Jumat, 17 April 2026

Berita Aceh Singkil

Banjir Jadi Musuh Utama Petani Aceh Singkil, Hasil Pertanian Sering Gagal Panen

Begitu masuk bulan berahiran ber, seperti September, Oktober dan seterusnya itu pertanda musim hujan dan banjir.

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
BUPATI Aceh Singkil, Dulmusrid menanam jagung di Desa Takal Pasir, Kecamatan Singkil, sebagai antisipasi rawan pangan pada masa pandemi Covid-19, Sabtu (8/8/2020). 

Begitu masuk bulan berahiran ber, seperti September, Oktober dan seterusnya itu pertanda musim hujan dan banjir.

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singki

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Banjir jadi musuh utama petani di Kecamatan Singkil, Aceh Singkil.

Sebab lebih dari satu dekade terakhir, banjir sulit diprediksi.

Itulah menjadi penyebab pertanian di Kecamatan Singkil, tidak berkembang.

Padahal wilayah ibu kota Kabupaten Aceh Singkil, tersebut memiliki areal lahan pertanian luas dan subur.

"Banjir menjadi kendala masyarakat kami bertani," kata Camat Singkil Sopyan, Sabtu (8/8/2020).

Sebelumnya masyarakat dapat memprediksi musim tanam untuk terhindar banjir dimulai Januari hingga Agustus.

Begitu masuk bulan berahiran ber, seperti September, Oktober dan seterusnya itu pertanda musim hujan dan banjir.

"Tapi sekarang banjir datang tak bisa diprediksi," imbuh Kepala Desa Takal Pasir Sarman.

Hasil Liga Champions - Barcelona Lolos ke Perempat Final Usai Permalukan Napoli 3-1

VIDEO - Tangis Haru Wabup Aceh Tamiang Ketika Menerima Penghargaan dari Bupati

Viral Video Bocah Perempuan Dicekoki Miras oleh Orang Dewasa, Warganet Geram dan Kecam Pelaku

Terkait hal itu, Camat Singkil Sopyan dan Kepala Desa Takal Pasir Sarman, minta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, segera menuntaskan pembangunan tanggul pengendali banjir.

Agar masyarakat Singkil, bisa bertani tanpa terkendala banjir.

Tanggul pengendali banjir Singkil, dibangun sejak empat tahun silam.

Tanggul itu membentang dari Tanah Merah, Kecamatan Gunung Meriah sampai Kilang, Kecamatan Singkil, sepanjang kira-kira 26 Kilometer.

Namun belum tuntas sebab, setiap tahun pagu anggaran yang dikucurkan minim. Tak sebanding dengan nilai anggaran yang mencapai Rp 700 miliar lebih.

Sementara itu bekas wilayah pemukiman penduduk Singkil, di daerah aliran sungai memiliki areal pertanian subur.

Bahkan menjadi lumbung pangan bagi masyarakat.

Sayang setelah gempa Aceh-Nias 28 Maret 2005, permukaan tanah turun.

Hal itulah menjadi penyebab banjir datang sulit diprediksi. Sehingga tanaman pertanian warga kerap gagal panen.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved