Subulussalam dari Aceh Singkil, H Merah Sakti SH dengan H Asmauddin SE.
Intinya pertemuan itu membahas sejumlah kondisi terkini daerah itu.
Pertemuan itu pun dibenarkan, Muzirul Qadhi Maha alias Muzir Maha, aktivis mahasiswa dalam keterangan persnya kepada Serambinews.com, Kamis (28/5/2020).
Pertemuan kedua tokoh pemekaran menjadi pembahasan menarik warga maupun para netizen khususnya di media sosial facebook.
Ini lantaran sejak belasan tahun kedua tokoh itu diketahui kurang ‘akur’ akibat masalah politik.
• Tim Pencegahan Covid-19 Kota Banda Aceh Lanjutkan Penyemprotan Disinfektan ke Sekolah
Padahal, Asmauddin yang merupakan Pj Walkot Subulussalam perdana adalah mantan Ketua Panitia Pemekaran Pemko Subulussalam dari Aceh Singkil belasan tahun lalu.
Begitu juga dengan Merah Sakti SH mantan Walkot Subulussalam dua periode tokoh pentolan pemekaran.
Berdasarkan catatan Serambinews.com, Asmauddin menjadi salah satu rival tetap Merah Sakti dalam dua kali pilkada di daerah itu.
Kemudian di pilkada ketiga yakni 2018 lalu, Asmauddin kembali bertarung dengan sejumlah kandidat termasuk Hj Sartina istri Merah Sakti.
Dua periode Merah Sakti memimpin Subulussalam, sudah menjadi rahasia umum jika adanya ‘ketidakakuran’ antara Merah Sakti dengan Asmauddin.
• Menghadapi Krisis Pangan Global, Hadi Surya: Aceh Selatan Harus Berbenah
Ini terbukti hijrahnya Asmauddin ke Kabupaten Aceh Singkil dan Banda Aceh selama kekuasaan Merah Sakti di Subulussalam.
Kini, ketika puncak pimpinan Subulussalam dinakhodai H Affan Alfian Bintang SE bersama wakilnya Drs Salmaza MAP, kedua tokoh yang selama ini dikenal saling berseberangn politik mulai saling merapat.
Mereka adalah Asmauddin dan Merah Sakti, mantan Pj Walkot Subulussalam perdana serta mantan Walkot Subulussalam periode 2009-2014 hingga periode 2014-2019.
Sederet masalah menjadi pembahasan kedua tokoh dalam pertemuan yang dihadiri beberapa pihak lainnya.
Menurut Muzir yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, selain Merah Sakti ada juga seberkas catatan dikemukakan Asmauddin menyikapi kondisi Kota Subulussalam saat ini.
• Menghadapi Krisis Pangan Global, Hadi Surya: Aceh Selatan Harus Berbenah
Dia pun membeberkan beberapa persoalan yang diungkap Asmauddin terutama kebijakan kebijakan pemerintah yang sampai hari ini belum terlihat memihak kepada masyarakat.
Hal lain yang disorot mengenai tata kelola pemerintahan yang menurutnya belum Good Government.
"Jangan ada kepentingan pribadi dalam menentukan kebijakan, sehingga kebijakan yang dilahirkan tak sesuai harapan,"demikian disampaikan Asmauddin sebagaimana ditirukan Muzir
Terhadap masalah ini, Asmauddin berharap Kota Subulussalam maju dan berkembang dengan mengutamakan anak-anak negeri bekerja di pemerintahan.
Harapan lain pemerintah dapat menyelesaikan dengan cepat dan bijak persoalan persoalan yang menyangkut hidup orang banyak, seperti sengketa lahan Hak Guna Usaha (HGU) dan banjir.
• Bulog Lanjutkan Operasi Pasar Gula di Abdya, Ini HET-nya
Menurutnya apabila isu di masyarakat tidak bisa diserap dengan positif dikuatirkan akan membahayakan elektabilitas pemerintah hingga berpotensi terjadinya gejolak besar-besaran.
Sementara Muzir yang selama ini juga getol mengkritisi Pemko Subulussalam menyampaikan pertemuan tadi malam merupakan bukti kepedulian dan rasa sayang mereka terhadap daerah tersebut.
Dikatakan, tujuan para tokoh menginginkan masyarakat Subulussalam itu sejahtera tanpa ada pandang bulu. Selain itu, lanjut Muzir pertemuan juga merupakan refleksi bagi kita semua bahwa harus ada yang mengingatkan serta mendengarkan.
Seperi diberitakan sebelumnya, sejumlah tokoh penting pemekaran Kota Subulussalam dari Aceh Singkil mengkritisi sejumlah kebijakan Pemko Subulussalam saat ini.
Kritikan tersebut terungkap dalam pertemuan sejumlah tokoh yang digelar, Rabu (27/5/2020) malam di sebuah kafe.
Muzirul Qadhi Maha alias Muzir Mah kepada Serambinews.com Kamis (28/5/2020) mengatakan pertemuan tersebut dihadiri dua tokoh penting pemekaran Kota Subulussalam masing-masing H Asmauddin dan H Merah Sakti.
Keduanya merupakan pentolan pemekaran Pemko Subulussalam dan mantan wali kota perdana.
Dalam pertemuan ini mereka membahas kondisi Pemko Kota Subulussalam setelah satu tahun Pemerintahan Bintang Salmaza.
Dikatakan pertemuan juga dihadiri beberapa tokoh pemekaran lain seperti Bachtiar, Bahagia Maha, Mukhsin dan juga beberapa mahasiswa.
Selain membahas kondi Pemko Subulussalam pertemuan itu juga merupakan reuni beberapa tokoh pemekaran, di mana selama ini jarang bertemu.
Ini, kata Muzir akibat kesibukan masing-masing tokoh.
"Tapi kegiatan ini akan terus berkesinambungan hingga nanti kita rencanakan reuni akbar peringati 14 tahun pemekaran Kota Subulussalam pada 15 Juni 2021," ujar Muzit menirukan Merah Sakti yang juga merupakan mantan Wali Kota Subulussalam.
Lebih jauh Muzit menjelaskan semua tokoh yang terlibat dalam pemekaran akan diundang termasuk ulama, para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan pemuda.
Hal ini agar masyarakat kita bisa mengenang betapa sulitnya memperjuangkan Subulussalam ini menjadi sebuah Pemerintahan Kota yang terlepas dari doa masyarakat.
Muzir menambahkan dalam wejangan Sakti menyebutkan ada pihak-pihak yang hanya sekadar menjadi penikmat di Pemko Subulussalam saat ini tanpa memikirkan nasib rakyat Kota Subulussalam.
Bahkan menurut Sakti ia mendengar informasi adanya tenaga honorer yang dirumahkan, padahal sebagian dari mereka sudah berkerja puluhan tahun demi menafkahi anak dan keluarganya.
Lantaran itu Sakti meminta kepada pemerintah mengambalikan tenaga honor yang dipecat tanpa ada alasan yang jelas.
Sakti menegaskan bila tidak digubris dia akan mengajak anak anak tenaga honorer bersama tokoh Subulussalam bersatu meminta kepastian tentang tenaga honor. (*)