Breaking News:

Salam

OTG Bertambah, Saatnya Mencurigai Semua Orang

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin me­wartakan bahwa dari 39 warga yang terinfeksi virus co­rona di Aceh

HUMAS PEMERINTAH ACEH
Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT didampingi Kepala Dinas Kesehatan, dr. Hanif, Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine dan rombongan meninjau ruangan serta fasiitas ruang Isolasi Respiratory Intensive Care Unit (RICU), tempat perawatan pasien suspect virus Corona di RSU Zainoel Abidin, Banda Aceh, Kamis (12/3/2020) 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin me­wartakan bahwa dari 39 warga yang terinfeksi virus co­rona di Aceh, sekitar 80 persen (25 orang) di antaranya merupakan orang yang tanpa gejala (OTG). Bahkan pasien usia muda mendominasi jumlah kasus. Kaum perempuan yang terjangkit pun lumayan banyak.

Fakta ini menunjukkan terjadi pergeseran pola penular­an. Jika sebelumnya sebagian besar pasien positif yang di­rawat menunjukkan gejala, tapi dalam sepekan terakhir jus­tru banyak yang terinfeksi adalah orang yang tanpa gejala. Juga semakin banyak penularan lokal (local transmission) di Aceh, hal yang tak terjadi sejak Januari hingga Mei lalu.

Kasus terbaru dapat dilihat dari kasus yang menimpa pa­sangan suami istri (pasutri) MS (42) dan DL (41) dari klas­ter Lhokseumawe dan Aceh Utara. Pasangan ini dinyata­kan positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan real test polymerase chain reaction (RT PCR) di Laboratorium Penyakit Infeksi Unsyiah setelah hasil rapid test keduanya reaktif. Pasangan ini sebelumnya sama sekali tak menun­jukkan gejala layaknya orang yang terinfeksi virus corona.

Setelah itu, 13 orang yang positif Covid-19 karena punya kontak dengan pasutri ini semuanya merupakan orang tan­pa gejala. Ada anaknya, ibu, kakak, dan kakak ipar, dan ke­rabat dekat mereka. Sebagian mereka bermukim di Kota Lhokseumawe dan sisanya di Aceh Utara.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Co­vid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani tak menampik fakta ten­tang banyaknya pasien positif corona di Aceh adalah OTG. Menurutnya, di Lhokseumawe saja ada enam dan di Aceh Utara ada sembilan pasien yang awalnya OTG.

Nah, fakta ini tidak boleh kita anggap enteng. Harus kita sikapi serius karena ternyata untuk terinfeksi Covid-19 ti­dak mesti didahului oleh ciri-ciri yang sudah awam dike­tahui, misalnya demam, batuk, pilek, dan diare. Terbukti, mayoritas pasien corona di Aceh adalah mereka yang tam­paknya sehat-sehat saja. Termasuk setelah hasil swab-nya keluar dan ia dinyatakan positif corona.

Realitas ini mengharuskan kita meningkatkan kewaspa­daan. Mulailah membangun asumsi bahwa siapa pun di de­pan kita harus kita anggap sebagai orang yang sudah te­rinfeksi Covid-19. Atau minimal kita curigai orang di sekitar kita, apakah itu di rumah, di kantor, apalagi di tempat-tem­pat keramaian sebagai “carier” virus corona. Curiga untuk tujuan kebaikan bukan hal terlarang.

Dengan sikap dan asumsi seperti ini tentu kita akan le­bih hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain, karena pada dasarnya bisa saja seseorang tidak tampak atau tak mengeluh sakit. Tapi bisa jadi dia adalah “carrier” atau sang pembawa virus. Karena antibodi atau sistem imunitas tubuhnya kuat, maka dia tak terinfeksi, tapi Anda sangat mungkin terinfeksi.

Artinya, dengan menganggap semua orang di sekitar kita adalah pasien Covid-19, maka sikap kehati-hatian kita akan terpupuk lebih optimal. Kita tak akan pernah lengah seka­lipun untuk tidak pakai masker saat ke luar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan menghindari keramaian atau kerumunan.

Satu hal lagi yang juga penting bahwa corona itu bukanlah aib. Oleh karenanya aktiflah memeriksakan diri, baik melalui rapid test, terlebih melalui RT PCR, untuk memastikan bahwa diri kita bersih dari virus corona atau malah sebaiknya.

Semakin cepat seseorang diketahui terinfeksi corona maka semakin cepat penanganan terhadapnya dilakukan. Peluang untuk sembuh lebih besar. Yang juga sangat pen­ting adalah pada masa inkubasi penyakit mematikan ini ia tidak sampai menularkan virus corona kepada orang lain.

Ingatlah bahwa pada masa pandemi ini kita bisa kena, kita juga bisa cegah. Dan dalam dunia medis, mencegah penyakit adalah sebaik-baikikhtiar, hal yang semua kita mampu melaksanakannya tanpa perlu biaya mahal, tanpa perlu energi ekstra.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved