Salam
OTG Bertambah, Saatnya Mencurigai Semua Orang
HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa dari 39 warga yang terinfeksi virus corona di Aceh
HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin mewartakan bahwa dari 39 warga yang terinfeksi virus corona di Aceh, sekitar 80 persen (25 orang) di antaranya merupakan orang yang tanpa gejala (OTG). Bahkan pasien usia muda mendominasi jumlah kasus. Kaum perempuan yang terjangkit pun lumayan banyak.
Fakta ini menunjukkan terjadi pergeseran pola penularan. Jika sebelumnya sebagian besar pasien positif yang dirawat menunjukkan gejala, tapi dalam sepekan terakhir justru banyak yang terinfeksi adalah orang yang tanpa gejala. Juga semakin banyak penularan lokal (local transmission) di Aceh, hal yang tak terjadi sejak Januari hingga Mei lalu.
Kasus terbaru dapat dilihat dari kasus yang menimpa pasangan suami istri (pasutri) MS (42) dan DL (41) dari klaster Lhokseumawe dan Aceh Utara. Pasangan ini dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan real test polymerase chain reaction (RT PCR) di Laboratorium Penyakit Infeksi Unsyiah setelah hasil rapid test keduanya reaktif. Pasangan ini sebelumnya sama sekali tak menunjukkan gejala layaknya orang yang terinfeksi virus corona.
Setelah itu, 13 orang yang positif Covid-19 karena punya kontak dengan pasutri ini semuanya merupakan orang tanpa gejala. Ada anaknya, ibu, kakak, dan kakak ipar, dan kerabat dekat mereka. Sebagian mereka bermukim di Kota Lhokseumawe dan sisanya di Aceh Utara.
Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani tak menampik fakta tentang banyaknya pasien positif corona di Aceh adalah OTG. Menurutnya, di Lhokseumawe saja ada enam dan di Aceh Utara ada sembilan pasien yang awalnya OTG.
Nah, fakta ini tidak boleh kita anggap enteng. Harus kita sikapi serius karena ternyata untuk terinfeksi Covid-19 tidak mesti didahului oleh ciri-ciri yang sudah awam diketahui, misalnya demam, batuk, pilek, dan diare. Terbukti, mayoritas pasien corona di Aceh adalah mereka yang tampaknya sehat-sehat saja. Termasuk setelah hasil swab-nya keluar dan ia dinyatakan positif corona.
Realitas ini mengharuskan kita meningkatkan kewaspadaan. Mulailah membangun asumsi bahwa siapa pun di depan kita harus kita anggap sebagai orang yang sudah terinfeksi Covid-19. Atau minimal kita curigai orang di sekitar kita, apakah itu di rumah, di kantor, apalagi di tempat-tempat keramaian sebagai “carier” virus corona. Curiga untuk tujuan kebaikan bukan hal terlarang.
Dengan sikap dan asumsi seperti ini tentu kita akan lebih hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain, karena pada dasarnya bisa saja seseorang tidak tampak atau tak mengeluh sakit. Tapi bisa jadi dia adalah “carrier” atau sang pembawa virus. Karena antibodi atau sistem imunitas tubuhnya kuat, maka dia tak terinfeksi, tapi Anda sangat mungkin terinfeksi.
Artinya, dengan menganggap semua orang di sekitar kita adalah pasien Covid-19, maka sikap kehati-hatian kita akan terpupuk lebih optimal. Kita tak akan pernah lengah sekalipun untuk tidak pakai masker saat ke luar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan menghindari keramaian atau kerumunan.
Satu hal lagi yang juga penting bahwa corona itu bukanlah aib. Oleh karenanya aktiflah memeriksakan diri, baik melalui rapid test, terlebih melalui RT PCR, untuk memastikan bahwa diri kita bersih dari virus corona atau malah sebaiknya.
Semakin cepat seseorang diketahui terinfeksi corona maka semakin cepat penanganan terhadapnya dilakukan. Peluang untuk sembuh lebih besar. Yang juga sangat penting adalah pada masa inkubasi penyakit mematikan ini ia tidak sampai menularkan virus corona kepada orang lain.
Ingatlah bahwa pada masa pandemi ini kita bisa kena, kita juga bisa cegah. Dan dalam dunia medis, mencegah penyakit adalah sebaik-baikikhtiar, hal yang semua kita mampu melaksanakannya tanpa perlu biaya mahal, tanpa perlu energi ekstra.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pasien-corona-di-rsuza-banda-aceh-2.jpg)