Paha Bocah Miskin Membesar Diserang Tumor Ganas

Seorang anak asal Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Alfahri Amin (11), saat ini hanya bisa terbaring

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/ SARI MULIYASNO
Penderita tumor ganas di Kabupaten Simeulue, Alfahri Amin (11), ditemani orang tuanya yang berprofesi sebagai buruh kasar di Desa Air Dingin, Simeulue Timur, Kamis (25/6/2020). 

SINABANG - Seorang anak asal Desa Air Dingin, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Alfahri Amin (11), saat ini hanya bisa terbaring lemah di rumahnya lantaran tumor ganas yang dideritanya di bagian paha kiri kian membesar. Ironisnya, bocah ini berasal dari keluarga kurang mampu sehingga orangtuanya kesulitan melakukan pengobatan.

Anak pertama dari pasangan Afrianda (36) dan Salihayarni (32) itu saat disambangi Serambi, Kamis (25/6/2020), di rumahnya, terlihat sangat memprihatinkan dengan kondisi badan kurus. Sesekali ia masih bermanja dengan ibundanya untuk diambilkan sesuatu.

Orangtua Alfahri mengaku, mereka sudah berupaya untuk mengobati penyakit yang diderita anaknya sejak setahun terakhir. "Sudah pernah dibawa berobat ke rumah sakit di Banda Aceh. Di sana selama enam bulan, dulu belum sebesar ini. Dari hasil diagnosa dokter, penyakitnya tumor ganas," terang Salihayarni, ibunda Alfahri Amin kepada Serambi dengan suara lirih.

Diterangkannya, awal penyakit yang diderita anaknya itu terjadi pada pertengahan tahun 2019 lalu. Saat itu, pada bagian paha kiri anaknya terlihat seperti ada benjolan kecil, namun tidak dirasakan sakit.  "Dulu tidak ada sakit, dipegang pun tidak panas," ucapnya.

Setelah benjolan makin membesar, lalu dibawa berobat hingga ke Banda Aceh karena sudah sudah terasa sakit. Sejak saat itu, anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) tidak sekolah lagi. Menurut ibunda Alfahri, tindakan medis dengan melakukan amputasi kaki anaknya saat ini tidak bisa lagi dilakukan sebab penyakitnya sudah menjalar ke paru-paru.

"Sekarang hanya diberikan obat herbal saja," sebutnya. Obat herbal tersebut, beber dia, tidak ada dijual di Simeulue dan harus dipesan dengan harga Rp 1.250.000 satu paket. "Obatnya satu bulan habis satu paket, dioles dan ada juga yang diminum," urai dia.

Meski dalam kondisi ekonomi pas-pasan, kedua orangtua Alfahri Amin yang hanya buruh kasar terus berusaha mencari uang untuk membeli obat herbal bagi pengobatan anaknya tersebut. Sebab, jika obatnya habis maka khaki Alfahri akan bertambah sakit, sehingga ia terus menangis.(sm)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved