Kamis, 7 Mei 2026

Aceh Tamiang

Sawah di Marlempang Masih Tertimbun Lumpur Kering, Warga Alih Profesi Jadi Perajin Sapu Lidi

Proses pembersihan manual yang dilakukan warga belum membuahkan hasil, sehingga warga memilih meninggalkan lahannya

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/HO/serambinews
SAWAH KERING - Lumpur di areal sawah sudah mengering sehingga memaksa warga beralih profesi srbagai perajin lidi. 

Ringkasan Berita:
  • Akibat banjir 2025 lumpur tebal menutupi seluruh hamparan sawah di Kampung Marlempang, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.
  • Kondisi lumpur sudah mengeras, sehingga proses pembersihan membutuhkan alat berat.
  • Proses pembersihan manual yang dilakukan warga belum membuahkan hasil, sehingga warga memilih meninggalkan lahannya untuk beralih profesi lain.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Banjir bandang akhir November 2025 masih menyisakan lumpur tebal yang menutup seluruh hamparan sawah di Kampung Marlempang, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Ketebalan lumpur yang mencapai 30 centimeter ini menyulitkan warga membersihkan lahan untuk memulai musim tanam baru.

“Di Dusun Satu ada 22 hektare, semuanya masih lumpur,” kata Arif, seorang warga setempat, Rabu (6/5/2026).

Kondisi lumpur sudah mengeras, sehingga proses pembersihan membutuhkan alat berat. 

Proses pembersihan manual yang dilakukan warga belum membuahkan hasil, sehingga warga memilih meninggalkan lahannya untuk beralih profesi lain.

Arif mengatakan profesi baru ini dominan sebagai perajin sapu lidi. Warga mengumpulkan pelepah kelapa sawit untuk diiris dijadikan sapu lidi

Berharap ada bantuan

Namun karena hasil yang didapat tidak memadai, warga tetap berharap ada program bantuan membersihkan lahan sawah.

Persoalan di Marlempang bukan hanya sawah kering akibat tertutup lumpur pascabanjir bandang. 

Ia menyampaikan di kampung ini ancaman banjir susulan juga besar terjadi.

Dia mengatakan tanggul tersebut direhabilitasi secara swadaya pada Februari 2026. Material yang digunakan sebatas tanah yang diambil dari sekitar tanggul yang mengandung unsur pasir.

“Tanah di sini mengandung pasir, beberapa titik sudah ada yang longsor,” kata Arif, Selasa (5/5/2026).

Perbaikan yang dilakukan warga diakuinya harus dilakukan sebagai antisipasi luapan air Sungai masuk ke pemukiman. 

Awalnya mereka berharap perbaikan sederhana ini dilanjutkan pihak berwenang untuk menghasilkan kualitas yanag lebih baik.

“Harapan kami ada tindaklanjut, karena hari ini kerusakan terus melebar,” ungkapnya.

Awalnya kerusakan tanggul ini hanya selebar lima meter. Namun karena gerusan air Sungai terus terjadi, panjang perbaikan sudah mencapai 100 meter. (mad)

Baca juga: Areal Sawah Kering Akibat Kemarau, Petani di Abdya Gotong Royong Perdalam Aliran Sungai

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved