Breaking News:

Aceh-Brunei Jajaki Peluang Kerja Sama Ekonomi  

Dubes RI Bandar Seri Begawan, Dr Sujatmiko, menyampaikan Aceh dan Brunei Darussalam memiliki berbagai kesamaan secara historis

SERAMBINEWS.COM/IST
Mengadakan pertemuan dengan Sujatmiko, Duta Besar Indonesia untuk Brunei Darussalam. 

BANDA ACEH - Dubes RI Bandar Seri Begawan,  Dr Sujatmiko, menyampaikan Aceh dan Brunei Darussalam memiliki berbagai kesamaan secara historis dan budaya. Perdagangan bilateral Indonesia dan Brunei Darussalam selama 2017-2019 terus mengalami peningkatan dengan neraca perdagangan surplus bagi Indonesia. 

"Untuk itu, Pemerintah Aceh diharapkan dapat secara konkrit mempersiapkan berbagai potensi yang bisa dimanfaatkan untuk memperkaya hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dengan Brunei Darussalam," kata Dr Sujatmiko dalam sambutannya pada lokakarya daring dengan tema Peningkatan Hubungan Bilateral Indonesia-Brunei: Peluang dan Potensi Ekonomi dan Konektivitas bagi Aceh, Kamis (23/7/2020).

Acara ini menghadirkan berbagai narasumber yaitu Dubes RI Bandar Seri Begawan, Dr Sujatmiko, Kepala BI Aceh, Zainal Arifin Lubis, Plt Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Dr H Teuku Faizasyah, Guru Besar FEB UI, Prof Aris Ananta PhD, dan Senior Assistant Professor Center of Advanced Research Universiti Brunei, Dr Evi Nurvidya Arifin, serta diikuti oleh Kepala DPRA, Kepala Bappeda Aceh, akademisi dan berbagai instansi terkait.

Plt Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI, Teuku Faizasyah menyampaikan perlu adanya sinergi pusat dan daerah dalam upaya pemulihan ekonomi Indonesia. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, di satu sisi muncul peluang bagi Pemda untuk menarik investasi relokasi industri dari RRT. 

Di sisi lain, dikatakannya, muncul juga tantangan untuk memastikan standar kualitas dan supply yang berkesinambungan untuk memenuhi demand. Senada dengan Dubes RI Bandar Seri Begawan, bahwa Pemerintah Aceh diharapkan konkrit mempersiapkan berbagai hal yang bisa ditawarkan kepada investor di luar negeri khususnya pada sektor-sektor unggulan.

Sementara Kepala Perwakilan BI Aceh, Zainal Arifin Lubis mengatakan pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional dan daerah, termasuk Aceh. Beberapa indikator menunjukkan adanya tekanan dan perlambatan aktivitas ekonomi sejak triwulan I 2020, antara lain menurunnya pertumbuhan ekonomi, menurunnya aliran modal asing, ekspor yang terkontraksi, dan tekanan nilai tukar yang meningkat. 

Demikian hal di Aceh, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2020 melambat yaitu 3,17 persen year on year (yoy) atau berada di bawah pertumbuhan ekonomi Sumatera (3,25 persen (yoy). 

Selanjutnya, Kepala BI Provinsi Aceh juga menyampaikan beberapa komoditas yang sangat potensial antara lain di sektor perikanan, pertanian dan perkebunan antara lain padi, kopi arabika gayo, nilam, dan rotan, serta sektor pariwisata perlu menjadi fokus yang perlu dikembangkan dengan strategi pengembangan terintegrasi dari hulu ke hilir, atau Integrated Downstream-Upstream Business (IDUB). 

"Sebagai contoh untuk komoditas kopi, Provinsi Aceh merupakan salah satu penghasil kopi arabika terbesar di Sumatera dan telah terkenal ke mancanegara," sebutnya.

Ia menambahkan, apabila dilakukan replanting pada tanaman kopi di Aceh yang sudah tidak menghasilkan, maka diperkirakan dapat meningkatkan nilai ekspor lebih dari 90 juta Dolar Amerika. Dengan adanya berbagai potensi tersebut yang tergarap dengan baik, ke depannya diharapkan Aceh dapat menarik sebagian investasi asing yang dilakukan oleh Brunei baik oleh pemerintah maupun swasta, mengingat negara Brunei memiliki nilai investasi yang cukup tinggi serta berpotensi menjadi konsumen bagi produk maupun jasa dari Aceh.(una/rel)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved