Minggu, 10 Mei 2026

Luar Negeri

Iran dan Turki Sebut UEA Tikam Rakyat Palestina dari Belakang

Pemerintah Iran dan Turki, Jumat (14/8/2020) mengecam keras saingan regional mereka Uni Emirat Arab (UEA).

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/AFPTV
Demonstran Palestina merobek potret Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan untuk memprotes pembukaan hubungan UEA dengan Yahudi di Kompleks Masjid al-Aqsa, Jerusalem, Jumat (14/8/2020). 

SERAMBINEWS.COM, JERUSALEM - Pemerintah Iran dan Turki, Jumat (14/8/2020) mengecam keras saingan regional mereka Uni Emirat Arab (UEA).

Dikatakan, keputusan menormalkan hubungan diplomatik dengan Israel seperti menikam dari belakang rakyat Palestina.

Bahkan, menuduh negara kaya raya itu mengkhianati perjuangan rakyat Palestina.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut kesepakatan yang ditengahi AS itu sebagai belati di punggung rakyat Palestina dan semua Muslim.

Turki mengatakan orang-orang di wilayah itu tidak akan pernah melupakan dan tidak akan pernah memaafkan perilaku munafik oleh UEA.

UEA, yang tidak pernah memerangi Israel dan diam-diam meningkatkan hubungan mengatakan perjanjian itu menahan Israel mencaplok lagi Tepi Barat yang diduduki.

Dikatakan, tanah itu telah dipandang Palestina sebagai jantung negara masa depan mereka.

Namun Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan UEA tidak memiliki wewenang untuk bernegosiasi dengan Israel atas nama rakyat Palestina.

Atau membuat konsesi pada hal-hal penting bagi rakyat Palestina.

Palestina Mengecam Kesepakatan Hubungan Diplomatik Antara UEA dan Israel, Sebut Pengkhianatan

Palestina Marah, Dunia Sambut Baik Pembukaan Hubungan Diplomatik UEA dengan Yahudi

Warga Palestina Demo Kantor Diplomatik Jerman, Tuntut Pembebasan Mahmoud Nawajaa dari Penjara Israel

Perjanjian tersebut akan menjadikan UEA negara Teluk Arab pertama dan negara Arab ketiga, setelah Mesir dan Jordania memiliki hubungan diplomatik penuh dengan Israel.

Palestina mengatakan kesepakatan itu sama dengan pengkhianatan dan telah meminta negara-negara Arab dan Muslim untuk menentangnya.

Kesepakatan bersejarah itu memberikan kemenangan kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump saat berusaha terpilih kembali.

Trump menilai Timur Tengah telah berubah, atas kekhawatiran bersama tentang musuh bebuyutan Iran telah mengambil alih dukungan tradisional Arab untuk Palestina.

Trump telah memperkirakan bahwa negara-negara lain di kawasan itu akan mengikuti jejak UEA.

Israel, UEA, dan negara-negara Teluk lainnya memandang Iran sebagai ancaman regional telah membina hubungan yang lebih erat dalam beberapa tahun terakhir.

Turki telah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel selama beberapa dekade, tetapi di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan telah memposisikan dirinya sebagai pejuang Palestina.

Turki dan UEA mendukung kamp-kamp saingan dalam konflik di Libya.

Kemudian pada Jumat, Erdogan mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menurunkan hubungan Turki dengan UEA dan menarik duta besarnya.

Oman, negara Teluk yang telah memupuk hubungan lebih dekat dengan Israel dan menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tahun lalu menyambut baik.

Kementerian Luar Negeri Oman tidak mengatakan apakah kesultanan akan melakukan tindakan serupa.

Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas menyambut baik perjanjian dan keputusan untuk menangguhkan aneksasi.

Dia menyerukan untuk memberi selamat kepada timpalannya dari Israel, Gabi Ashkenazi atas langkah bersejarah ini.

"Kami mempertahankan posisi, hanya solusi dua negara yang dinegosiasikan yang dapat membawa perdamaian abadi ke Timur Tengah," kata Maas dalam sebuah pernyataan.

"Bersama dengan mitra Eropa kami dan kawasan telah berkampanye secara intensif dalam beberapa bulan terakhir melawan aneksasi dan dimulainya kembali negosiasi langsung," katanya.

Italia mengatakan normalisasi hubungan itu sebagai langkah penting yang dapat berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

roma berharap penangguhan rencana aneksasi Israel akan membantu memulai kembali negosiasi perdamaian langsung.

China juga menyambut baik langkah apapun yang membantu meredakan ketegangan antara negara-negara Timur Tengah dan mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Zhao Lijian mengatakan Beijing akan mendukung secara tegas rakyat Palestina untuk memulihkan hak-hak mereka yang sah dan membangun kemerdekaan.

Tetapi, Iran mengatakan kesepakatan antara Israel dan Uni Emirat Arab berbahaya dan tidak sah.

Kantor berita IRNA mengutip pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran sebagai reaksi terhadap kesepakatan antara dua negara tentang normalisasi hubungan.

Tindakan memalukan Abu Dhabi untuk mencapai kesepakatan dengan rezim Zionis adalah langkah berbahaya.

UEA dan negara-negara lain yang mendukungnya akan bertanggung jawab atas konsekuensinya, tambah pernyataan itu, menurut IRNA.

"Ini seperti menusuk pisau dari belakang terhadap rakyat Palestina dan akan memperkuat persatuan regional melawan rezim Zionis," kata kementerian luar negeri.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved