Breaking News:

Liga 1 2020

Abaikan Kurva Penularan Virus Corona, Pengamat Nilai PSSI Paksakan Liga 1 2020

Bahkan, mengabaikan kurva penularan virus Corona (Covid-19) di Tanah Air yang belum menunjukkan tanda-tanda akan menurun.

Youtube Asumsi
Wartawan olahraga senior. Anton Sanjoyo. 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pengamat sepakbola, Anton Sanjoyo menilai, PSSI terlalu memaksakan kompetisi Liga 1 2020 kembali bergulir.

Bahkan, mengabaikan kurva penularan virus Corona (Covid-19) di Tanah Air yang belum menunjukkan tanda-tanda akan menurun.

"Ada environment yang PSSI dan PT LIB tak bisa handle, pertama kurva penularan yang kita belum tahu kapan akan melandai," ujar Anton dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, sebagaimana dirilis Antaranews, Selasa (28/7/2020).

"Persoalannya bukan hanya koordinasi. Bikin kompetisi dilanjutkan itu mudah. Tapi, bagaimana dengan suasana yang luar biasa ini keselamatan pemain dijaga. Sehingga tak ada kluster di sepak bola," tegasnya.

Anton membandingkan ligaa di benua biru yang bisa kembali menjalankan kompetisi seperti Inggris, Jerman, dan negara Eropa lainnya.

Menurutnya, federasi di sana telah memperhitungkan secara matang konsekuensi yang akan dihadapi.

Di satu sisi, kurva penularan yang sudah bisa dikendalikan menjadi faktor penting bagi federasi memulai lagi kompetisi.

Terkait Proyek Multiyears, IKASI Unsyiah Nilai Komunikasi Politik DPRA dan Pemerintah Aceh Buruk

Ini Jumlah Kerusakan Sementara Rumah Warga Akibat Puting Beliung di Paya Bakong Aceh Utara

Aceh Besar Kembali ke Status Zona Orange Covid-19

Pansus DPRA Temukan Beberapa Proyek Dana Otsus 2019 Terjadi Kelebihan Bayar

"Inggris, Jerman bisa lakukan karena kurva sudah turun. Jerman saja yang kita tahu yang sangat disiplin begitu luar biasa menjaga pemain. Kedua, tes seminggu bisa 3-4 kali dan itu dilakukan dengan ketat," kata dia.

Sementara di kompetisi Tanah Air, untuk tes kesehatan masih belum menemukan titik temu, meski PSSI sudah mewacanakan menanggung tes cepat (rapid test).

Ia pun mendesak kepada PSSI dan PT LIB apabila tetap bersikukuh melanjutkan liga untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Sebab, kata dia, sepak bola bisa kembali digelar kapanpun, sementara nyawa tidak bisa dikembalikan.

"Bahwa sepak bola apapun di dunia tidak lebih penting dari nyawa. Sepak bola memang penting. Sepak bola harus jalan, tapi bagaimana protokolnya, jangan korbankan nyawa," pungkas wartawan olahraga senior itu.(*)

VIDEO - Ulee Kareng Juarai Turnamen Piala PSAA Abulyatama, Guyuran Hujan Warnai Penyerahan Trophy

Video Protes Belajar Daring Viral, Ratu Talisha Emak-Emak Asal Medan Ini Klarifikasi Soal Omelannya

VIDEO - Tujuh Pasien Covid-19 Menjalani Karantina di Wisma SKB Aceh Tamiang

VIDEO - VIRAL Remaja Putri Dipaksa Cium Kaki Teman 10 Kali

Editor: Imran Thayib
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved