Massa Teriak Ingin Jumpa Wali
Peringatan 15 tahun damai Aceh di Meuligoe Wali Nanggroe, kawasan Gampong Lamblang Manyang, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar
Merasa kesal benderanya diambil, massa terus melanjutkan aksi. Massa minta bendera bintang bulan itu dikembalikan. "Poh 7 beungoh benoe kamoe lheuh meucop bendera nyan, pulang bendera kamoe (Pukul 7 pagi tadi selesai kami jahit bendera itu, kembalikan bendera kami)," teriak massa.
Aksi massa belum juga berhenti. Mereka kemudian terus meminta TNI mengembalikan bendera bintang bulan. Juru Bicara (Jubir) KPA, Azhari Cagee, yang masih berada di lokasi, kemudian coba menenangkan massa. Namun, massa tetap saja tidak tenang dan terus beraksi. Mereka berteriak dan menyampaikan aspirasi.
Setelah hampir dua jam, Azhari Cagee bersama Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, dan Dandim 0101/BS, Letkol Inf Abdul Razak Rangkuti Ssos, kemudian bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah, karena massa meminta agar bendera bintang bulan mereka dikembalikan. "Rekan-rekan tadi ingin mengibarkan bintang bulan, tapi dicegah dan benderanya diamankan oleh TNI. Kemudian rekan-rekan meminta kembali bendera tersebut, dikembalikan. Alhamdulillah sudah kita lakukan perundingan di dalam tadi," kata Azhari Cagee.
Dalam perundingan itu, sambung Azhari Cagee, dirinya juga menyampaikan aspirasi bahwa massa tetap ingin mengibarkan bintang bulan. "Dalam pertemuan tersebut kita tetap meminta agar dizinkan mengibarkan bendera bintang bulan untuk memperingati hari damai sekitar 20 menit saja. Tanggapan dari Dandim, beliau akan berkoordinasi dengan Pak Pangdam dan Pak Kapolres akan berkoordinasi dengan Pak Kapolda," katanya.
Sementara itu, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, membenarkan bahwa massa awalnya ingin menjumpai Wali Nanggroe dan mereka membawa bendera bintang bulan. "Mereka teriak wali karena katanya bendera itu mau diserahkan ke Wali atau Mualem untuk dikibarkan. Itu kan tidak boleh, makanya dicegah sama petugas (TNI). Terus bendera itu diamankan," kata Trisno.
Setelah itu, sambung Kapolresta, aksi pun terus terjadi hingga akhirnya dilakukan negosiasi. Kapolresta bersama Dandim dan perwakilan massa, Azhari Cagee, masuk ke ruangan untuk membicarakan hal tersebut. "Mereka minta untuk mengibarkan bendera, tapi kita bilang itu kan tidak boleh. Karena bendera ini masih dalam pembahasan. Dan kami (TNI dan Polri) di situ tidak ada hak mengambil keputusan, hanya menjalankan tugas," kata Trisno.
Setelah beberapa jam bermusyawarah dan Kapolres juga berkoordinasi dengan pimpinan, akhirnya diputuskan bendera itu tidak boleh dikibarkan. "Kita harus patuh sama Pak Wali Nanggroe dan pimpinan, karena ini sedang dalam pembahasan bisa atau tidak. Akhirnya, bendera itu kita serahkan kembali dan massa kemudian membubarkan diri," pungkas Kombes Pol Trisno Riyanto. (dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/massa-dan-prajurit-tni-saling-dorong-saat-terjadi-kericuhan-di-meuligoe-wali-nanggroe.jpg)