Breaking News:

Heboh Aplikasi Kitab Suci Aceh

Pemuka Katolik di Aceh: Aplikasi “Kitab Suci Aceh” Tidak Sesuai Konten dan Konteks

Aceh itu bukanlah agama, melainkan suku bangsa yang multiras, multikultur, bahkan Aceh dihuni multiagama.

Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Pemuka Agama Katolik di Aceh, Baron Ferrison Pandiangan S.Ag MTh (tengah) bersama Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh H Juniazi SAg MPd (kanan), dan anggota FKUB Aceh Hasan Basri M Nur (kiri), di Banda Aceh, Senin (1/6/2020). 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Aplikasi “Kitab Suci Aceh” yang mucul di laman Google Play mendapat protes luas dari berbagai kalangan masyarakat Aceh.

Tidak hanya dari kelompok-kelompok Islam, protes juga datang dari pemuka agama Katolik.

“Aplikasi Kitab Suci Aceh itu tidak sesuai konten dan konteks. Saya sempat buka sekilas, isinya adalah terjemahan potongan-potongan Injil, Zabur dan Taurat dalam bahasa Aceh, tidak utuh dan terjemahannya juga ada yang keliru. Kontennya tidak tepat,” kata Baron Ferrison Pandiangan S.Ag MTh,

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Aceh.

Pernyataan itu disampaikan Baron Ferrison dalam pertemuan terbatas dengan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh di Banda Aceh, Senin (1/6/2020).

Baron melanjutkan, dari sisi konteks aplikasi itu juga sangat tidak sesuai dan menyimpang.

Sebab, kata dia, Aceh itu bukanlah agama, melainkan suku bangsa yang multiras, multikultur, bahkan Aceh dihuni multiagama.

“Jadi, penamaan Kitab Suci Aceh adalah keliru. Kitab Suci adalah milik agama,” kata Baron, seperti dikutip siaran pers yang dibuat oleh Hasan Basri M Nur, Anggota FKUB Provinsi Aceh.

Baron menduga aplikasi itu dibuat oleh pihak yang tidak paham tentang Aceh, tidak pahan agama, dan tidak bertanggung jawab.

Dia juga menambahkan bahwa aplikasi itu tidak mungkin dibuat oleh penganut agama Katolik.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved