Kamis, 4 Juni 2026

Luar Negeri

Pesta Pernikahan Jadi Hostpot Baru Penyebaran Virus Corona di India

Sebagian warga India tampaknya sudah mengabaikan protokol kesehatan. Padahal, pandemi virus Corona terus meroket di India seusai lockdown dicabut

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
Foto: ANI
Pesta pernikahan di Bhubaneshwar, Distrik Odisha, Negara Bagian Jharkhand, India pada 2 Juli 2020 

SERAMBINEWS.COM, NEW DELHI - Sebagian warga India tampaknya sudah mengabaikan protokol kesehatan.

Padahal, pandemi virus Corona terus meroket di India seusai lockdown atau penguncian dicabut.

Warga terus melanggar aturan memakai masker dan jarak sosial.

Bahkan, tidak memperdulikan kebersihan pribadi dan tamu di luar batas yang diizinkan.

Sehingga, pesta pernikahan telah muncul sebagai hotspot atau tempat baru penularan virus Corona baru, COVID-19 di Jamshedpur, Ibu Kota Negara Bagian Jharkhand, India.

Pada Senin (6/7/2020), sebanyak 10 anggota keluarga dari Prem Nagar di ibukota negara bagian itu dinyatakan positif COVID-19.

Perjalanan keluarga mengungkapkan, bersama beberapa kerabat telah pergi ke Buxar di Bihar untuk pernikahan putra mereka pada 2 Juli 2020.

Mereka kembali pada 4 Juli 2020 dan infeksi pertama kali dikonfirmasi di kepala keluarga.

Dari Pengacara dan Sekretaris Perusahaan, Janda Tentara India Ikuti Jejak Suaminya

Industri Otomotif India Lesu, Perusahaan Naikkan Gaji dan Bonus untuk Jaga Karyawan Tetap Semangat

India Hadapi Lonjakan Kasus Virus Corona, Tokyo Hidup Dengan Virus, Menkes Selandia Baru Mundur

Selanjutnya, anggota lain termasuk pengantin wanita dinyatakan positif.

Baru-baru ini, personel yang ditempatkan di pos pemeriksaan COVID-19 di area Sonari juga dinyatakan positif virus Corona.

Sebelum bergabung dengan tugas, ia telah menghadiri perayaan pernikahan di Bihar.

Menurut laporan The Times of India, Kamis (9/7/2020), baru-baru ini pesta pernikahan dihadiri 200 orang lebih di Sonari West/

Ketika petugas Polisi Sonari, Ranu Gupta, diberitahu tentang hal itu, dia menolak bertindak.

Dia mengatakan memeriksa jumlah tamu tidak termasuk dalam yurisdiksi polisi.

Dalam insiden lain, upacara pernikahan dengan lebih dari 300 tamu terjadi di Janata Bustee.

Seorang mahasiswa bernama Satarupa Mukherjee melaporkan ke polisi Tiger Mobile, tetapi tidak ada tindakan yang diambil.

Dr Indranil Bhaduri, seorang ahli bedah ortopedi senior di Rumah Sakit Utama Tata, menyerukan larangan pesta perkawinan.

Dia beralasan para tamu tidak mematuhi berbagai langkah pencegahan dan dapat menyebabkan penyebaran infeksi secara massal.

"Pemerintah distrik dan negara bagian harus menangani masalah seperti itu dengan ketat," harap Bhaduri.

Sementara, Polisi Odisha telah menangkap lima orang termasuk pengantin pria.

Mereka dinilai lalai dengan pedoman COVID-19 selama prosesi pernikahannya di Berhampur.

"Sebuah kasus telah terdaftar karena melanggar pedoman COVID-19 dalam pesta perkawinan dengan 50 tamu lebih di lokasi hotel."

"Mereka mengabaikan masker dan jarak sosial " kata DIG Central Zone, Satyabrata Bhoi.

Insiden itu terjadi pada 2 Juli.

"Kasus ini telah didaftarkan dan dua kendaraan dalam prosesi telah disita, serta orang-orang yang ditangkap akan diajukan ke pengadilan, "tambahnya.

Pejabat Distrik telah menyegel hotel karena melanggar norma COVID-19.

Menyusul insiden itu, Kepala Menteri tweeted:

"Odisha berada dalam fase penting dalam perang melawan COVID-19.

"Oleh karena itu, sangat penting kita semua mematuhi pedoman dan peraturan dari Pemerintah Negara Bagian untuk mencegah penyebaran COVID-19."

"Pelanggaran terhadap hal yang sama akan mendapat hukuman kuat.

Dalam insiden yang mengejutkan, seorang pakat perangkat lunak berusia 30 tahun meninggal dunia.

Hanya berselang dua hari setelah pernikahannya dan 95 tamu yang menghadiri perayaan itu, dinyatakan positif COVID-19.

Pernikahan itu diadakan di sebuah di blok Paliganj, Patna pada 15 Juni 2020.

Pengantin pria yang sudah meninggal bekerja di Gurugram Haryana dan telah kembali ke desanya pada 12 Mei.

Dia memiliki gejala mirip COVID-19.

Meskipun demikian, keluarganya mengorganisir pernikahan dengan tamu di luar batas yang diizinkan.

Dua hari setelah pernikahan, gejalanya memburuk dan keluarganya segera membawanya ke AIIMS-Patna untuk perawatan.

Namun, dia meninggal dunia, kemudian, keluarga mengkremasi jenazah tanpa memberi tahu pejabat pemerintahan.

Saat berbicara kepada The Times of India , Kepala Menteri Patna, Kumar Ravi mengatakan seorang warga memberi tahu kematian pengantin pria itu.

Setelah itu sampel kerabat pengantin pria yang meninggal itu dan tetangganya dikumpulkan untuk pengujian.

Sebanyak 15 orang dinyatakan positif COVID-19.

Setelah ini, polisi melacak dan mengumpulkan sampel dari para tamu, yang menghadiri pernikahan.

Dari mereka, total 80 orang dinyatakan positif.

Penduduk mengatakan ketika pengantin pria mengalami gejala mirip COVID-19, keluarganya membawanya ke dukun.

Bahkan, tidak pergi ke dokter atau menempatkannya di bawah karantina.

Insiden ini digambarkan sebagai "kasus pertama penyebaran massal COVID-19 di Bihar".

Pemerintah telah melacak kontak dan mengumpulkan 300 sampel dari vendor, tetangga dan orang lain, yang mungkin terkena virus.

Dalam insiden serupa, seorang pria mengundang lebih dari 250 tamu ke pernikahan putranya di Distrik Bhilwara Rajasthan awal bulan ini.

Kemudian, 15 undangan, termasuk pengantin pria, dinyatakan positif COVID-19.

Menurut laporan, aturan masker dan jarak sosial dianggap angin lalu selama acara tersebut.

Sementara itu, Kemenkes India, Kamis (9/7/2020) melaporkan 25.000 kasus baru virus corona.

Sehingga, jumlahnya korban virus Corona melonjak menjadi 767.296 orang.

Jumlah itu merupakan tertinggi ketiga di dunia, setelah AS dan Brasil

Jumlah korban virus Corona yang meninggal dunia di India telah mencapai 21.129 orang.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved