Kamis, 7 Mei 2026

Berita Subulussalam

Putra Seorang Sopir Ambulans Lolos Masuk Akademi Militer, Ada Doa Pasien dan Keluarga

Yulidin Kombih (46) yang berprofesi sebagai sopir ambulans telah berhasil memimbing anaknya sampai masuk Akademi Militer (Akmil). Dia tidak pernah

Tayang:
Penulis: Khalidin | Editor: M Nur Pakar
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
Yulidin Kombih (46) sopir ambulans RSUD Subulussalam. 

 Laporan Khalidin I Subulussalam

SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Yulidin Kombih (46) yang berprofesi sebagai sopir ambulans telah berhasil memimbing anaknya sampai masuk Akademi Militer (Akmil).

Dia tidak pernah membayangkan, jika putranya bernama Oki Pratama Kombih (22) masuk Akademi Militer (Akmil).

“Terus terang, di luar dugaan, anak kami bisa diterima masuk Akmil, ini adalah kekuasaan Allah SWT,” kata Yulidin Kombih, kepada Serambinews.com, Minggu (30/8/2020) sore.

Yulidin mengaku bangga karena anaknya pernah gagal lima kali, dia juga hanyalah seorang sopir ambulans yang berpenghasilan pas-pasan.

Sebagai sopir ambulans, dia mengaku hanya mendapat honor Rp 1.000.000,- per bulan.

Sedangkan sang istri juga hanya seorng guru biasa di sebuah Sekolah Dasar (SD).

Yulidin menjadi sopir ambulans sejak 2012 lalu atau bertepatan beroperasinya Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang kini menjadi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subulussalam.

Semula, Yulidin menjadi sopir angkutan umum atau travel L-300 jurusan Subulussalam-Medan, Sumatera Utara.

Kelulusan sang anak masuk Akmil menjadi anugerah tak terhingga bagi keluarga Yulidin yang notabene hanya masyarakat biasa.

Dia pun memperkirakan selain kegigihan dan perjuangan putranya, kelulusan tersebut juga atas doa para pasien dan keluarga.

Lolos Akmil 2020, Ini Profil Oki Pratama Kombih, Anak Sopir Mobil Ambulans asal Kota Subulussalam

Terkonfirmasi Positif Covid-19, Enam Keluarga Tenaga Medis RSUD Kota Subulussalam Ikut Dikarantina

Oki Pratama Kombih, Anak Sopir Ambulance di Subulussalam Lolos Akmil

Sebab, selama menjalani profesi sopir ambulans, Yulidin mengaku banyak merasakan asam pahitnya kehidupan.

Sebagai sopir ambulans, kata Yulidin mereka lebih banyak merasakan pahitnya.

Sebab tak jarang para sopir mendapat perlakuan tak mengenakkan dari keluarga pasien yang sedang panik.

Namun, sebagai sopir tetap memberi pelayanan terbaik bagi pasien dengan mengabaikan perlakuan, sekalipun kasar.

“Kadang keluarga pasien mau menonjok, karena dianggap ugal-ugalan," ujarnya.

"Mereka juga panik melihat laju mobil kencang,” ujar Yulidin

Dikatakan, mereka sebenarnya bukan ugal-ugalan, melainkan pasien membutuhkan perawatan cepat.

Yulidin menjelaskan satu jam terlambat, penyakit pasien bisa memburuk.,

Sehingga kalau dipercepat maka pasien dapat tertolong.

Namun katanya, terkadang saat sopir memacu laju kendaraan ambulans, keluarga pasien panik hingga hilang kendali dan tak jarang menonjok.

Yulidin pun mengaku acap kali ditonjok keluarga pasien yang panik.

Tapi dia harus tetap sabar kaena memahami psikologis keluarga pasien.

Sebab, jika sebagai sopir tidak sabar lantas melayani tonjokan atau apapun bisa menimbukan masalah baru.

Lantaran itu, banyak pula keluarga pasien yang menemui Yulidin sepulang dari rumah sakit rujukan untuk meminta maaf atas kekhilafannya.

“Kami selaku sopir menyadari pelayanan apalagi menyangkut nyawa pasien, jadi kami ini kunci penolong orang lain,” ungkap Yulidin

Ayah lima putra dan putri ini pun mengaku memilih menjadi sopir ambulans demi membantu orang banyak.

Padahal menurutnya, jika membawa ambulans membuat nyawa mereka terancam.

Sebab, para sopir kerap memikirkan keselamatan pasien dan tidak memikirkan keselamatan diri.

Selaku sopir ambulans, Yulidin mengaku hanya berpikir keselamatan pasien.

Hingga kadang lupa nyawa sendiri, sebab sesuai aturan mereka harus mementingkan keselamatan pasien.

Dia mencontohkan untuk perjalanan rujukan ke Medan yang berdurasi lima jam, jika bisa, diusahakan hanya tiga jam.

Dengan demikian maka dapat mengurangi penyakit pasien.

Tetapi, kalau terlambat satu jam, maka penyakitnya terus memburuk.

Lebih jauh, Yulidin menceritakan suka dukanya menjadi sopir ambulans.

Saat bawa pasien ke RS rujukan di Medan maka tidak ada makan di jalan sebelum tiba di rumah sakit.

Dikatakan, itu disebutnya darurat level 1.

Dia menambahkan kalau makan roti di dalam mobil sambil menyetir.

Yulidin juga kerap membawa jenazah yang sudah parah bahkan busuk.

Seperti Yulidin membawa jenazah korban hanyut yang telah membusuk dari Subulussalam ke Kutacane, Aceh Tenggara.

Dia mengaku hanya bermodalkan nomor handphone mencari anggota keluarganya.

Karenanya, Yulidin mengaku bahwa kelulusan sang anak bisa jadi juga doa dari keluarga pasien yang merasa tertolong olehnya membawa ambulans.

“Mungkin doa-doa keluarga pasien yang merasa tertolong saat kita bawa ke rumah sakit rujukan sehingga dibalas dengan cara lain oleh Allah SWT,” papar Yulidin

Selaku orang tua, Yulidin tak mampu memberi uang banyak kepada anaknya saat ikut seleksi akmil beberapa waktu lalu. Mereka hanya memberi support dan doa.

Ada satu hal yang menurut Yulidin disampaikan sang anak usai wawancara di Magelang Jawa Tengah.

Kala itu, Oki Pratama Kombih diwawancarai soal asal usul keluarga. Nah, Oki pun menuturkan dia hanyalah anak seorag sopir ambulans.

Pewawancarai kembali menanyakan apakah sang ayah pernah membawa pasien covid-19 dan diiyakan Oki Pratama.

Nah, begitu dibilang sopir ambulans, sontak ada yang memeluk Oki Pratama. Alhasil, Oki mampu melewati seleksi hingga pantuhir kahir di Magelang.

Keberhasilan Oki lulus seleks akmil ini bak kata pepatah arab, Man Jadda wa Jadda, Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Hal ini telah dibuktikan, Oki Pratama Kombih yang notabene hanyalah anak seorang sopir Ambulans namun berhasil lolos masuk akademi militer (Akmil) 2020.

Benar, Oki Pratama Kombih sudah membuktikan bahwa semua cita-cita dapat dicapai oleh setiap orang yang tak barhenti berjuang, berusaha dan berdoa.

Selain itu, terlahir dari keluarga yang biasa-biasa juga bukan menjadi penghalang dalam menggapai cita-cita apapun.

Sebab, keberhasilan Oki lulus dalam seleksi taruna akmil bukanlah segampang membalik telapak tangan namun penuh liku-liku.

Betapa tidak, alumni Pondok Pesantren Raudhatul Jannah, Desa Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam ini ternyata pernah gagal lima kali dalam proses pendaftaran menjadi polisi dan TNI.

Hal itu disampaikan Yulidin Kombih (46), ayah kandung Oki saat berbincang-bincang dengan Serambinews.com, Minggu (30/8/2020) di kediamannya Jalan Syekh Hamzah Fansury, Subulussalam Selatan.

Yulidin yang diwawancarai didampingi sang ibu Siti Sarah (41) mengaku jika anak pertama mereka lulus masuk akmil untuk adu nasib yang ke enam kali.

“Ini pendaftaran yang ke 6, sebelumnya ada lima kali pendaftaran mulai di polisi dan TNI, semuanya gagal,” kata Yulidin

Dikatakan, sebelumnya, pemuda lima bersaudara tersebut pernah mendaftar calon bintara polri, ketika awal menyelesaikan pendidikan SMA.

Tapi, keinginan Oki kandas akibat usia belum genap 18 tahun atau kurang sekitar dua bulan sehingga gagal diawal pendaftaran.

Namun tekad Oki tak pernah luntur, pada penerimaan berikutnya, penghoby olahraga sepak bola ini kembali mengadu nasib masuk caba Polri.

Lagi-lagi, Oki gagal di ujung proses. Namun bukan Oki namanya jika langsung putus asa. Jebolan Sekolah Dasar Negeri 1 Subulussalam ini ternyata tidak pernah kapok untuk mendaftar.

Dia kembali memperjuangkan cita-citanya untuk mendaftar pada penerimaan caba Polri meski gagal hingga empat kali.

Setelah empat kali gagal seleksi masuk polisi, Oki mencoba perntungan di institusi TNI atau militer.

Dia mencoba mendaftar di seleksi caba TNI beberapa waktu lalu tapi lagi-lagi Dewi Fortuna belum perpihak kepadanya.

Hanya saja, bagi Oki kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Tampaknya kata-kata tersebut menjadi motivasi tersendiri sehingga dia kembali mengadu nasib untuk menjadi seorang anggota TNI.

Kali ini, Oki mencoba untuk mengikuti seleksi akmil 2020 di Banda Aceh.

Benar saja, kegigihan yang ditunjukkannya sukses membawa Okiul menuju seorang TNI melalui jalur Akmil.

Oki membuktikan ketangguhannya meski banyak lika-liku yang ia tempuh hingga kali ini bisa lolos dan diterima di Akademi Militer.

Di sisi lain, dalam perjuangan Oki mendaftar di sejumlah seleksi, tidak pernah didampingi orang tua atau mengandalkan seseorang maupun link melainkan percaya pada kemampuannya.

”Setiap proses pendaftaran dialah yang mengurus. Kami tidak pernah ikut, kecuali kemarin mengantarkan ke Bandara waktu mau ke Magelang,” ungkap sang ayah dan diamini ibunya Siti Sarah

Lebih jauh, sang ibu, Siti Sarah mengaku sejak kecil, Oki sudah mendambakan menjadi seorang aparat negara apakah polisi atau prajurit TNI.

Oki ternyata sangat senang memakai seragam-seragam baik kepolisian ataupun militer dan hal itu bukan sekadar angan-angan namun dia memperjuangkan cita-cita tersebut.

Oki membuktikan bahwa semua cita-cita dapat dicapai oleh setiap orang yang tak barhenti berjuang dan berusaha

Kedua orang tua Oki mengaku tidak pernah menyangka anaknya akan mampu masuk ke Akmil mengingat mereka hanyalah masyarakat kecil.

Namun, ternyata dengan kegigihan dan pertolongan Allah SWT, rakyat kecil seperti Oki pun dapat bersaing masuk tentara.

Sebagaimana diberitakan, Oki Pratama Kombih (22) pemuda asal Jalan Syekh Hamzah Fansury, Desa Subulussalam Selatan, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.

Lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 9 Tunas Bangsa ini Banda Aceh ini dinyatakan lulus Taruna AKMIL Tahun 2020 setelah melewati tahapan seleksi yang sangat ketat.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved