Breaking News:

Aceh Besar Lawan Covid 19

Dua Hotel Tolak Jadi Rumah Isolasi Tanaga Medis Aceh Besar, Ini Penjelasan Jubir Covid-19, Iskandar

Dua Hotel di Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar menolak untuk dijadikan sebagai tempat rumah isolasi bagi petugas kesehatan atau paramedis...

Penulis: Asnawi Luwi | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Petugas kesehatan sedang mendistribusikan sembako kepada paramedis yang diisolasi di Gampong Tanjung, Aceh Besar.  

 
Laporan Asnawi Luwi| Aceh Besar  

SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Dua Hotel di Banda Aceh dan Kabupaten  Aceh Besar menolak untuk dijadikan sebagai tempat rumah isolasi bagi petugas kesehatan atau paramedis yang terpapar Covid-19 dari kabupaten Aceh Besar.

"Kita telah jajaki dua hotel yakni Hotel Permatahati dan Hotel Oasis Banda Aceh untuk kita sewa sebagai tempat rumah isolasi bagi petugas kesehatan yang terpapar Covid-19. Kedua hotel ini tempatnya dekat dan strategis sekali terhadap petugas kesehatan yang menangani pasien positif Covid-19.

Tetapi, pihak manajemen hotel menolaknya. Padahal, kalau fasilitas-fasilitas di hotel tersebut megah dan sangat layak sekali dan nyaman bagi paramedis untuk diisolasi atau dkarantina selama 10 atau 14 hari.

"Kita awalnya mencarikan hotel sebagai bentuk kepedulian kita terhadap paramedis yang sebagai garda terdepan dalam menangani pasien positif Covid-19 dan Hotel Permatahati dan Oasis terdekat dengan rumah para petugas kesehatan kita," ujar Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh Besar, Drs Iskandar MSi.

Namun, ditolak pihak manajemen perhotelan dengan alasan ada tamu yang nantinya komplain sehingga terpaksa dicari rumah sewa lain seperti di Gampong Tanjong dan fasilitas pemerintah di Wisma Atlet dan Gedung PKK Jantho  sebagai tempat rumah isolasi.

Bikin Haru, Begini Awal Cerita Artis Fivey Rachmawati Five Vi Saat Hijrah

Jawab Tudingan Soal Rekayasa Covid-19, Ini Jawaban  Dokter Spesialis RSUD Kota Subulussalam      

"Wajar-wajar saja mereka menolak, karena hotel ini bukan milik pemerintah tapi pihak swasta," ujar Iskandar kepada Serambinews.com, Sabtu (15/8/2020).

Menurut Iskandar, masyarakat harus memahami bagaimana mekanisme penyebaran virus corona di pedesaan di Aceh Besar.

Makanya, masyarakat sangat dianjurkan memakai masker ketika di luar rumah, menjaga jarak fisik, jarak sosial, mencuci tangan pakai sabun dan pola hidup yang sehat. Khususnya, di pasar-pasar, warkop dan pusat keramaian lainnya harus ikuti protokol kesehatan.

Sementara itu, Wakil Komisi V DPRK Aceh Besar dari Partai PKS, Eka Rizkina SPd mengatakan, seharusnya Pemkab gencarkan sosialisasi atau edukasi tentang penyebaran virus corona (covid-19) kepada masyarakat umum.

Menurut dia, tempat isolasi yang disediakan Pemkab Aceh Besar bagi petugas paramedis yang kontak dengan pasien positif Covid-19.  Seharusnya, rumah isolasi itu khususnya diprioritaskan terhadap paramedis yang positif terkena virus corona (covid-19). Sedangkan, yang hanya kontak dengan pasien positif Covid-19.

"Saya rasa lebih baik melakukan isolasi mandiri bagi mereka yang tidak terpapar Covid-19. Dan, menurut Srikandi PKS dari daerah pemilihan (Dapil II) ini, peran gugus tugas tingkat Gampong dan Kecamatan agar diaktifkan kembali,  karena mereka mendapat kucuran anggaran dari dana refocusing dan ada yang menganggarkan sendiri dari dana desa untuk mencegah penyebaran virus corona.

Menurut Eka Rizkina, ada beberapa kantor camat kecamatan-kecamatan yang memiliki ruangan isolasi covid-19 tetapi tidak di tempati alias belum difungsikan. Kemungkinan, kurang layak atau hal lainnya.

Jadi, katanya, Satgas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh Besar agar turun ke kecamatan-kecamatan dan gampong untuk melihat bagaimana kesiapan mereka melakukan pencegahan penyebaran virus corona, apalagi anggaran refocusing telah mereka tarik sebesar Rp 50 juta per kecamatan untuk membuat ruangan isolasi Covid-19.

Ditambah Eka Rizkina, pihak Dinkes Aceh Besar khususnya para bidang masing-masing di Dinkes juga diharapkan agar turun ke Puskesmas-Puskesmas untuk melihat langsung apa yang dibutuhkan paramedis dan tenaga kesehatan, apakah Alat Pengaman Diri (APD), masker atau hal lainnya.

Ini untuk lebih memudahkan mengontrol dan memberikan yang terbaik bagi mereka guna mencegah penyebaran virus corona khususnya bagi petugas kesehatan yang menjadi garda terdepan melawan virus corona.

Karena itu ia tidak menginginkan anggaran refocusing  di Aceh Besar mencapai Rp 47 miliar, tetapi paramedis dan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan melawan virus corona kurang mendapat perhatian, misalnya insentif dan ekstra puding harus menjadi rutinitas diberikan setiap petugas kesehatan seperti bidan desa, perawat, dokter sebagai imun tubuh untuk mencegah penyebaran virus corona pada diri dan keluarganya.(*)

Beberkan Tarif Kencan Artis VS Capai Rp 20 Juta, Mucikari Prostitusi Online dapat Fee Rp 8 Juta

Bendera Bintang Bulan Berkibar di Kantor Partai Aceh, Diturunkan Pihak Keamanan Usai Negosiasi

Warga Subulussalam yang Terpapar Covid-19 di Banda Aceh Dinyatakan Sudah Sembuh

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved