Breaking News:

Update Corona di Aceh

Angka Positif Covid-19 Terus Meningkat, IDI Aceh: Pemerintah Harus Lakukan Pembatasan

“Pemerintah harus membuat pembatasan, apapun bentuk pembatasannya itu, yang penting harus banyak orang yang dibatasi aktivitasnya. Karena saya...

SERAMBINEWS.COM/MAWADDATUL HUSNA
Ketua IDI Aceh, DR Dr Safrizal Rahman MKes SpOT (kedua dari kanan) menyampaikan terkait merebaknya wabah virus corona saat berkunjung ke Kantor Harian Serambi Indonesia, di Jalan Raya Lambaro Km 4,5, Desa Meunasah Manyang PA, Ingin Jaya, Aceh Besar- Banda Aceh, Selasa (10/3/2020).  

“Pemerintah harus membuat pembatasan, apapun bentuk pembatasannya itu, yang penting harus banyak orang yang dibatasi aktivitasnya. Karena saya khawatir jika tidak dilakukan pembatasan, maka penyebarannya nanti tidak bisa dikendalikan,” ujar Safrizal yang juga Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah.

Laporan Muhammad Nasir I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Seiring meningkatnya jumlah orang yang positif Covid-19 di Aceh hingga 400-an orang, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh meminta Pemerintah Aceh supaya dapat kembali pembatasan aktivitas.

Hal itu, untuk memutuskan mata rantai penyebaran virus tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ketua IDI Aceh, Dr dr Safrizal Rahmat MKes SPoT dalam Serambi Podcast yang berlangsung, Selasa (4/8/2020).

Safrizal menyampaikan, bahwa pemberlakukan pembatasan sangat penting dalam menekan laju angka positif covid-19 di Aceh.

Katanya, IDI Aceh juga sudah pernah menyampaikan saran tersebut kepada pemerintah.

“Pemerintah harus membuat pembatasan, apapun bentuk pembatasannya itu, yang penting harus banyak orang yang dibatasi aktivitasnya.  Karena saya khawatir jika tidak dilakukan pembatasan, maka penyebarannya nanti  tidak bisa dikendalikan,” ujar Safrizal yang juga Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah.

Miris, Mayat Bayi Ditemukan Hancur Terbungkus Kresek di Jalan, Sempat Dikira Daging Kurban

Menurutnya, jika pun tidak bisa menghentikan penyebaran, maka harus dilakukan pengendalian penyebaran.

Alasannya, karena fasilitas kesehatan dan tenaga medis untuk penanganan Covid-19 di Aceh sangat terbatas.

Sehingga jika angkanya terus melonjak tajam, maka tidak bisa tertampung di rumah sakit dan dirawat oleh tenaga medis.

“Kalau rumah sakit kita ada kapasitas 2 juta orang mungkin oke saja, karena ini terbatas, maka harus dilakukan pembatasan supaya yang sakit tidak terlalu banyak,” ujar Safrizal.

Menurutnya, pembatasan itu bisa dalam bentuk jam malam, PSBB, work from home, hingga pembatasan jam operasional warkop.

“Meskipun secara nasional mungkin tidak masuk akal, tapi mereka sudah pernah melakukannya dulu,” ujarnya. (*)

VIDEO - Viral Aksi Seorang Pria Keluarkan Jurus Silat Ketika Diserang Sapi Kurban

Penulis: Muhammad Nasir
Editor: Nurul Hayati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved