Luar Negeri

Palestina Mencari Tanah Leluhur, Uni Emirat Arab Hancurkan Seluruhnya

Dalam tiga dekade upaya perdamaian yang gagal, Palestina tidak pernah menghadapi pemerintahan AS yang lebih bermusuhan. Israel ternyata lebih percaya

Editor: M Nur Pakar
AFP/JAAFAR ASHTIYEH
Seorang wanita yang ikut melakukan demo menentang kesepakatan pembukaan hubungan UEA-Israel di Nablus, Tepi, Barat, Palestina, Rabu (26/8/2020). 

SERAMBINEWS.COM, RAMALLAH - Dalam tiga dekade upaya perdamaian yang gagal, Palestina sedang menghadapi AS yang sangat bermusuhan dibandingkan sebelumnya.,

Israel ternyata lebih percaya diri atau komunitas internasional yang sedang kebingungan.

Tetapi meski harapan untuk menjadi negara bagian tidak pernah tampak begitu redup, tidak ada indikasi kepemimpinan mereka yang menua akan berubah arah.

Presiden Palestina, Mahmoud Abbas tetap berkomitmen pada strategi yang sama yang dia lakukan selama beberapa dekade, seperti dilansir AP, Rabu (26/8/2020).

Mencari dukungan internasional untuk menekan Israel agar menyetujui negara Palestina di Tepi Barat Gaza dan Jerusalem Timur, tanah yang direbut Israel seusai perang Timur Tengah 1967.

Pencarian itu tampaknya semakin sulit setelah keputusan Uni Emirat Arab (UEA) membangun hubungan diplomatik dengan Israel,.

Kebijakan UEA itu telah yang menghancurkan konsensus Arab di balik perdamaian , sumber pengaruh yang langka bagi Palestina.

Negara-negara Arab lainnya diharapkan untuk mengikuti jejak Emirates, memberikan dukungan kepada pendapat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Israel dapat berdamai dengan tetangga Arabnya tanpa ada konsesi apapun dengan Palestina.

Perjanjian UEA juga menghidupkan kembali rencana Timur Tengah Presiden Donald Trump.

Akan sangat menguntungkan Israel dan ditolak oleh Palestina, sekaligus merugikan Ramallah.

Itu akan tetap menjadi landasan kebijakan AS selama empat tahun lagi jika Trump terpilih kembali.

Tetapi kemungkinan besar, orang -orang Palestina hampir setengah dari populasi antara Laut Mediterania dan Sungai Yordan akan tetap berjuang dengan caranya sendiri.

Para pemimpin mereka mengatakan Israel masih membutuhkan tanda tangan mereka jika berharap menyelesaikan konflik.

Sebuah sumber frustrasi bagi menantu dan penasihat Trump Jared Kushner, arsitek rencana perdamaian Palestina-Israel.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved