Breaking News
Selasa, 2 Juni 2026

Luar Negeri

Kasus Virus Corona Arab Saudi 164.796 Orang, Dunia 9 Juta Lebih

Dalam laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Arab Saudi, Selasa (23/6/2020) malam, ditemukan 3.139 kasus baru.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/AMER HILABI
Seorang remaja bermain-main saat keluarganya menghabiskan waktu di pelabuhan Jeddah, Arab Saudi, Minggu (21/6/2020). 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Kasus virus Corona Arab Saudi terus bertambah setiap hari.

Dalam laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Arab Saudi, Selasa (23/6/2020) malam, ditemukan 3.139 kasus baru.

Sehingga, jumlah total warga Arab Saudi yang terpapar virus Corona sebanyak 164.796 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 109.885 pasien virus Corona dinyatakan sembuh, seusai 4.710 pasien kembali sembuh.

Tetapi, jumlah pasien virus Corona Arab Saudi yang masih dirawat, tercatat sebanyak 54.911 orang.

Untuk kasus kematian, ditemukan 39 pasien virus Corona meninggal dunia.

Dilansir ArabNews, Selasa (23/6/2020) malam angka kematian akibat virus Corona meningkat menjadi 1.346 orang.

Kerajaan Arab Saudi telah mencabut jam malam untuk mencegah penyebara virus Corona pada hari Minggu (21/6/2020).

Tetapi, warga Arab Saudi tetap diminta untuk berhati dalam new normal atau kehidupan baru.

Dikatakan, pandemi virus Corona belum berlalu, sehingga warga harus tetap menjaga protokol kesehatan.

Bukan hanya di pusat perbelanjaan, di masjid, termasuk Masjidil Haram, para jamaah tetap menjaga protokol kesehatan.

Kasus Virus Corona Arab Saudi 161.657 Orang, Bertambah 3.392 Orang

Kasus Virus Corona Arab Saudi Terus Meroket, Kematian Capai 1.267 Orang

Kuota Haji 2020 Hanya Sekitar 1.000 Orang, Paling Sedikit Dalam Sejarah Haji

Personil Palang Merah dan tentara Jerman bersiap mengumpulkan uji skrining karyawan rumah jagal di Toennies, Verl, Jerman Barat, Selasa (23/6/2020).
Personil Palang Merah dan tentara Jerman bersiap mengumpulkan uji skrining karyawan rumah jagal di Toennies, Verl, Jerman Barat, Selasa (23/6/2020). (AFP/Ina FASSBENDER)

Kasus Virus Corona Dunia

Sementara itu, jumlah kasus virus Corona dunia telah mencapai 9 juta orang lebih.

Menurut penghitungan Johns Hopkins, dari jumlah korba, sebanyak 472.000 orang telah meninggal dunia.

Sedangkan negara-negara di seluruh dunia dan negara bagian AS berjuang keras untuk menahan lonjakan infeksi virus Corona.

Hal itu seiring lockdown atau penguncian dilonggarkan, sehingga warga mulai keluar rumah.

Jerman kembali menghadapi virus, di mana ratusan orang terinfeksi di rumah jagal.

Seorang ahli AS terkemuka menuju ke Capitol Hill saat-saat penuh perjuangan AS melawan virus itu.

Peningkatan yang cepat dalam kasus-kasus di AS Selatan dan Barat menimbulkan kekhawatiran baru, gelombang kedua virus.

Negara-negara bagian dibuka kembali dan banyak orang Amerika menolak mengenakan masker karena alasan politik,

Bahkan, menolak membatasi kontak atau jarak sosial.

Sehingga, Amerika Serikat memiliki infeksi dan kematian terbanyak di dunia.

Dilaporkan, 2,3 juta kasus telah dikonfirmasi dan lebih dari 120.000 kematian terkait virus, menurut penghitungan Universitas Johns Hopkins.

Anthony Fauci, pakar penyakit menular top AS, memberikan kesaksian di hadapan komite dewan.

Beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah rapat umum di Oklahoma.

Dia telah meminta para pejabat untuk memperlambat pengujian karena terlalu banyak kasus positif yang muncul.

Kantor Trump kemudian mengklaim dia bercanda.

Di Jerman, lebih dari 1.550 orang dinyatakan positif virus Ccoro di rumah jagal Toennies di Rheda-Wiedenbrueck.

Bahkan, ribuan pekerja dan anggota keluarga ditempatkan di bawah karantina untuk mencoba menghentikan wabah tersebut.

Pada Selasa (23/6/2020), Gubernur negara bagian Rhine-Westphalia Utara, Armin Laschet, mengatakan akan diberlakukan pembatasan gerakan.

Khususnya orang-orang di Guetersloh dan negara bagian tetangga seperti yang dilihat Jerman pada Maret dan April 2020.

Termasuk pembatasan pada pertemuan sosial dan penutupan bar.

Di seberang terusan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Selasa (23/6/2020) mengumumkan kebijakan besar atas lockdown.

Sehingga, membuat jutaan orang di Inggris kembali ke pub, bioskop, gereja dan salon rambut mulai 4 Juli 2020.

Langkah itu datang di tengah tekanan kuat dari bisnis untuk memudahkan jarak sosial.

Meskipun ruang olahraga, kolam renang, spa dan ruang tato tetap ditutup, Johnson mengatakan kepada parlemen libur panjang nasional akan segera berakhir.

Tetapi beberapa ilmuwan khawatir langkah ini terlalu tergesa-gesa.

Terutama karena langkah-langkah seperti sistem trek dan jejak untuk memberantas wabah belum ada.

"Ini terlalu dini," kata David King, mantan kepala penasihat ilmiah untuk pemerintah.
"Keluar dari kuncian terlalu dini dan sangat berisiko," katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pandemi masih dalam kekuasaannya.

"Epidemi sekarang memuncak atau bergerak menuju puncak di sejumlah negara besar," kata Dr Michael Ryan, Kepala Darurat WHO.

India telah mencatat sekitar 15.000 infeksi baru setiap hari.

Beberapa negara bagian India, Selasa (23/6/2020) mempertimbangkan penguncian baru untuk 1,3 miliar orang di negara itu.

Pemerintah telah mencabut penguncian nasional untuk memulai kembali ekonomi yang sedang sakit.

Sehingga memberi harapan bagi jutaan pekerja harian yang kelaparan dan tidak memiliki pekerjaan.

Beban kasus virus besar di India menyoroti masyarakat yang tidak setara di negara itu.

Rumah sakit swasta melayani orang kaya dan rumah sakit umum begitu kewalahan sehingga banyak orang takut memasukinya.

Di Pakistan, pemerintah bertekad mendukung perekonomian yang lemah dengan membuka negara itu.

Walau rumah sakit yang penuh sesak menolak pasien dan kasus-kasus baru juga meningkat tajam di Meksiko, Kolombia, dan Indonesia.

Di seluruh dunia, lebih dari 9 juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 472.000 telah meninggal, menurut penghitungan Johns Hopkins. Para

ahli mengatakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena pengujian terbatas dan kasus di mana pasien tidak memiliki gejala.

Sekjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan butuh lebih dari tiga bulan bagi dunia untuk melihat 1 juta infeksi yang dikonfirmasi.

Tetapi hanya delapan hari untuk melihat 1 juta kasus terbaru.

“Ancaman terbesar yang kita hadapi sekarang bukanlah virus itu sendiri."

"Itu akibat kurangnya solidaritas global dan kepemimpinan global, ”katanya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved