Sabtu, 25 April 2026

Granat Meledak Dekat Kamar Anggota Dewan

Keheningan yang menyelimuti Gampong Perman, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Senin (8/6/2020) dini hari seketika pecah

Editor: bakri
SERAMBI/SA’DUL BAHRI
Polisi melintas di depan rumah yang sudah diberi tanda garis polisi akibat di granat di Desa Alue Perman, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Senin (8/6/2020). 

* Trauma Ahmad Yani dan Keluarga Pindah Rumah

MEULABOH - Keheningan yang menyelimuti Gampong Perman, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh Barat, Senin (8/6/2020) dini hari seketika pecah. Sebuah granat meledak di pekarangan rumah Anggota DPRK, Ahmad Yani, tak jauh dari lokasi kamar tidurnya.

Kabar adanya teror granat langsung tersiar cepat. Ahmad Yani saat ditemui Serambi di rumahnya mengatakan ledakan terjadi sekitar 03.30 WIB. “Granat hanya dilempar ke depan rumah sehingga membuat kaca jendela pecah," kata Ketua Komisi IV DPRK Aceh Barat ini.

Kaca jendela dimaksud adalah kaca jendela rumah tetangga yang berdekatan dengan rumahnya. Ahmad Yani sendiri tinggal di rumah toko (ruko) berkontruksi kayu tanpa kaca. Ruko itu ia sewa dan baru sebulan ditempati sejak istrinya yang bidan desa dipindahtugaskan ke Gampong Meutulang, Kecamatan Panton Reu.

Ahmad Yani mengaku, saat kejadian itu ia beserta keluarganya sedang tertidur. Ia, istri dan anaknya langsung terbangun begitu mendengar suara dentumah keras yang tak jauh dari lokasi kamarnya. Begitu ke luar, ia melihat kaca jendela rumah tetangga yang bersisian dengan rumahnya telah pecah yang diduga terkena serpihan.

Akibat peristiwa tersebut istri dan anaknya menjadi trauma. Karena itu, disamping untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, ia memutuskan pindah untuk sementara waktu, meninggalkan rumah yang baru sebulan ia tempati. “Sementara saya pindah ke tempat saudara dulu untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya.

Ahmad Yani mengaku sebenarnya memiliki rumah sendiri di Peuleukung dan sebuah toko di Woyla. Namun rumah dan tokonya itu telah disewakan. Sebelum pindah ke Gampong Perman, Ahmad Yani tinggal di rumah dinas Polindes Gampong Peuleukung. Ia dan keluarganya pindah ke Gampong Perman karena istrinya dimutasi ke Gampong Meutulang.

Politisi Gerindra ini menduga, teror granat itu sengaja dilakukan untuk meneror dirinya. Namun sejauh ini, Ahmad Yani mengaku tidak memiliki musuh sehingga ia tidak bisa menebak motif dibalik teror granat tersebut.

“Saya tidak menciptakan permusuhan dengan siapa pun. Saya cuma menjalankan jabatan saya selama ini sebagai Ketua Komisi IV DPRK, mungkin ada yang kurang senang. Tetapi saya tidak menuduh siapa-siapa, mungkin ada motif lain yang nantinya kita harapkan pihak kepolisian bisa mengungkapnya,” ujar Ahmad Yani.

Ia meminta pihak kepolisian bisa mengusut tuntas kasus ini dan motif dibalik aksi teror tersebut. “Ini penting agar anggota DPRK lain tidak bernasib sama seperti saya, dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” imbuhnya.

Lakukan penyelidikan

Begitu mendapat laporan adanya teror granat, Polres Aceh Barat, Senin (8/6/2020) dini hari kemarin langsung bergerak ke lokasi rumah Ahmad Yani. Pantauan Serambi, Tim Jibom Brimob Polda Aceh terlihat berada di lokasi menyisir lokasi penggranatan. Garis polisi (police line) juga sudah terpasang. Sementara warga mulai banyak berdatangan karena penasaran atas kasus penggranatan tersebut.

“Saat ini sedang dilakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara) oleh Tim Jibom Brimob Polda Aceh dan siang nanti Insya Allah sudah ada hasilnya ,” kata Kapolres Aceh Barat AKBP Andrianto Argamuda didampingi Danki Brimob Kompi 3 Batalyon C Pelopor, Iptu Nurdin saat ditanyai.

Ia mengatakan, sejauh ini tidak ada korban jiwa dalam aksi teror tersebut. Kerusakan hanya terjadi pada kaca jendela rumah tetangga Ahmad Yani, yang pecah dan berlubang karena diduga terkena serpihan granat.

Tetangga resah

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved